
"Ana!" panggil Morgan.
Neysa menoleh ke belakang dan terkejut.
"Bukankah Ana tadi bilang tidak ingin bertemu Morgan? Lalu kenapa dia keluar?" batin Neysa.
"Mari kita bicara di luar Pak." ajak Ana.
Ana melangkah keluar meninggalkan Neysa yang masih merasa heran. Ana tersenyum kecil kepada Neysa menandakan bahwa ia akan baik-baik saja. Neysa menghela napas berat. Merasa cemas dengan sahabatnya itu.
Morgan berjalan selangkah lebih depan dan membuka pintu mobil untuk Ana. Morgan tersenyum lembut namun Ana tak merespon dan langsung masuk ke dalam mobil diikuti dengan Morgan.
"Ana bagaimana keadaan sekarang? Apa kau baik-baik saja?" tanya Morgan membuka pembicaraan.
"Ya Pak saya baik-baik saja. Tidak perlu khawatir." jawab Ana datar.
"Benarkah kau baik-baik saja? Sepertinya tidak." sanggah Morgan.
Morgan menatap Ana yang sedang menundukkan kepalanya dengan raut wajah sendu.
"Ada perlu apa Bapak mencari saya?"
Ana langsung mengganti topik pembicaraan karna tak ingin membahasnya dengan Morgan dan tak ingin Morgan ikut campur urusan pribadinya.
"Tentu saja karna aku merindukanmu Ana. Aku sempat membaca postingan tentang Jordan dan Liona yang juga melibatkan dirimu. Jadi aku merasa kau pasti berada di situasi yang sulit sekarang. Mangkanya aku berusaha mencarimu kemana-mana."
Ana tidak bergeming dan masih di posisi yang sama sembari meremas jemarinya.
"Ana, tidak bisakah kau meninggalkan Jordan? Mau sampai kapan kau bertahan seperti ini? Tidakkah kau lelah? Apakah kau bahagia bersama Jordan? Jawab Ana!"
Ana menggigit bibir bawahnya. Mendesah kesal dan menatap Morgan dengan emosi yang meluap.
"Bisakah Bapak tidak ikut campur! Ini urusan pribadi saya! Jadi tolong jangan menjadi api diantara kami! Bahagia atau tidak itu adalah urusan saya!" ketus Ana.
"Ya aku tahu. Aku hanya ingin kau membuka pemikiranmu Ana. Hubungan kalian dari awal adalah sebuah kesalahan. Aku ingin kau sadar dan juga lekas lepas dari semua masalah tentang hubungan kalian berdua. Apakah aku salah?"
"Bisakah Bapak melupakan saya?"
"Apa?"
"Tolong lupakan perasaan Bapak kepada saya." tegas Ana.
__ADS_1
Morgan terdiam tak bisa berkata-kata. Memalingkan wajahnya dan tersenyum kecut.
"Kenapa aku harus melupakanmu Ana. Perasaanku padamu tidaklah salah."
"Tentu saja salah. Bapak dan Jordan adalah saudara kandung. Bagaimana bisa kalian menyukai perempuan yang sama. Setidaknya Bapak harus mengalah sebagai seorang Kakak."
"Cih! Aku tidak menganggap dia adikku sepuluh tahun yang lalu. Jadi jangan menyeret nama keluarga disini. Aku tidak akan menyerah Ana. Aku akan terus mengejarmu."
Morgan dan Ana saling tatap. Ana kalah dalam pertempuran kali ini. Tak banyak bicara Ana pun membuka pintu mobil dan keluar tanpa sepatah kata.
"Kau sudah membuatku tergila-gila Ana. Mana mungkin aku melepasmu begitu saja. Aku ingin kau menjadi milikku." gumam Morgan.
Morgan pun menyalakan mesin mobilnya dan berlalu pergi. Ana baru masuk ke dalam rumah langsung dihampiri Neysa yang sudah sangat amat penasaran.
"Ana apa yang kalian bicarakan tadi? Bolehkah aku tahu? Ayo cerita aku sangat penasaran!" desak Neysa.
Ana duduk di kursi diikuti dengan Neysa.
"Dia bilang hanya ingin bertemu denganku tidak ada yang lain." jelas Ana.
"Benarkah? Sepenting itukah dirimu sampai Tuan Morgan yang agung itu mencarimu sampai kesini?" tanya Neysa yang masih tak percaya.
Ana mengangguk sembari menyeruput cangkir coklat panasnya.
