
"Petaakkk! Jitakan keras mendarat di kepala Jordan."
“Awh! Aku hanya bercanda! Kenapa jitakanmu bisa sesakit ini!" ucap Jordan sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit.
“Biar saja! Lagi pula siapa juga yang ingin jadi pacarmu!" ucap Ana ketus.
“Banyak koq yang ingin jadi pacarku," ucap Jordan tertawa.
“Wah... sangat pede sekali Tuan Jordan ini!" ucap Ana sambil mencubit pipi Jordan lembut.
“Hahaha... tentu saja! Aku sudah tampan, sukses, dan baik hati. Apalagi yang kurang?"
“Hahaha... baiklah kau memang nyaris sempurna, tapi Pak Morgan juga sempurna. Hanya saja dia tidak berlebihan sepertimu."
“Oh ya?" ucap Jordan dingin.
“Haah? Emh maaf aku tidak bermaksud," ucap Ana tak enak hati.
“Ya ampun Ana, kenapa kau bodoh sekali berkata seperti itu didepan Jordan!" gumam Ana sambil memukul-mukulkan kepalanya pelan.
“Apakah dia sesempurna itu bagimu?" tanya Jordan dengan pandangan tajam.
“Emh bukan begitu maksudku Jordan. Sudahlah, aku hanya salah bicara saja tadi," ucap Ana sambil memegang tangan Jordan tanpa sengaja.
Ana langsung melepaskan tangan Jordan dan menjadi salah tingkah sekarang. Jordan tersenyum tipis melihat Ana dengan tingkah polosnya itu.
“Kau tidak pernah pacaran Ana?"
“Belum, lagi pula aku mana ada waktu untuk hal seperti itu," ucap Ana menunduk.
“Baguslah! Para pria juga akan berpikir keras mempunyai pacar yang galak sepertimu!" ejek Jordan.
Ana melemparkan bantalnya pada Jordan karna merasa tak terima dengan ejekannya dan berhasil ditepis oleh Jordan.
"Permisi..." ucap seorang pria paruh baya dengan sebuah kotak ditangannya.
“Sepertinya delivery sudah datang," ucap Jordan sambil berdiri dan menerima pesannya.
Jordan kembali masuk setelah membayar dan menandatangi nota pesanan. Dan setelah itu Ia membuka kotak pesanannya yang berisi ayam pedas dalam porsi jumbo.
“Makanlah Ana," ucap Jordan sembari menyodorkan kotak berisi ayam itu.
Ana tersenyum dan memakan potongan ayam dengan begitu lahap. Jordan merasa senang setiap kali melihat Ana makan, seperti ada hiburan tersendiri baginya.Di sisi lain Ana merasa malu karna Jordan menatapnya terus tanpa berkedip.
"Apakah aku terlihat begitu rakus? Sampai Jordan menatapku seperti itu," gumam Ana dalam hati. Ana berhenti makan karna begitu malu pada Jordan.
“Kenapa berhenti? Apakah tidak enak?"
__ADS_1
“Enak koq hanya saja aku sudah kenyang."
Brum! brum! Suara mobil berhenti didepan kost Ana.
“Siapa itu? Apakah kau mengundang seseorang?"
“Tidak! Aku juga tidak tau."
“Tunggu sebentar aku akan melihatnya."
Ia pun berdiri dan menuju ke depan pintu. Tak disangka Morgan tiba dan menatap sinis pada Jordan. Ana lupa kalau Morgan memang akan kesini untuk menjenguknya.
“Silahkan masuk Pak Morgan."
Morgan tersenyum dan duduk disebelah Ana. Jordan melipat kedua tangannya dengan angkuh merasa tak senang dengan kehadiran Morgan.
“Ana bagaimana kedaanmu sekarang?"
“Sudah agak baikan Pak,"ucap Ana tersenyum.
“Aku sudah menelpon dokter keluarga kami dan sebentar lagi akan datang," ucap Morgan.
“Terimaksih banyak Pak, saya sangat merepotkan Bapak," ucap Ana sambil melirik pada Jordan yang sepertinya menahan emosinya.
“Dan juga Ana, aku sudah bilang padamu jangan terlalu dekat dengannya. Dia hanya akan membuat masalah padamu," ucap Morgan ketus.
“Kau tidak tau kondisi Ana sekarang karna ketenaranmu itu?" tanya Morgan dingin.
