Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Neysa Bertemu Iblis


__ADS_3

"Brak! Neysa membanting pintu mobil dengan kasar."


Ana terkejut dengan kedatangan Neysa. Neysa menekuk wajahnya karna kesal. Ana memperhatikan pakaian Neysa yang terkena noda dan sudah melebar kemana-mana.


“Ney, ada apa?"


“Aku barusan bertemu dengan iblis Ana," ucap Neysa geram.


“Iblis? Apa maksudmu Ney?" tanya Ana tak paham.


“Sudahlah Ana, akan kuceritakan setelah ini," ucap Neysa dan kembali menyetir.


Mobil Neysa telah sampai di kost Ana. Dengan perlahan Neysa membopong Ana yang masih sulit berjalan ke dalam kostnya.


“Pelan-pelan Ana," ucap Neysa sembari menidurkan Ana di tempat tidur.


“Aku akan membuatkanmu teh hangat," ucap Neysa.


“Iya terimaksih Ney..."


Neysa menuangkan dua sendok gula kedalam gelas dan teh celup lalu menyeduh air panas dari Dispenser.


Neysa mengaduknya dan mencicipinya agar rasanya pas. Setelah selesai Neysa memberikannya pada Ana dan meminumnya perlahan.


“Ana apakah kita harus ke rumah sakit? Aku takut jika ada apa-apa padamu," ucap Neysa cemas.


“Tidak perlu Ney, ini hanya luka kecil," ucap Ana meyakinkan.


“Ya sudah kalau begitu, aku akan menemanimu sampai besok," ucap Neysa tersenyum.


“Ya terimakasih Ney," ucap Ana lembut.


“Oh ya, apa yang terjadi padamu tadi? Dan kenapa bajumu kotor begitu?"


“Tadi saat mengantri, aku berdebat dengan seorang pria," jawab Neysa sambil melengos.


“Dengan siapa? Apakah kau mengenalnya?"


“Tidak! Aku baru pertama kali bertemu dengannya,"


“Ceritakan lagi dengan lebih detail Ney, agar aku paham," ucap Ana. Dan Neysa pun menceritakannya dari awal hingga akhir.


“Ya ampun Ney, apakah tidak berlebihan kau menyiramnya begitu?" ucap Ana tak percaya.


“Biarkan saja! Pria itu sangat percaya diri Ana! Dia memang tampan dan juga manis, tapi semua itu tak ada artinya karna sikapnya yang menyebalkan itu," ucap Neysa kesal dengan ekspresi lucunya. Ana tertawa melihat wajah kesal sahabatnya itu.


“Hahaha... raut wajahmu itu lucu sekali Ney, kau membencinya tapi kau sempat-sempatnya memuji wajah tampannya."


“Argh! Sudahlah Ana! Jangan tertawakan aku! Dia memang tampan, hanya saja perilakunya sangat buruk!"


Mereka berdua bergurau dan tertawa bersama menghabiskan waktu. Kini Ana dan Neysa terlelap dengan nyenyak karna lelah setelah bercerita panjang lebar. Belum lama sebuah mobil berhenti di depan kost Ana.


Tok... tok... tok! Suara pintu mengetuk pelan. Neysa mebuka matanya dan segera bangun membukakan pintu.

__ADS_1


“Siapa?" tanya Neysa masih setengah sadar.


“Hay... apakah Ana ada?" ucap Jordan ramah. Neysa memperhatikan pria cogan didepannya itu.


"Hakh! mulut Neysa terbuka lebar karna terkejut."


"K-au Jo-rdan!" ucap neysa terbata-bata. Jordan tersenyum ke arah Neysa dan Neysa jadi salah tingkah karnanya. Neysa masih melongo dan tersenyum tak jelas ke arah Jordan.


"Hei!" ucap Jordan sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Neysa yang masih melongo.


“Ah maaf, sedang apa Kk Jordan kesini?"


“Aku hanya ingin bertemu Ana?"


“Oh... Ana sedang tidur, tunggulah diluar. Aku akan membangunkannya," ucap Neysa dan Jordan menunggu di luar.


Neysa memang sengaja tidak mempersilahkan Jordan masuk karna kost Ana yang terlalu sempit dan tidak leluasa jika Jordan berada didalamnya.


“Ana bangun!" ucap Neysa membangunkan Ana. Neysa menggoyang-goyangkan tubuh Ana tapi Ana tak mau bangun.


“Ana! Cepatlah bangun!" ucap Neysa membisikkan ditelinga Ana.


“Emh... ada apa Ney? Aku masih mengantuk," ucap Ana malas.


