Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Morgan Melunasi Hutangku


__ADS_3

“Kau sangat cantik bahkan ketika marah. Tapi tetap saja Ana lebih menarik darimu.”


“Cih! Kau dan Jordan sama bodohnya karna menyukai wanita seperti Ana! Aku tidak akan tinggal diam! Sebaiknya kau jaga baik-baik wanita yang kau sukai itu.


Liona beranjak dari tempat duduknya. Kakinya melangkah dengan cepat menahan emosi yang ia pendam dan akan meledak kapan saja. Ingin rasanya ia melempar semua barang membuatnya hancur lebur demi melampiaskan emosinya. Tapi ia sadar kalau tidak mungkin ia melakukannya disini. Liona mencoba sekuat tenaga meredakan emosinya. Liona mengendarai mobilnya dengan kecepatan 200 km/per jam. Ia sama sekali tak mengkhawatirkan keselamatannya sendiri.


****


Sesampainya di apartemen, Liona langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ditatapnya langit-langit kamarnya dengan mata kosong. Liona meratapi kesedihannya. Ia melihat foto Jordan dan dia berpelukan dengan mesra yang ia pajang di samping tempat tidurnya. Foto itu ia dapatkan 4 tahun lalu dimana hubungan kami masih sangat baik. Mungkin ini hukuman untuknya karna membuat Jordan menunggu dirinya terlalu lama.


“Kenapa kau jahat sekali Jordan? Aku sudah memberikan semuanya untukmu,” gumamnya.


“Mana mungkin aku bisa melepaskanmu begitu saja.”


“Kau milikku Jordan! Karna wanita sialan itu Jordan berani mengkhianatiku!”


“Tunggu pembalasanku Ana! Aku akan membuatmu menyesal!”


Liona semakin geram dan ingin melakukan apa saja demi mendapatkan Jordan kembali. Ia tak akan membiarkan Ana merebut apa yang ia punya. Liona meraih ponselnya di dalam tas. Ia ingin Jordan datang ke apartemennya sekarang. Berulang kali ia menelpon Jordan tapi Jordan tak mau mengangkatnya. Apa yang sebenarnya ia lakukan sekarang? Mungkinkah ia sedang bekerja atau malah bersama wanita itu. Amarah Liona semakin memuncak. Ia melempar ponselnya ke lantai sampai casing dan batrai ponsel itu berhamburan kemana-kemana.


****


Ana menatap kertas kosongnya. Ia berencana menulis surat pengunduran diri yang akan ia serahkan besok. Tapi ia masih ragu dengan keputusan yang ia buat. Setelah keluar dari perusahaan Morgan ia tak tahu harus bekerja apa. Mencari pekerjaan sangatlah sulit. Ia tidak mungkin mendapatkan pekerjaan lain sebaik di perusahaan Morgan. Dan tidak mungkin juga jika ia harus tetap bekerja disana. Ana tak mau memikirkan terlalu banyak hal. Ia berusaha memantapkan hatinya dan bersiap untuk apapun yang akan terjadi besok. Ana mulai menulis kata demi kata.


Kota S, 8 Oktober 2020


Kepada


Yth. Pimpinan PT.Mandala Internasional


Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama: Beverly Juliana Pricilla


Alamat: Jln.xxxxxx


Jabatan: CS girl


Dengan adanya surat ini, saya bertujuan untuk mengajukan permohonan pengunduran diri dari jabatan di perusahaan Bapak/Ibu. Sebelumnya saya juga mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena sudah diberikan kesempatan untuk belajar dan bekerja dengan profesional. Saya juga mengucapkan terimakasih atas bimbingan yang selama ini telah diberikan baik secara tidak langsung ataupun secara langsung.


Saya memohon maaf sebesar-besarnya karena tidak lagi menjadi bagian dalam perusahaan yang anda pimpin. Demikian surat pengunduran diri ini saya buat dengan penuh kesadaran serta atas keinginan sendiri dan tanpa ada paksaan dari siapa pun.


hormat saya,


 


Beverly Juliana Pricilla

__ADS_1


 


Ana melipat surat yang sudah ia buat dan memasukkannya ke dalam amplop coklat. Kini keheningan kembali menemaninya seperti malam sebelumnya. Biasanya jika ia sedang jenuh dan mendapatkan masalah, ia selalu menemui Neysa dan berbagi beban yang kami rasakan. Lagi-lagi sosok Neysa masuk dalam pikirannya. Kami baru beberapa hari tidak saling menyapa tapi seperti bertahun-tahun  lamanya ia rasakan. Ana memutuskan pergi ke minimarket yang tak jauh dari kostnya untuk mencari beberapa persedian yang habis. Ia memakai baju seadanya dan berjalan dengan santai. Saat sampai di minimarket Ana segera mencari barang yang ia perlukan dan memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah selesai Ana menuju kasir untuk membayar.


