Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Perubahan Rencana


__ADS_3

"Tit..... tit....tit! Alarm di ponsel Ana berbunyi."


Ana sulit tidur beberapa hari ini, entah mengapa semenjak ia tau kedatangan Liona ia terus memikirkannya.


Dan sampai saat ini Jordan tidak menghubunginya sama sekali. Padahal ia merasa sudah sangat dekat dengan Jordan.


Ana bangun dari tidurnya dengan malas. Ia berdiri di depan kaca menatap wajahnya yang lusuh.


“Aku bukan siapa-siapa bagi Jordan, sadarlah Ana!" ucap Ana sembari menampar pelan pipinya.


"Bagaimana bisa perasaanmu kacau begini sekarang?! Mana mungkin Jordan mau dengan wanita miskin dan jelek sepertimu?" ucap Ana kesal pada dirinya sendiri.


Ana kembali merebahkan tubuhnya dikasur dengan tatapan kosong menatap langit-langit kamarnya.


“Wanita itu sangat cantik dan terlihat berkelas."


"Tidak sepertiku..." ucapnya kecewa pada dirinya sendiri.


Dengan terpaksa Ana kembali bangun dan bersiap untuk berangkat kerja. Ia berjalan menuju halte dan melihat mobil Jordan disana. Ana mendekati mobil Jordan dan Jordan memberinya pertanda untuk masuk.


“Kau menungguku Jordan?"


“Ya aku menunggumu dari tadi," ucap Jordan sambil tersenyum.


Ana merasa senang akhirnya ia masih sempat bertemu dengan Jordan. Setelah itu mobil Jordan melaju tanpa jejak.


“Ana besok kau ada acara?" tanya Jordan tanpa melihat ke arah Ana karna fokus menyetir.


“Besok aku libur."


“Bagus kalau begitu besok kita akan datang ke kantorku."


“Emh... untuk apa?"


“Kita akan mengubah rencana kontrak kita."


“Tapi, kenapa? Bukankah cara itu yang lebih baik?"


“Tidak! Aku tidak bisa Ana, karna dalam waktu dekat aku akan bertunangan dengan Liona."


Hati Ana terasa retak bagai serpihan yang berjatuhan mendengar kabar itu.


"Ohh... baiklah." ucap Ana kecewa.


Mobil Jordan sampai didepan kantor.


“Besok aku akan menjemputmu jam sembilan pagi."


 


Anapun sgera turun tanpa mengucapkan apapun pada Jordan. Morgan yang kebetulan baru tiba hendak menyapa Ana namun Ana tak menggubrisnya dan melewatinya begitu saja.


Morgan tampak bingung dengan sikap Ana. Lalu ia melihat mobil Jordan dan menatapnya dingin. Jordan pun juga tak menghiraukannya dan pergi bersama mobilnya.


Brak! Ana membanting pintu toilet dengan kasar. Ia menangis tersedu-sedu meratapi kesedihan cintanya yang hanya sebelah tangan.


Sepuluh menit Ana berada di toilet, ia masih ingat kalau ia harus bekerja tidak ada waktu untuk bersedih. Ia membasuh wajahnya agar tidak terlihat sembab.


"Semangat Ana! Hidupmu masih panjang dan ayo kembali ke kehidupan yang dulu," ucap Ana menyemangati dirinya sendiri.


Anapun keluar dari toilet dan Morgan sudah menunggu di depan toilet.


"Hay Ana... sapa Morgan."


Kau habis menangis Ana?" tanya Morgan curiga melihat mata Ana yang masih terlihat sembab.


“Ohh... tidak Pak. Mata saya sedikit sakit jadinya seperti ini," jawab Ana tersenyum.

__ADS_1


“Bapak ada perlu dengan saya?" tanya Ana mengalihkan topik pembicaraan.


“Ohh ya, ini untukmu," ucap Morgan sambil menyodorkan kotak makan siang.


“Apa ini pak?" tanya Ana bingung.


“Makanlah saat makan siang nanti dan aku juga memasukkan beberapa vitamin didalamnya."


“Maaf Pak tapi saya tidak bisa menerima ini."


“Aku akan sangat marah jika kau menolaknya Ana."


“Baiklah saya akan menerimanya tapi lain kali saya tidak mau merepotkan Bapak."


“Aku tidak merasa direpotkan Ana, jadi tolong jangan terlalu sungkan padaku."


“Tapi saya tidak enak hati jika karyawan lain tau."


“Biar saja, aku tidak peduli," ucap Morgan tersenyum.


“Daaann! Aku juga ingin tahu jawabanmu tentang pengakuanku beberapa hari lalu Ana."


Ana bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Ana tak punya perasaan apapun pada Morgan. Di sisi lain Morgan begitu baik dan perhatian padanya ia tak mau membuatnya kecewa.


Dengan sangat kebetulan Neysa melintas dan Ana mempunyai cara untuk kabur dari Morgan.


Neysa! Teriak Ana dan neysa pun menoleh.


Ana berlari kecil dan segera menarik tangan Neysa paksa dan meninggalkan Morgan. Morgan tertawa melihat tingkah Ana yang mencoba menghindar darinya.