"Emh... Morgan bilang aku harus meninggalkan Jordan." jawab Ana datar.
"Meninggalkan Jordan? Itu ide bagus."
Ana melotot pada Neysa karna perkataannya yang tidak sengaja terucap begitu saja.
"Ehh... maksudku itu tidak mungkin. Hehe aku salah ucap maaf."
Ana menghela napas berat. Dadanya terasa sesak karna perasaannya yang takut dan cemas.
"Kita makan dulu yuk... kita makan menu andalan. Gimana mau gak?"
"Menu andalan? Emang apa Ney?"
"Mie instan hehe." ucap Neysa terkekeh.
"Ya udahlah ayo kita masak dulu."
__ADS_1
****
Satu Minggu kemudian,
Jordan melangkahkan kakinya di bandara internasional pada pukul 00.30 pagi. Ia sengaja mengambil penerbangan dini hari agar tidak bertemu wartawan. Jordan memakai pakaian tertutup dengan topi dan masker yang menutupi wajah tampannya. Ditemani Niko dan para bodyguard berjalan beriringan dengan langkah panjangnya. Sesuai rencana tidak ada satupun wartawan yang akan menduga tentang kedatangan Jordan. Jordan berjalan mulus tanpa hambatan. Sesampainya di rumah, Jordan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Merenung sesaat sembari menatap langit-langit kamar.
"Ana aku merindukanmu." gumam Jordan.
Jordan segera meraih ponsel di dalam saku celananya. Mengetik sesuatu di dalam kolom pesan.
"Ana aku sudah kembali. Mari kita bertemu besok." ketiknya.
Senyum kecil merekah di bibirnya membayangkan akan bertemu sang kekasih besok. Jantungnya berdebar-debar tak menentu. Kini pikirannya sudah sangat baik dibandingkan sebelumnya. Meski ribuan masalah masih terpampang nyata di depan mata namun Jordan tak ingin mengambil pusing dan memutuskan untuk menjalaninya dan berani menghadapi resikonya bersama Ana. Jordan bangkit dari tidurnya dan melihat jam yang terletak di atas meja hias di kamarnya menunjukkan pukul 2.30, Jordan melangkahkan kakinya menuju lemari es untuk meneguk sebotol air.
Ting tong... suara bel pintu berbunyi.
Jordan mengerutkan alisnya merasa heran siapa tamu yang datang pada jam sepagi ini. Jordan segera berjalan menuju pintu. Dilihatnya dari monitor yaitu Liona yang sudah berdiri di depan pintu.
"Siiitt! Mau apa dia kesini? Kenapa Liona bisa tau aku sudah pulang!" desahnya kesal.
Ting tong ting tong!
Liona berulang kali memencet bel namun Jordan masih belum membukanya. Ia tahu bahwa Jordan pasti sudah mengetahui kedatangannya.
"Jordan! Kalau kau tidak membuka pintu ini aku akan membuat masalah ini semakin besar!" gertak Liona.
Kriet...
Jordan membuka pintunya dengan kasar. Liona tersenyum ironis melihat sikap Jordan. Tak banyak bicara, Liona masuk melewati Jordan dan duduk di kursi ruang tamu.
"Mau apa kau kesini?" tanya Jordan dingin.
"Cihh... tentu saja aku ingin bertemu denganmu. Memangnya kau tidak merindukanku sayang?"
"Jangan basa-basi Liona! Cepat katakan apa tujuanmu kemari!"
Api emosi Jordan mulai meluap. Jordan mengepalkan tangan menahan emosi yang akan meledak. Sedangkan Liona hanya tersenyum kecut menatap Jordan. Liona berdiri dari duduknya dan melingkarkan tangannya ke leher Jordan.
"Kau benar-benar sudah melupakanku Jordan? Bukankah kau dan Ana sangat jahat padaku? Apa kau tidak merasa bersalah?"
Jordan menundukkan kepala. Emosinya meredam seketika. Rasa bersalah menggerogoti hatinya saat ini.
__ADS_1
"Sebelumnya hubungan kita selama 4 tahun baik-baik saja Jordan. Mengapa kau bisa berubah sedrastis ini? Apa kelebihan Ana dariku?"
"Cukup Liona, aku tahu bahwa aku memang bersalah. Tapi untuk apa kau menanyakan lagi pertanyaan seperti ini. Bukankah itu hanya membuang waktu? Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan selanjutnya tapi aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Ana!"