Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Penagihan Hutang Tak Terduga


__ADS_3

Ana menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tak berani menatap ataupun menjawab. Situasi macam apa ini? Kedatangan Morgan membuatnya terpojok tak tau harus apa.


“Ana ikut denganku sebentar.”


Morgan tetap bersikeras meski Ana menolak kedatangannya. Morgan menarik tangan Ana menuju mobilnya.


Bugh! Satu pukulan melayang tepat mengenai wajah Morgan.


“Sia**lan kau Morgan! Beraninya kau menyentuh Ana!” ucap Jordan geram.


Morgan terhempas dan ambruk begitu saja. Ana terkejut dan segera mencengkram tangan Jordan sekuat tenaga berusaha melerai peperangan yang akan terjadi. Morgan segera bangkit dan tersenyum getir sembari menatap Jordan dengan sorot matanya yang tajam.


“Pergilah Morgan! Aku mohon pergi dari sini!” teriak Ana.


Morgan tersenyum kecut.”Aku tidak akan pergi sebelum bicara denganmu Ana.”


“Cih! Apa kau tidak punya malu bertemu pacar orang lain di depan pacarnya sendiri!” ucap Jordan kesal.


“Malu katamu? Katakan itu pada dirimu sendiri!” ucap Morgan penuh penekanan.


Morgan merasakan nyeri di area pipinya yang membengkak. Jordan masih berada di tempat aman dimana Ana masih mencekram tangannya dengan kuat. Morgan tersenyum getir. Jordan semakin terpancing emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.


“Aku kasihan padamu Morgan! Tapi aku sangat menikmati melihatmu seperti ini!


Kata-kata yang dilontarkan Jordan terasa menghantam keras harga dirinya yang semakin diinjak-injak. Morgan mengepalkan tangannya, tersulut api emosi yang akan meledak sebentar lagi.


“Hentikan! Apa kalian sedang tidak waras! Tidak bisakah jangan seperti ini di depanku! Kalau kalian masih mau melanjutkannya, aku tidak peduli lagi!” ucap Ana menggebu-gebu. Ana memutar tubuhnya dan langsung masuk ke dalam kost mengabaikan dua orang pria yang masih berdiri kaku tanpa ekpresi.


Morgan dan Jordan saling bersitatap, serangan panik melanda kedua pria itu.


Sepertinya Ana benar-benar marah, sebaiknya aku pergi saja dari pada membuat Ana semakin jengah. Begitulah pemikiran kedua pria itu. Tanpa menunggu aba-aba mereka membalikkan tubuhnya dan masuk kedalam mobil. Emosi yang tiba-tiba tenggelam begitu saja membuat mereka berhasil melerai peperangan mereka sendiri.


Ana mengintip dari balik jendela, tidak ada lagi para pria yang menjengkelkan itu. Sepertinya suasana sudah damai dan membuat Ana merasa lega.


“Syukurlah mereka sudah pergi.”


Dipagi hari Ana melakukan rutinitasnya seperti biasa. Kini ia sedang melakukan tugasnya sebagai pekerja. Selesai membersihkan kaca di seluruh ruangan Ana memutuskan untuk istirahat melepas lelah luar biasa. Bayangkan saja membersihkan ratusan kaca di perusahaan sebesar ini cukup menguras tenaganya.

__ADS_1


 Ana masuk ke ruang tangga darurat dan duduk meluruskan kakinya. Menyandarkan kepalanya di dinding sembari menatap langit-langit dengan pencahayaan remang. Tempat ini selalu sepi karna jarang ada karyawan yang menaiki tangga. Tempat ini menjadi tempat bedrest area yang nyaman bagi Ana.


Ceklek! Pintu terbuka. Ana langsung terkesiap mengetahui ada seseorang yang datang.


“Ana sedang apa disini?”


Morgan sengaja masuk karna ia sempat berpapasan namun Ana tak menyadarinya. Menurutnya ini kesempatan yang bagus untuk berbicara dengan tenang bersama Ana.


“Saya yang seharusnya bertanya, kenapa Bapak disini? Bapak mengikuti saya?”


“Aku tidak mengikutimu, kebetulan saja kita berpapasan disini.”


Ana tersenyum kecut.”Cih! Bapak pikir saya akan percaya?”


Ana membuang muka, ia sengaja bertindak kasar agar Morgan menjauh darinya. Ia tidak ingin memberikan kesempatan apapun pada Morgan agar Morgan tak merasa kecewa lebih dalam. Ia sudah merasa sangat bersalah karna membiarkan Morgan berharap besar padanya. Ia merasa tak pantas dicintai seperti ini setelah semua perlakuan baik yang ia terima selama ini. Ana melangkah menuju pintu keluar namun Morgan menghadangnya.


