Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Tak Terduga


__ADS_3

Dua hari kemudian,


Jordan dan Niko sedang duduk di ruangan bersama Andre. Setelah kasus yang dialami Jordan agensinya menjadi pusat perhatian dari para wartawan sampai saat ini. Andre menatap Jordan dengan sorot mata tajam menahan amarah.


"Bisakah kita langsung saja. Cepat jelaskan padaku apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Aku sudah muak dengan semua percintaan konyolmu!" ucap Andre penuh penekanan.


"Aku akan berhenti dari karierku." jawab Jordan datar.


Mata Niko terbelalak mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Jordan. Namun Jordan seperti sudah putus asa dan tidak peduli apapun yang akan terjadi nanti. Matanya menatap kosong entah kemana. Niko merasa bibirnya kelu tak bisa berkata sepatah katapun.


"Kau yakin Jordan? Kau benar-benar ingin mengakhiri kariermu seperti ini?" tanya Andre ragu.


Jordan mengangguk pelan dan tak berkata apapun lagi. Andre menatap Niko berharap menemukan jawaban bahwa ini tidak benar. Tapi Niko hanya menggelengkan kepalanya pelan pertanda ia juga tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Jordan saat ini. Rencana yang sudah ia buat di tolak oleh Jordan.


"Secinta itukah kau pada Ana? Mengapa kau bisa segila ini Jordan." batin Niko.


"Kau yakin Jordan? Kenapa kau bisa begitu pasrah?" tanya Andre kedua kali.


Jordan menghela napas berat dan terdiam beberapa detik lalu menatap Andre dengan yakin.


"Memang harus bagaimana lagi? Aku sudah lelah menyembunyikan semua ini. Toh pada akhirnya semua ini tetap akan terjadi."


Andre menyenderkan tubuhnya dan berpangku tangan. Menatap Jordan yang terlihat lesu dan pucat. Andre seakan paham dan tak ingin berdebat seperti biasanya.


"Baiklah kalau itu yang kau mau. Aku akan berusaha mendukung keputusanmu."


Pembicaraan pun selesai begitu saja. Kini ia berjalan memasuki rumah di ikuti dengan Niko di belakangnya.


"Jordan bisakah kita bicara." ajak Niko.


Jordan menghentikan langkahnya lalu duduk di meja makan tanpa sepatah katapun.


"Aku akan bertanya sekali lagi. Kau yakin akan mengakhiri kariermu seperti ini?" tegas Niko.


Jordan mengangguk lemah tanpa mengalihkan pandangannya. Niko merasa tak yakin dengan keputusan yang di buat oleh sahabatnya itu. Sangat di sayangkan jika kariernya yang sedang memuncak berakhir begitu saja dengan image yang jelek.


"Kau mengakhiri kariermu untuk gadis seperti Ana?"


Jordan mendongakkan kepalanya. Mengerutkan alisnya menatap Niko di depannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu gadis seperti Ana? Dia bukan gadis biasa sampai bisa membuatku seperti ini." jawab Jordan penuh penekanan.


Niko tersenyum kecut lalu menatap Jordan dengan raut wajah sengit.


"Baiklah kalau itu maumu tapi aku tidak akan ikut campur dan hanya menontonmu sendirian menghadapi para wartawan itu!" ketus Niko.


Niko segera berdiri dan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Jordan. Kini di ruangan yang sunyi itu Jordan meremas rambutnya dengan kesal.


"Aku hanya tidak mau menyakiti Ana lagi. Jika aku tidak mengakhiri karierku maka Ana akan terus tersakiti. Mengapa kau tidak mau mengerti Niko." gerutu Jordan.


Jordan mencoba menenangkan diri sejenak. Memejamkan matanya dan menghela napas panjang.


"Ana! Aku harus bertemu Ana sekarang."


Jordan merogoh ponselnya di saku celana. Lalu melakukan panggilan telepon pada kekasihnya itu.


"Halo Ana dimana kau sekarang? Ayo kita bertemu sekarang." ajaknya.


Tak lama, Jordan segera melangkah pergi dari rumahnya dengan terburu-buru.


Brum! Dengan cepat mobil Jordan berhenti di depan gang rumah Neysa. Jordan membuka kaca mobilnya dan Ana segera masuk ke dalam mobil.


Ana tersenyum lembut dan menatap Jordan dengan hangat.