“Selamat malam Kak! Sapa petugas toko.”


Ana tersenyum. “Iya selamat malam.”


“Jumlah semua item ada 10 ya Kak... jadi total pembelanjaan Seratus Lima Puluh Ribu.”


Ana mengangguk dan merogoh saku bajunya. Namun di saku bajunya tak ada apapun di dalamnya.  Ana panik dan merogoh kembali semua saku baju dan celananya. Ia tersadar kalau ia lupa tidak membawa uang sepeserpun.


“Biar saya yang bayar.”


Seseorang tiba-tiba datang dan membayar barang yang Ana beli. Ana tak menyangka bisa bertemu dengan Neysa secara kebetulan. Tapi Neysa masih bersikap dingin padanya dan langsung pergi setelah selesai membayar.


“Ney tunggu!”


Neysa menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ada apa?”


“Kenapa kau tiba-tiba disini? Minimarket ini jauh dari rumahmu. Apa kau mencariku?”


Neysa menghela napas.”Buat apa aku mencarimu? Aku baru saja dari rumah teman sekantorku yang rumahnya berada di sekitar sini.”


Ana merasa kecewa.”Oh begitu... Baiklah aku pergi dulu.”


“Apa kau baik-baik saja Ana?”


Ana tertegun dan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Kau barusan bicara padaku Ney?”


Neysa mengangguk.”Ya... aku khawatir padamu.”


Ana tersenyum senang dan hampir menangis karna terharu. Ia berlari kecil ke arah Neysa.


“Kau sudah tidak marah padaku?”


“Tentu saja aku masih marah, tapi aku sangat merindukanmu.”


Ana tersenyum dan memeluk Neysa.”Aku minta maaf Ney, aku mohon maafkan aku.”


Neysa mengangguk dan mengelus pelan punggung Ana.“Aku juga minta maaf Ana, karna terlalu keras padamu.”


Ana dan Neysa kini merasa lega karna rasa kebencian dan bersalah sudah pupus diantara mereka. Neysa memutuskan untuk menginap di kost Ana. Ia  ingin mendengar apa yang terjadi sebenarnya.


“Ini apa Ana?”

__ADS_1


Neysa penasaran sejak pertama masuk dengan amplop bewarna coklat yang tergeletak dia atas meja.


“Oh... itu surat pengunduran diri yang akan aku serahkan besok.”


“Apa?! Kau ingin berhenti kerja?”


Neysa begitu terkejut dengan apa yang ia dengar. Mengapa tiba-tiba Ana memutuskan untuk berhenti kerja. Padahal ia bekerja untuk melunasi hutang piutang mediang orang tuanya.


“Iya... aku merasa tak enak pada Morgan dan Jordan.”


Ana duduk di atas kasur berdampingan dengan Neysa.


“Lalu setelah ini kau kerja apa? Bukankah hutangmu masih menumpuk? Kau tidak takut kalau Arno rentenir itu menyiksamu lagi?


Ana terdiam, ia baru teringat kalau sudah dua bulan ini Arno si preman rentenir tidak datang padanya untuk menagih hutang seperti biasa.


“Aku baru ingat Ney, kalau Arno tidak pernah kesini selama dua bulan. Sepertinya ada yang aneh.”


“Aneh bagaimana? Mungkin saja dia lupa dengan hutangmu. Bukankah itu berita baik Ana?”


“Itu tidak mungkin. Aku harus menelponnya dan bertanya.”


Ana segera mencari ponselnya dan menghubungi Arno.


“Halo, ini aku Ana.”


“Hay gadis cantik. Tumben sekali kau menghubungiku. Apa kau mau meminjam uangku lagi?”


“Aku akan memberikannya berapa pun yang kau mau,” imbuhnya.


“Apa maksudmu?” tanya Ana bingung.


“Hutangmu sudah lunas. Jika kau ingin meminjamnya lagi aku akan senang hati memberimu pinjaman hahaha...”


“Lunas? Bagaimana bisa? Cepat jelaskan padaku!”


“Seorang pria kaya melunasi semua hutangmu beserta bunganya.”


“Pria kaya? Siapa maksudmu?”


“Kalau tidak salah ingat, ia menyebut namanya adalah Morgan. Dia bilang dia atasanmu.”


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2