“Tunggu Ana, ada yang ingin aku katakan. Sebentar saja kumohon.”


Ana menggelengkan kepala.”Tidak Pak, saya tidak bisa. Tolong biarkan saya pergi.”


Ana menghela napas berat. Menghindarinya adalah cara yang salah. Dengan pasrah Ana menatap Morgan dengan perasaan nanar. Kenapa bisa pria hebat sepertimu mencintai diriku yang rendah ini.


“Baiklah, apa yang ingin Bapak katakan?”


“Aku hanya ingin kau tidak menghidariku Ana. Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dan Jordan lagi, tapi aku mohon kita bisa seperti dulu hanya sebagai teman.”


Ana mengernyitkan dahinya.”Maaf Pak saya tidak bisa. Karna bagaimanapun saya harus menjaga perasaan Jordan.”


“Jordan pasti tidak akan suka jika saya melakukan apa yang Bapak minta. Sekali lagi saya minta maaf,”imbuhnya.


Morgan terdiam,tak percaya dengan apa yang ia dengar. Perasaan kecewa dan marah kembali menerpa membuat gumpalan kekecewaan itu meluap. Morgan mengepalkan tangannya menahan diri.


“Kalau begitu aku akan menggunakan cara lain agar kau tidak menolakku lagi.”


Ana mengernyit tak paham dengan perkataan Morgan.


“Apa maksud Bapak?”

__ADS_1


“Sepertinya kau belum tau tentang hutang yang sudah aku lunasi secara sukarela padamu.”


Morgan menyeringai. Terpancar aura jahat dibalik sorot matanya. Ana seperti mendapat serangan panik yang tak mengira Morgan akan mengungkitnya. Dan bodohnya ia juga lupa akan hal itu tanpa rasa malu bersikap sok acuh pada Morgan. Ana kelimpungan tak bisa berkata-kata.


“Emh... itu, sebenarnya saya ingin membahasnya tapi saya juga lupa akan hal itu,” ucap Ana gugup tersenyum malu.


“Sebenarnya aku tak ingin mengungkitnya Ana, tapi tak kusangka ini bisa menjadi senjata disaat yang tepat,” ucap Morgan penuh penekanan.


Seperti mendapat angin segar. Morgan tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Ana yang gelagapan tak bisa membantah.


“Saya akan melunasinya, tolong beri saya waktu.”


Morgan mengangguk.”Tentu aku akan memberimu waktu selama yang kau mau.”


Morgan kembali tersenyum. Rasa kemenangan tak bisa menutupi wajahnya saat ini. Didalam hati ia merasa bangga dengan dirinya sendiri. Kau sangat pintar Morgan. Aku salut padamu.Begitulah ungkapan dirinya didalam hati.


“Kalau begitu saya permisi dulu.”


Morgan menjauh dari pintu memberi jalan pada Ana.


“Kenapa kau bodoh sekali Ana! Kenapa bisa lupa seperti ini! Dasar tak tau malu!” umpatnya kesal didalam hati.


Ana segera menjauh dari posisi Morgan agar Morgan tak mengetahui ekspresinya saat ini. Ana mencari tempat sembunyi teraman yaitu toilet. Ana menatap dirinya didepan cermin lalu memukul kepalanya berkali-kali menyesali sikapnya sendiri.


“Padahal aku sudah bersiap akan resign dari perusahaan ini. Argh! Sekarang harus bagaimana!”


Ana menjambak rambutnya yang terikat, berjalan mondar-mandir kebingungan mencari titik penyelesaian. Langkahnya terhenti mendapatkan lampu kuning yang berada tepat di kepalanya.


“Sebaiknya pinjam Neysa saja, dia pasti membantuku. Tapi nominalnya sangat banyak Neysa pasti akan kesulitan jika aku meminjam uang sebanyak itu. Ana menundukkan kepalanya berpikir kalau itu bukan ide yang bagus. Lalu terbesit nama Jordan dikepalanya


“Bagaimana jika meminjamnya dari Jordan?”


Ana menggelengkan kepalanya.”Tidak tidak! Memalukan sekali jika harus meminjamnya disaat kami baru bersama beberapa minggu.”


Ana kembali mondar-mandir sembari melipatkan tangannya ke depan dada berpikir keras.


“Sepertinya aku memang harus meminta bantuan Jordan.”

__ADS_1


__ADS_2