Mungkin ia harus menunggu dengan sabar jawaban dari Ana. Ia pun berjalan menuju Lift dengan santai.


*****


Di Apartemen Jordan menuangkan segelas wine ke dalam gelas dan meneguknya perlahan. Ia menatap pemandangan kota dari jendela besarnya.


"Apakah keputusan yang ia ambil sudah benar? Lalu setelah masalah ini selesai apakah masih bisa bertemu dengan Ana? Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya sekarang."


Tapi, ia tidak bisa bersama dengan Ana karna ini sangat tidak adil bagi Liona.


"Tidakk! Aku tidak ingin menghianati Liona!" tegas Jordan pada dirinya sendiri.


Jordan meraih ponselnya dari saku celananya. Ia membuka galeri mencari foto saat-saat kebersamaannya dengan Ana.


Baru beberapa hari lalu kami masih dekat kini keadaan menyimpang tanpa dugaan.


"Ini semua salahku, maafkan aku Ana," ucap Jordan sambil menghapus semua foto Ana dari ponselnya.


Ting... tung...! Suara bel pintu berbunyi. Jordan memang sudah menunggu tamunya dari tadi Ia pun segera membukakan pintu.


"Hei, bro!" sapa Niko dengan ceria.


“Masuklah."


“Ada apa? Kau mengundangku begitu tiba-tiba, bukan karna ada masalahkan?" tanya Niko.


Jordan duduk di sofanya dan diikuti dengan Niko.


“Aku akan bertunangan dalam waktu dekat," ucap Jordan.


“Apa? Secepat itu, kah?" tanya Niko terkejut.


“Liona sangat marah karna masalah ini, jadi aku memutuskan untuk segera menuntaskannya."


“Baiklah aku mengerti, tapi beri aku waktu untuk membicarakannya pada kepala agensi."


“Ya, selesaikan itu dalam waktu tiga hari tidak boleh lebih!"

__ADS_1


“Yaa tentu."


Tit... tit... tit... tit. Seseorang membuka kata sandi pintu apartemen Jordan.


“Sayang ada tamu ya?" ucap seseorang itu yang tak lain adalah Liona.


Lionapun masuk menuju ruang tamu.


“Hai Niko apa kabar?" sapa Liona yang mengetahui kedatangan Niko.


“Oh Liona! Kabarku sangat baik. Wah, kau semakin cantik sekarang," puji Niko.


“Hahaha... tentu saja aku harus cantik biar sahabatmu itu tidak melirik wanita lain," goda Liona sambil menatap ke arah Jordan.


“Hahaha... sifatmu itu tidak berubah Liona."


“Tentu saja, aku masih Liona yang kau kenal dulu."


“Yaa benar, kau masih ceria dan begitu hangat. Baiklah aku akan pamit dulu karna kami sudah selesai bicara."


“Loh tunggu dulu. Kenapa buru-buru begitu? Aku sudah membawakan masakan untuk makan siang ayo kita makan dulu."


“Oke aku setuju!"


“Kalau begitu, aku akan siapkan dimeja makan tunggulah sebentar lagi," ucap Liona dan pergi menuju dapur.


“Aku masih terpaku dengan kecantikan Liona, kenapa dia bisa cantik begitu? Apakah Liona tidak ingin jadi aktris lagi? Pasti akan banyak agensi yang mengiginkannya," ucap Niko.


Jordan melemparkan kotak tisu yang tepat berada didepannya ke arah Niko. Dengan sergap Niko berhasil menangkapnya.


“Hehehe... aku hanya ingin tau broo! Siapa tau Liona memang mau, maka aku akan pindah menjadi manager Liona saja!" ejek Niko.


“Tidak akan kubiarkan omonganmu tadi terjadi!"


Ia pun berdiri hendak menghajar sahabatnya itu agar tidak terlalu banyak bicara. Nikopun berlari menghindari serangan Jordan.


Ting... tung! Suara bel berbunyi kesekian kali.


“Siapa itu? Kau mengundang seseorang selain aku?"


“Tidak. Mungkin kurir pengantar barang," tebak Jordan.


Ting... tung... ting... tung! Bel kembali berbunyi.


“Siapa itu?" tanya Liona yang sudah selesai menata makanannya.


“Entahlah, aku akan membukanya."


“Eitz...! Tunggu disini aku yang akan membukanya."


Liona pun pergi membukakan pintu dan seorang gadis berdiri dihadapan Liona.


“Kamu siapa?" tanya Liona.


“Saya teman Jordan," ucapnya tanpa menyebutkan nama.


“Teman? Setauku Jordan tidak punya teman perempuan?" tanya Liona curiga.


Namun gadis itu hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.


“Hemh... baiklah kau boleh masuk," ucap Liona dan gadis itu pun masuk.


“Siaapaa sayang?" tanya Jordan.


“Entahlah dia bilang temanmu."


“Hai Jordan," ucap gadis itu yang ternyata adalah Ana.

__ADS_1


Jordan begitu terkejut melihat Ana yang datang tak terduga.


__ADS_2