Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Tak Bisa Melepasnya


__ADS_3

Ana terus memandangi ponselnya. Ia memikirkan Jordan yang tak bisa ia hubungi sejak kemarin malam. Ratusan kali ia mencoba menelpon dan mengirim pesan singkat, Jordan tetap tak merespon. Ana pun membiarkannya siapa tau Jordan sedang ada masalah dan tak ingin di ganggu. Ia sedang dalam perjalanan menuju kantor bersama Neysa. Alunan musik radio mobil tak terdengar begitu jelas karna derasnya hujan yang menerpa kota pagi ini. Neysa fokus menyetir sembari bernyayi dengan santai.


“Suaramu merdu Ney, kenapa kau tidak jadi penyanyi saja?” tanya Ana.


“Dulu aku inginnya begitu, tapi orang tuaku tak memberi izin. Ya sudah aku menyerah,” celutuk Neysa.


“Haha... kau serius pernah ingin menjadi penyanyi?”


Neysa mengangguk.”Iya... tapi kalau dipikir-pikir wajahku terlalu pas-pasan untuk menjadi penyanyi, jadi aku menyerah duluan.”


Ana tertawa mendengar guyonan sahabatnya itu.


“Kau cantik Neysa. Kau pasti lebih sukses dari sekarang jika kau benar-benar mewujudkannya.”


“Hei ayolah Ana, suaraku tidak sebagus itu. Dan aku tidak mau bermimpi terlalu tinggi. Cukup seperti ini saja aku sudah bahagia.”


Tak terasa mereka telah sampai di depan kantor. Ana turun lebih dulu, sedangkan Neysa harus memarkirkan mobilnya di basemant. Ana mengusap-usap lengan tangannya karna terasa begitu dingin setelah keluar dari mobil. Ana berlari kecil menuju lift.


“Bruk! Tanpa segaja ia menabrak seseorang sampai terjatuh dan semua isi tasnya berhamburan.”


“Awh! Ana merintih merasakan bokongnya yang terasa sakit karna terbentur lantai yang keras.”


Uluran tangan menyambut ramah kepada Ana. Ana ragu untuk menerima uluran itu. Ana mendongakkan wajahnya, terlihat Morgan sedang tersenyum lembut kepadanya. Ana menolak untuk menerima bantuan Morgan dan mencoba berdiri sendiri. Ana mengambil satu-persatu barangnya yang jatuh berceceran dengan tergesa-gesa dan segera pergi. Morgan hanya bisa pasrah melihat Ana mencoba menjauh darinya. Namun tanpa Ana sadari ia meninggalkan surat amplop coklatnya yang masih tergeletak di lantai.


Morgan mengambil amplop itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ana memilih menaiki tangga darurat, ia merasa canggung harus bertemu Morgan setiap saat. Setelah melewati puluhan anak tangga, Ana sampai di ruang ganti karyawan. Ia segera mengganti bajunya dengan seragam.


“Ohh iya, aku harus menyerahkan surat itu sekarang pada Pak Johan.”


Ana merogoh tasnya,mencari surat yang sudah ia persiapkan semalam. Namun amplop itu tak ada di tasnya. Ia menumpahkan semua isi tasnya memastikan kalau surat itu tidak terselip. Dan ternyata surat itu memang tak ada.


“Kemana suratku? Apa mungkin ketinggalan? Sepertinya tadi pagi aku sudah menyimpannya di dalam tas,” gumam Ana.


Ana kembali mencari dan mencoba mengingat-ingat.


“Mungkinkah terjatuh di depan lift tadi? Sepertinya iya.”


Ana kembali ke tempat dimana ia terjatuh. Kepalanya menunduk dan matanya berputar mencari surat penting itu. Namun usahanya sia-sia, ia pun menyerah dan melanjutkan untuk bekerja.

__ADS_1


****


Morgan memandangi amplop coklat yang ia pungut tadi. Ia ragu untuk membukanya tapi ia juga penasaran apa isi dari surat itu. Ia pun memberanikan diri untuk membukanya, toh Ana tak menyadari kalau surat itu terjatuh dan ada padanya. Morgan terkejut membaca isi surat itu adalah surat pengunduran diri yang akan Ana serahkan hari ini.


“Aku tidak menyangka kau akan berbuat sejauh ini Ana! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah!”