"Aku baik-baik saja. Kau bisa lihat bukan aku tidak kekurangan sedikitpun."


Jordan tertawa kecil dan mengelus rambut Ana dengan lembut. Ana tersipu malu tak berani menatap Jordan. Jordan yang melihat raut wajah Ana yang memerah tersenyum geli dan membuatnya terhibur.


"Ana kau sudah makan?"


Ana menggeleng pelan." Belum." jawabnya singkat.


"Ayo kita makan malam bersama. Kau mau kita makan dimana? Emh bagaimana kalau di restoran favoritku. Kau mau?"


Ana mengernyitkan alisnya. Memandang Jordan dengan mata besarnya.


"Kau yakin kita bisa makan di restoran?"


Mata Jordan melebar lalu menepuk dahinya pelan.

__ADS_1


"Astaga Ana aku lupa kalau aku sekarang masih buronan. Haha..."


Gelak tawa pecah seketika membuat kegundahan di antara mereka hilang dalam sekejap.


"Gimana kalau makan di apartemenku?" tanya Jordan.


Ana mengangguk cepat. Matanya berbinar-binar melihat sosok tampan kekasih gelapnya itu. Jordan mengelus lembut rambut Ana dengan penuh cinta. Kini mereka saling tatap dan merasakan gejolak asmara yang membara di tubuhnya. Perlahan Jordan mendekatkan wajahnya pada Ana. Ana menutup kedua matanya. Seakan tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Bibirnya tersentuh lembut diikuti aliran nafas yang mulai menggebu. Ciuman hangat dan lembut dirasakan oleh dua sejoli itu di dalam mobil. Rasa kerinduan yang sempat mencekik hilang sudah.


Brak! Suara benturan yang keras membuat mereka terhenyak. Kaca mobil depan retak hanya dengan satu lemparan sebuah ponsel. Di depan mereka kini berdiri seorang Morgan yang sedang naik pitam dengan kemarahannya. Jordan segera keluar dari mobil.


Morgan melangkah dengan cepat dan Bukkk! Satu pukulan keras melayang. Ana menjerit dan segera keluar bergegas menolong Jordan. Darah keluar dari sudut bibirnya. Ana menangis dan panik melihat kekasihnya itu.


"Hentikan Morgan! Hentikan! Kenapa kau selalu mengganggu kami! Tidak bisakah kau pergi dari hidupku! Aku muak denganmu!" teriak Ana.


Morgan terdiam, tubuhnya tiba-tiba bergetar karna syok mendengar lontaran Ana yang terdengar pedas di telinganya. Tanpa terasa setetes air mata keluar di pelupuk matanya.


"Ana apa kau tahu apa yang kau lakukan sekarang? Kenapa kau tidak memberiku kesempatan Ana. Si breng**k Jordan tidak pantas bersamamu! Apa kau buta!" gertak Morgan.


Jordan melangkah maju dan melayangkan pukulan kepada Morgan sampai jatuh terpental. Ana berusaha menghentikan pertengkaran itu.


"Cukup Jordan tolong hentikan. Ayo kita pergi saja."


Ana berusaha menarik Jordan kedalam mobil.


"Apa kau tahu kalau Jordan dan Liona sudah tidur bersama? Tidakkah kau merasa jijik dengan lelaki di sebelahmu Ana."


Langkah Ana terhenti. Detak jantung Jordan terhenti sesaat. Ana membalikkan tubuhnya. Menatap Morgan dengan mata melebar.


"Tidak! Tidak mungkin! Jangan asal bicara Morgan!" ketus Ana.


Ana menatap Jordan dan menggenggam tangan Jordan dengan erat. Berharap apa yang dikatakan Morgan tidaklah benar.


"Jawab Jordan, itu semua salah bukan?!"


Jordan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bibirnya terasa kelu tak bisa menjawab pernyataan Ana.


"Aaa-na aku minta maaf. Aku bisa jelaskan padamu." ucap Jordan terbata-bata.


Tubuh Ana terasa lemas. Terasa seperti dihantam ratusan batu. Ia tak pernah berfikir Jordan laki-laki yang seperti itu. Kekecewaan menggerogoti hatinya saat ini. Ana terjatuh pelan tak bisa menahan tubuhnya yang terasa amat berat.

__ADS_1


__ADS_2