Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Ombak Yang Kokoh


__ADS_3

Jordan berdiri tertatih. Menggertakkan giginya dengan tatapan matanya terpancar api emosi yang menggebu-gebu. Satu pukulan ia  layangkan tapi Morgan berhasil menghindar.


“Breng**k kau Morgan!”umpat Jordan geram.


“Kau lebih breng**k dariku Jordan! Aku tau kau menyukai Ana! Padahal kau sudah memilik Liona dan aku tidak akan membiarkan kau menyakitinya!”


“Cih! Menjaga keluargamu sendiri saja kau tidak becus! Dan kau mau sok pahlawan pada Ana! Tidakkah kau sadar diri? Hah?!”ucap Jordan dengan nada tinggi.


Bugh! Satu pukulan mendarat lagi untuk yang kedua kalinya,tapi Jordan bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


“Bicaralah yang sopan selagi aku masih bersabar!” ucap Morgan kesal.


“Pukul aku lagi! Pukul aku sampai mati agar kau puas!” ucap Jordan dengan mata melotot.


“Tentu! Jika itu yang kau mau! Tapi aku masih memberimu kesempatan jika kau menjauh dari Ana!”


“Kau kira aku akan menuruti kemauanmu?” ucap Jordan tersenyum kecut.


“Aku akan membuat hidupmu hancur!" ancam Morgan.


“Benarkah? Bisakah kau melakukan itu? Aku ingin tau!"


“Silahkan saja! Jika kau sangat penasaran, aku akan melakukan apapun agar kau menjauhi Ana!" ucap Morgan dan berbalik pergi.


“Kau tau bahwa kau lebih biad**p dari seekor hewan! Setidaknya para hewan bisa melindungi keluarganya, tapi kau malah tega menghancurkan hidup adikmu sendiri!"


Langkah Morgan terhenti dan kembali berjalan ke arah Jordan.


“Aku tidak mempunyai adik sepertimu! Jadi jangan membawa nama keluarga disini."


“Oh ya? Meski kau tidak menganggapku adik, tapi tak bisa dipungkiri kita masih satu darah sampai kapan pun!"


Morgan tak menggubris perkataan Jordan meski terdengar pilu dan tetap pergi meninggalkan Jordan yang diam terpaku dengan perasaan kecewa.


Kejadian 10 tahun silam dimana keretakan keluarga mereka dimulai karna perebutan harta dan tahta yang menjadikan Morgan gelap mata seperti sekarang ini.


Jordan berjalan pelan melewati tepi pantai dengan ombak yang saling menghantam keras! Namun tetap kokoh meski terombang-ambing tak terarah. Kiasan itu menjadi cerminan bagi Jordan dikeadaannya saat ini.


Meski selalu disakiti dan tak dihargai namun tak menjadikannya kepribadian yang buruk dan malah membuatnya semakin kuat dan kuat. Itulah perbedaan dan keistimewaan antara Jordan dan Morgan.


Keesokan harinya, Ana masih terbaring di tempat tidurnya. Terlihat Neysa yang setia menemaninya tertidur lelap tak bersuara.


Ia mencoba bangun sekuat tenaga mencoba meraih gelas berisi air putih yang berada tak jauh dari tempat tidurnya untuk menghilangkan rasa dahaganya.


Pyar! Gelas itu terjatuh menjadi pecahan kaca yang tak utuh.


Sontak Neysa terkejut dan segera bangun dari tempat tidurnya. Ia menoleh kesamping kirinya melihat sahabatnya itu mengambil satu persatu pecahan kaca yang berceceran.


“Ana, sedang apa kau?”


“Aku membangunkanmu ya Ney?”


“Tak apa. Menyingkirlah dari situ, biar aku yang membersihkannya” ucap Neysa dan beranjak bangun.


Ana pun berdiri dan menyingkir. Ia kembali mengambil gelas dan mengisinya dengan air.

__ADS_1


“Ney... sebaiknya kau pulang saja, aku sudah lebih baik sekarang."


“Bagaimana bisa aku tega meninggalkanmu jika memegang gelas saja masih terjatuh."


“Aku akan pergi setelah kau benar-benar sembuh Ana, jadi jangan mengusirku."


“Tapi Ney... aku tau kau sibuk dan aku bisa mengurus diriku sendiri."


“Bagiku, kau lebih penting dari apapun Ana."


“Jangan pernah merasa tak enak atau merepotkan padaku. Kita sudah seperti keluarga jadi jangan sungkan,” imbuh Neysa.