“Jordan menunggumu diluar!" ucap Neysa dan kembali menggoyang-goyangkan tubuh Ana.


“Biarkan saja. Aku benar-benar tidak bisa membuka mataku," ucap Ana dengan mata yang masih terpejam.


Neysa menggeleng-gelengkan kepalanya. Hampir menyerah membangunkan sahabatnya itu. Dengan terpaksa Neysa mencubit Ana dengan cubitan kecil tapi menyakitkan dan sontak membuat Ana terkejut dan bangun seketika.


“Hehehe... aku memang sengaja melakukannya agar kau cepat bangun Ana," ucap Neysa.


“Iya, iya. Ada apa?" tanya Ana sambil menggaruk-garukkan kepalanya dan menguap dengan lebar.


“Jordan menunggumu di depan!"


“Hah! Benarkah? Untuk apa dia kesini?"


“Mana aku tau! Cepatlah kau temui dia. Kasihan kalau pria tampan itu terlalu lama menunggu."


“Hemh ya, ya baiklah. Aku keluar dulu," ucap Ana dan bangun dari tidurnya.


"Awh! Ana menjerit kesakitan karna ia lupa kalau kakinya masih terasa sakit."


“Ya ampun Ana! Kau tidak apa? Sehausnya aku membopongmu keluar."


“Tidak apa Ney, aku juga lupa dengan kakiku yang masih seperti ini. Dengan ceroboh aku turun dari kasur," ucap Ana sambil meringis menahan sakit.


“Sudahlah aku keluar saja, kau dan Jordan berbicaralah dulu disini," ucap Neysa memberi saran.


“Baiklah, tapi kau akan kembali, kan Ney?" tanya Ana.


“Tentu saja. Bagaimana aku tega meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini," ucap Neysa.

__ADS_1


“Aku juga akan mengambil beberapa baju dirumah, jadi santai saja," imbuh Neysa.


“Ya sudah kalau begitu. Aku tenang sekarang," ucap Ana tersenyum tipis.


“Jaga dirimu baik-baik. Telfon aku jika kau membutuhkan sesuatu."


Dan Ana membalasnya dengan menganggukan kepala. Neysa mengambil kunci mobilnya di atas meja dan berlalu pergi.


Jordan perlahan masuk dan melepas sepatu kets yang ia pakai. Ia begitu terkejut melihat keadaan Ana yang terbaring lemah diatas kasur dengan luka-luka yang ada ditubuhnya.


“Ana? Ada apa denganmu? Kenapa dengan kaki dan wajahmu itu?" ucap Jordan khawatir.


“Oh... tidak apa. Aku hanya terjatuh tadi saat bekerja," ucap Ana berbohong.


“Benarkah? Kenapa sampai separah ini? Dan lihat goresan dipipimu itu sepertinya ini bukan karna terjatuh," ucap Jordan curiga.


“Aku benar-benar terjatuh tadi! Kenapa kau tidak percaya sekali!" ucap Ana tak mau kalah.


“Hemh... aku hanya bertanya, kenapa kau sewot begitu," ucap Jordan.


Ana hanya terdiam tak berani menatap Jordan karna ia sudah berbohong padanya. Ia hanya tidak ingin Jordan terlalu khawati padanya.


“Kau sudah makan?"


“Belum," ucap Ana pelan.


“Ingin makan apa? Aku akan memesannya dari via online."


“Emh... aku ingin ayam pedas," jawab Ana sambil tersenyum.


Entah kenapa Ana merasa senang dengan kehadiran Jordan dan perhatian yang Jordan berikan padanya begitu hangat dan menenangkan. Ia juga merasa tidak canggung saat bersama Jordan ketimbang dengan Morgan atasannya.


Jordan mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membuka aplikasi food market yang tersedia berbagai macam makanan.


“Aku sudah memesannya. Jadi tunggulah sebentar," ucap Jordan.


“Sekarang ceritakan bagaimana kau terjatuh. Aku ingin tau," ucap Jordan.


“Emh... anu... itu... emh," ucap Ana bingung harus berkata apa.


“Kenapa bicaramu seperti itu?" tanya Jordan yang semakin curiga.


“Sudahlah, jangan membahasnya! Kenapa kau harus tau! Tidak semua urusanku harus kau ketahui!" ucap Ana mencari alasan.


“Tentu saja aku harus tau, kita kan teman."


“Siapa juga yang menjadi temanmu!" ucap Ana dingin.


“Wah... kejam sekali ucapanmu!" ucap Jordan tersenyum.


“Lalu apakah kau ingin menjadi pacarku?" goda Jordan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2