“Apa maksudmu?" tanya Jordan sambil melirik pada Ana, namun Ana hanya menunduk tak berani menjawabnya.
“Sebaiknya menjauhlah dari Ana sejauh mungkin agar dia tidak tersakiti lagi seperti ini."
Kini perasaan Jordan campur aduk antara terkejut, kecewa dan marah. Kenapa Ana tidak menceritakannya padanya. Kenapa Morgan harus tau lebih dulu.
Jordan tak tau harus apa karna pikirannya sedang kacau sekarang. Ia segera keluar dan pergi dengan emosi yang ia bawa. Sekarang hanya Morgan dan Ana yang berada di ruangan itu.
“Apakah Bapak perlu menceritakannya pada Jordan!" tanya Ana ketus.
“Tentu saja Ana, agar kau tidak terluka lagi."
“Ini adalah masalah pribadi saya dan Jordan, jadi bapak tidak perlu ikut campur!" ucap Ana tersulut emosi.
“Tapi Ana...."
“Tolong tinggalkan saya sendiri!" ucap Ana dingin. Morgan merasa kecewa dan sakit hati diperlakukan oleh Ana seperti ini.
”Kenapa Ana begitu marah padanya? Apakah Ana mempunyai perasaan khusus pada Jordan bre***sek itu!"gumam Morgan dalam hati.
__ADS_1
”Jika memang benar, aku akan selalu menjauhkan dan mengganggu hubungan kalian bagaimanapun caranya!" gumam Morgan.
Dengan terpaksa Ia pergi meninggalkan Ana yang begitu marah padanya.
*****
Dengan laju Jordan mengemudikan mobilnya tak terkendali sampai nyaris membuat pengemudi yang lain kehilangan arah di jalan raya. Tapi Jordan tak menghiraukannya dan tetap melaju. Kini ia telah sampai di apartemennya, ia membanting ponsel dan jaketnya lalu masuk kedalam kamar. Sebuah kaca besar terpajang apik di dalam kamar dengan penuh emosi pukulan mendarat dikaca besar itu.
Pyar! Kaca pecah bekeping-keping dan darah keluar dengan deras dari tangan Jordan.
Luka itu tak terasa begitu sakit dibandingkan perasaanya saat ini.
"Benarkah ia mempunyai perasaan pada Ana? Aku tidak mau menghianati Liona! Aku harus menyelesaikan masalahku dan Ana secepatnya!"
Lala... laa.... la. Dering ponsel Jordan berbunyi. Nama Liona mucul dilayar ponselnya.
“Ya Liona, sedang apa?"
“Jordan, aku sedang belajar sekarang. Apakah kau baik-baik saja?"
“Aku baik, kapan kau akan pulang? Aku merindukanmu Liona," ucap Jordan lembut.
“Mungkin tiga hari lagi, aku juga sangat merindukanmu Jordan maaf karna membuatmu menunggu."
Deg! Seharusnya sekarang ia merasa senang karna kekasihnya akan pulang tapi malah sebaliknya. Waktu tiga hari adalah waktu yang cepat. Ia masih belum siap menceritakan semuanya pada Liona.
“Tak apa Liona aku rela, karna aku sangat mencintaimu."
“Aku juga saaaaaangaaaaatt mencintaimu Jordan! Jika aku sudah pulang nanti ayo kita lakukan resepsi pertunangan bagaimana?" ucap Liona manja.
“Emh... baiklah itu lebih baik."
“Yes! Aku sungguh menantikannya Jordan. Ya sudah. Aku akan melanjutkan belajarku."
“Ya... jaga kesehatanmu Liona."
“Tentu, Muach! Bye, bye sayang," ucap Liona dan menutup telepon.
Kini keadaan kembali sunyi dan senyap. Darah yang bercucuran di lantai menjadi saksi dari perasaanya yang sangat gundah sekarang. Sudah sepuluh tahun sejak ia memutuskan keluar dari keanggotaan keluarganya. Ia merintis karirnya sendiri hingga saat ini.
Dan saat itulah awal mula ia bertemu dengan Liona. Ia dulu juga Aktris yang sedang naik daun namun setelah empat tahun ini ia memutuskan untuk berhenti dan melanjutka studinya.
Untuk meraih cita-citanya menjadi seorang Politikus. Kami sama-sama berada di keadaan keluarga yang rumit.Bersama memulainya dari bawah dari sekedar teman menjadi semakin dekat dan menjadi sepasang kekasih seperti saat ini.
__ADS_1