
Jordan mendekati mereka dan berhadapan dengan Morgan. Dengan tatapan tajam, Jordan menepis tangan Morgan yang sedang menggandeng erat tangan Ana dengan kasar.
“Apa-apaan kau Jordan! Berani sekali kau bersikap kurang ajar padaku!" ucap Morgan geram.
“Memang kenapa? Kau hanyalah orang asing bagiku!"
Morgan naik pitam menahan emosi pada adiknya itu, tapi ia tidak ingin membuang-buang waktu karna tak ingin lagi kehilangan kesempatan untuk bersama dengan Ana.
“Ana bisakah kita pergi sekarang?" tanya Morgan.
Ana merasa tak enak pada Morgan dan Jordan karna setiap kali bertemu mereka selalu beradu mulut karnanya.
Tapi Ana tak ingin mengecewakan Morgan untuk yang kedua kalinya, mungkin ini salah satu cara agar perasaannya pada Jordan menghilang perlahan.
Karna semakin hari perasaannya pada Jordan tak terkendali dan ia takut akan jatuh terlalu dalam. Dan benar yang Neysa bilang, hubungannya dengan Jordan hanyalah sebuah settingan tanpa dasar apapun.
Ia harus membuka hatinya pada Morgan yang memang memberinya perhatian lebih padanya.
“Ya Pak, saya akan pergi bersamamu."
Ana melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Jordan yang berdiri kaku dengan raut wajah kecewa.
Morgan merangkul Ana dengan lembut dan memasukkan Ana ke dalam mobil. Morgan kembali menatap Jordan dengan sinis dan pergi.
Beberapa hari lalu, Jordan yang berada diposisi itu, tetapi hari ini berbalik padanya. Sungguh ironis namun tak bisa dipercaya bahwa ia harus berebut wanita seperti Ana dengan kakaknya. Didalam hatinya, Jordan bertanya-tanya apa yang terjadi pada dirinya. Mengapa ia sangat kecewa ketika Ana bersama Morgan.
"Mungkinkah perasaan suka mulai tumbuh begitu saja? Ataukah ini hanya sekedar perasaan empati."
"Entahlah, Jordan masih belum menemukan jawaban. Tetapi jika benar perasaan itu adalah perasaan suka, bagaimana dengan Liona? Ia juga masih sangat mencintai Liona dan setia menunggunya kembali."
*****
Didalam mobil, Ana diam dan kikuk tak tau harus berbicara apa dengan Morgan. Morgan hanya terdiam dengan raut wajah kesal yang semakin membuat Ana merasa tercekik dalam suasana. Dengan keberanian yang Ana kumpulkan, Ia memulai pembicaraan.
“Kita akan kemana Pak?" tanya Ana pelan.
Tapi Morgan tak menjawab walau sebenarnya ia mendengarnya. Morgan menepikan mobilnya dan berhenti. Dilepasnya sabuk pengaman dan melihat kearah Ana.
“Ana, apakah kau menungguku sangat lama tadi?" tanya Morgan cemas.
“Ohh, emh, tidak juga Pak," jawab Ana terbata-bata.
“Aku minta maaf dengan sikapku tadi Ana, sampai membuatmu menunggu begitu lama."
“Tidak Pak, jangan meminta maaf. saya mengerti, jadi jangan terlalu memikirkannya," ucap Ana sambil tersenyum lembut.
“Terimakasih Ana karna kau mau mengerti, lalu apa hubunganmu dengan Jordan? Kenapa kalian terlihat begitu dekat?" tanya Morgan penasaran.
__ADS_1
“Hanya suatu hubungan mutualisme yang saling membutuhkan."
“Benarkah? Baguslah kalau begitu," ucap Morgan senang.
“Hubunganku dengan Jordan memang tidak baik sejak dulu, jadi maaf kalau kau juga ikut terseret karna permasalahan kami," imbuh Morgan.
“Ya pak saya mengerti."
“Kalau begitu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
“Kemana Pak? Apakah jauh dari sini? Apakah tidak apa dengan penampilan saya yang seperti ini?" tanya Ana.
“Jangan khawatir Ana, kau akan tetap terlihat cantik walau memakai pakaian rombeng sekalipun," rayu Morgan.
“Aaah bapak, bisa saja. Saya tidak secantik itu Pak! Karyawan lain jauh lebih cantik dibanding saya," ucap Ana tersipu malu.