Morgan meremas kertas itu dan melemparnya dengan kesal. Ia tak bisa melepaskan Ana begitu saja. Walau ia tak bisa mendapatkan balasan cinta dari Ana, setidaknya hanya dengan melihatnya saja sudah cukup baginya. Ia yakin hubungan Ana dan Jordan tidak akan bertahan lama. Jika sudah waktunya ia pasti bisa memiliki Ana seutuhnya.


Tok... tok! Sinta mengetuk pintu dari luar.


“Masuklah Sinta.”


Sinta melangkah masuk dengan membawa tumpukan dokumen.”Saya membawa proposal yang harus Bapak amati untuk proyek bulan depan.”


“Ya, letakkan saja disini.”


“Sinta aku ingin meminta bantuanmu.”


“Bantuan apa Pak?”


“Aku ingin membuat peraturan baru bagi karyawan yang sudah menandatangani kontrak.”


“Lalu apa konsekuensi jika ada karyawan yang bersikeras untuk resign?”


“Mereka akan membayar denda Satu Miliar jika benar-benar ingin keluar dari perusahaan.”


“Apa?! Satu Miliar Pak? Apa itu tidak berlebihan Pak?” ucap Sinta terkejut.


“Bagiku tidak, tapi jika karyawan itu dipecat oleh perusahaan sendiri maka perusahaan yang akan memberinya pesangon Satu Miliar. Adil bukan?”


Sinta mengangguk.”Baik Pak saya mengerti. Saya akan mengetiknya dan menyerahkannya pada bagian SDM.”


“Ya, selesaikan hari ini juga Sinta. Aku tak mau menunggu lama.”


“Baik Pak, saya permisi.”


Sinta pun pergi melanjutkan pekerjaannya. Morgan tersenyum tipis merasa lega, setidaknya bisa menghentikan Ana keluar dari kantornya. Pikirannya tak bisa jernih jika menyangkut wanita yang ia sukai. Berbagai macam cara ia lakukan demi Ana, entah itu salah atau benar. Apapun itu ia akan melakukannya.

__ADS_1


****


Pukul 05.00 PM Jordan sudah berada di depan kantor Morgan. Ia menunggu Ana yang sebentar lagi jam kerja telah usai. Dan tak lama gerombolan karyawan melangkah keluar. Jordan celingak-celinguk mencari sosok Ana. Jordan melihat Ana sedang berjalan sambil mengobrol dengan karyawan lainnya.


“Ana! Teriak Jordan sambil melambaikan tangannya.”


Ana mencari sumber suara. Ia terkejut melihat Jordan sedang berdiri di tepi jalan menunggunya. Ia pun melambaikan tangan dan berlari kecil menyusul Jordan.


“Kau menungguku Jordan?” tanya Ana merasa senang.


“Tentu saja, aku sedang menunggu kekasihku yang cantik ini,” ucap Jordan sambil mencubit gemas pipi Ana yang chubby.


“Ayo masuk Ana. Aku akan mengajakmu makan malam.”


Ana mengangguk dan masuk ke mobil. Mobil Jordan pun melesat tanpa jejak. Jordan mengajak Ana ke restoran yang terbilang unik. Restoran itu berada di tengah kota dan dikelilingi pepohonan sehingga nampak seperti di tengah hutan. Bangunan utamanya terbuat dari kayu sehingga tampak menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Ana baru mengetahui kalau ada tempat seperti ini.


“Jordan, ini tempat apa? Aku tidak pernah lihat sebelumnya kalau ada restoran disini.”


“Tempat ini baru dibuka 2 minggu yang lalu Ana, jadi mungkin kau baru tahu.”


Mereka pun masuk dan memesan makanan. Ana mengamati Jordan, ia baru sadar bahwa Jordan terlihat pucat dan lemas.


“Kau baik-baik saja Jordan? Kau terlihat pucat,” tanya Ana cemas.”


“Benarkah? Aku hanya sedikit lelah beberapa hari ini.”


“Seharusnya kau istirahat saja, kenapa malah menjemputku jika sedang sakit!”


Jordan tersenyum.”Karna aku merindukanmu.”


Ana tersipu malu.”Kau merindukanku tapi mengabaikan teleponku sejak kemarin,” ucap Ana cemberut.


“Hehehe... aku minta maaf Ana, aku tidak mengecek ponselku sejak kemarin.”


“Oh ya, bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau yakin akan resign?”


Ana menggaruk kepalanya.”Aku sudah yakin dengan keputusanku dan sudah membuat surat pengunduran diri tapi entah bagaimana surat itu hilang.”

__ADS_1


 


__ADS_2