“Terimakasih Ney. Aku tak tau apa jadinya kalau kau tidak ada."


Brum...! Sebuah mobil berhenti di depan kost Ana. Neysa segera keluar di ikuti Ana yang juga penasaran siapa gerangan yang datang bertamu.


“Mobil siapa itu Ana? Aku tidak pernah melihatnya."


“Entahlah, itu bukan Morgan dan juga Jordan, aku juga  tak tau siapa pemiliknya."


Rasa penasaran mereka terjawab saat seorang laki-laki keluar dari mobilnya dengan membawa bingkisan buah ditangannya.


“Dia iblis!”


“Apa maksudmu Ney?”tanya Ana bingung.


“Dia iblis yang pernah bertemu denganku di cafe waktu itu!"


“Hay Ana,” sapa Niko.


“Kau mengenalnya Ana?” tanya Neysa.


“Ya Ney, dia adalah Manager Jordan. Niko namanya,” jawab Ana.


“Tunggu,sepertinya aku pernah bertemu denganmu?” ucap Niko mengingat-ingat.


“Hahaha,pria breng**k ini mengingatku ternyata!” ucap Neysa ketus.


“Apa? Pria breng**k katamu! Ana kenapa kau mempunyai teman seperti dia?” ucap Niko kesal.


“Memangnya kenapa denganku? Aku lebih baik darimu! Dasar breng**k!” umpat Neysa.


“Hey, jaga bicaramu Nona!" ucap Niko yang mulai terpancing emosi.


“Sudahlah Neysa, biarkan dia masuk dan menjelaskan."


Niko pun masuk dan menatap tajam ke arah Neysa yang juga menatap sinis padanya.


“Ney... bisakah kau buatkan secangkir teh hangat untuk Niko?”


“Tidak mau!”


“Baiklah, biar aku saja yang membuatnya."


“Tak perlu repot-repot Ana. Aku hanya sebentar disini, karna ada suatu hal penting yang ingin kusampaikan,” ucap Niko.

__ADS_1


“Hal penting? Tentang apa?”


“Tentang konten antara kau dan Jordan."


“Ohh...benar juga. Kita sudah membuat janji beberapa hari yang lalu, tapi karna aku tertimpa musibah jadi selalu terundur."


“Aku minta maaf karna harus mengatakan ini Ana, tapi aku tetap akan mengatakannya."


“Apa maksudmu Niko?”


“Bisakah kau ikut denganku sekarang?"


“Kemana? Dan kenapa seperti ada hal yang mendesak?” tanya Ana cemas.


“Ya, ini memang sangat mendesak."


“Ini tentang Liona, dia sekarang berada di rumah sakit karna mencoba bunuh diri."


“Apa? Kenapa seperti itu?” tanya Ana terkejut.


“Setelah pulang dari pantai, Liona sangat stres dan terus menangis."


"Dia memberitahuku, kalau Jordan menyimpan perasaan padamu! Dan dia juga sempat mendengar pembicaraan kalian kalau Jordan ingin kau menjadi pacarnya, ditambah lagi saat berusaha menolongmu, Jordan...."


“Sudah cukup!” ucap Ana menghentikan penjelasan Niko.


“Aku mengerti jadi apa yang harus kulakukan?”


“Hari ini juga Liona ingin kau dan Jordan segera membuat konten penjelasan agar kau sudah tak berhubungan lagi dengan Jordan."


“Hari ini? Apakah matamu buta? Dia masih sakit seperti ini dan kau tega menyuruhnya kesana-kemari? Tidak! Aku tidak memberimu izin,” ucap Neysa emosi.


“Aku minta maaf, tapi ini sudah menyangkut nyawa orang lain! Jika tidak dilakukan sekarang Liona akan mencoba bunuh diri lagi, tidak bisakah kau mengerti?” jelas Niko.


“Terserah apa katamu! Tapi aku tidak akan membiarkan Ana pergi!”


“Aku hanya mendengar jawaban dari Ana,bukan darimu!” ucap Niko ketus.


“Ana apa pendapatmu?”


“Emh... aku akan ikut."


“Tidak Ana! Kau tidak boleh pergi,” ucap Neysa.


“Ney, aku juga ingin masalah ini cepat selesai dan aku mengerti kau khawatir padaku tapi masalah ini lebih penting. Jadi aku mohon kau bisa mendukungku."


“Tapi..."


“Aku mohon Ney,” ucap Ana tersenyum agar sahabatnya itu tidak merasa cemas.


“Ya, baiklah kalau itu maumu."


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2