“Tidak Ana, bagiku kau lebih cantik."
Ana hanya diam tersipu malu dan Morgan tersenyum senang melihat raut wajah Ana dengan pipi memerah.
“Baiklah, aku akan mengajakmu makan malam terlebih dahulu," ajak Morgan dan melanjutkan perjalanan.
Disebuah restoran, mewah mobil Morgan berhenti. Ana merasa takut untuk turun dengan penampilannya yang seperti ini.
Memakai kemeja merah yang telah usang dan celana panjang brown tak senada. Rambut yang ia ikat dengan karet rambut terkesan jauh sederhana dan dekil.
“Ana kenapa? Apakah kau tidak suka dengan tempat ini?"
“Emh... bukan begitu Pak, hanya saja saya tidak yakin dengan penampilan saya yang seperti ini."
Morgan menggelengkan kepalanya menghampiri Ana.
“Ana ada aku disini, jadi jangan berfikir yang macam-macam. Aku sudah menyewa tempat ini, jadi tidak akan ada pelanggan lain selain kita."
“Bapak sungguh menyewanya? Tapi kenapa Pak? Bukankah sangat berlebihan dan terlalu menghamburkan uang?"
“Tentu tidak karna aku mengiginkan privasi."
“Ayo Ana cepat masuk!" ajak Morgan.
Ana dan Morgan masuk dan di sapa hangat oleh pelayan. Pelayan itu mempersilahkan mereka duduk di meja VVIP yang sudah di pesan dan memberikan menu makanan.
“Ana, apa yang ingin kau makan?" tanya Morgan.
Ana melihat-lihat buku menu itu dengan seksama tapi tidak ada makanan yang dapat ia mengerti dengan bahasa asing disetiap menu.
“Emh... saya akan pesan apa yang Bapak pesan."
__ADS_1
“Kenapa Ana? Pesan saja apa yang kau mau, karna belum tentu selera kita berdua sama."
“Emh... sebenarnya saya tidak terlalu paham dengan menu-menu kebaratan ini."
Morgan tersenyum lembut dan memandangi Ana yang sedang bingung.
“Baiklah, aku akan memesankan makanan favoritku. Semoga kau menyukainya," kata Morgan menawarkan.
“Ya pak itu akan lebih mudah dari pada harus menungguku entah kapan selesai memikirkan sebuah menu," canda Ana.
Suasana pecah dengan candaan Ana. Morgan tertawa lepas mendengarnya.
“Kau sangat menghibur Ana," ucap Morgan tertawa.
“Maklum Pak, saya tidak pernah ke tempat seperti ini."
“Ya... aku dapat mengerti, oleh karna itu ini adalah momen pertamu agar kau tidak melupakannya."
“Oh ya, bolehkah aku mengetahui keseharianmu dan latar belakangmu Ana?" tanya Morgan.
“Tentu, tapi keseharian saya sangat biasa sekali. Bapak akan bosan mendengarnya."
“Tidak akan Ana, ayo ceritakan sambil menunggu hidangan datang."
“Baiklah saya akan mulai bercerita."
Dan Ana menceritakan tentang orang tuanya yang telah tiada, kehidupannya yang penuh perjuangan, hobi, serta kejadian lucu lainnya. Mereka berbincang dengan asik dan hidangan tiba di depan mata.
“Wah! Hidangan ini sangat mewah, pasti rasanya tak kalah enak."
“Tentu saja, makanlah Ana kau pasti menyukainya."
“Ya Pak, terimakasih."
Merekapun makan dengan tenang dan melanjutkan pembicaraan.
“Aku sungguh salut padamu Ana, dari kisahmu itu kau wanita pekerja keras."
“Ya... karna didesak keadaan mau bagaimana lagi Pak, saya memang harus bekerja lebih keras dari orang lain," ucap Ana sambil mengunyah makanannya.
“Aku punya sesuatu untukmu Ana."
“Apa itu Pak?" tanya Ana penasaran.
Morgan merogoh saku celananya dan mengeluarkan liontin milik Ana. Mata Ana terbuka lebar tak menyangka barang yang selama ini ia cari ada pada Morgan.
“Itu milik saya Pak, kenapa bisa ada di Bapak?"
__ADS_1
“Aku menemukannya saat pertama kali bertemu denganmu. Liontin ini tak sengaja terjatuh dari tasmu."