
Liona tersenyum senang mendengar perkataan kekasihnya itu. Dan mereka siap untuk memulai perlombaan.Seorang penjaga laut yang sudah disewa oleh Morgan memberi aba-aba membunyikan peluit dan mengibarkan bendera pertanda lomba dimulai.
Prit!! Bunyi peluit ditiup dengan keras dan nyaring.
Ana memeluk erat Morgan karna takut jatuh. Ini pengalaman pertamanya menaiki Jet ski dan terasa sangat mendebarkan. Jet ski Jordan melaju meninggalkan Morgan dan Ana. Tak mau kalah Morgan menambah kecepatan dan berhasil menyalip Jordan. Ana menutup matanya karna takut setengah mati.
“Ana kita hampir mencapai garis finis! Bisakah kau mengambil bendera itu?" tanya Morgan.
“S-aya takut!" ucap Ana terbata-bata.
“Tak apa Ana. Tidak akan ada yang terjadi percayalah padaku!" ucap Morgan berusaha menenangkan.
“Baiklah saya akan coba," ucap Ana sembari membuka matanya perlahan.
Morgan dan Ana hampir mendekati garis finis. Sebuah bendera berwarna merah tertancap di tengah-tengah ban pelampung.
Tangan Ana mencoba meraih bendera itu namun tangannya masih tak sampai meraih bendera itu. Ia berusaha mendekatkan tubuhnya dengan mengimbangi kecepatan Jet ski yang ia naiki, tapi tak terduga Ana malah terperosot ke samping dan
Byur! Ana tenggelam dan gagal mendapatkan bendera itu.
Seperti melempar batu ke dalam air tubuh Ana semakin tenggelam ke dalam laut. Ana tak bisa bernapas dan tak bisa melihat dengan jelas dalam air.Seseorang yang entah siapa berenang ke arah Ana dan menarik tangan Ana memeganggnya dengan erat. Merkapun membawa Ana yang sedang pingsan ke daratan dengan cepat.
“Ana bagunlah Ana!" ucap Jordan panik.
“Minggirlah biar aku yang mengatasinya!"
“Kau yang harusnya minggir! Aku yang menyelamatkannya dan bukan kau yang hanya berdiam diri melihatnya tenggelam!" gertak Jordan emosi.
Morgan hanya bisa diam dan menerima perkataan Jordan. Sedangkan Liona merasa kesal dan cemburu karna sikap Jordan yang begitu panik pada Ana.
Jordan mencoba pertolongan pertama dengan menekan telapak tangan yang saling tumpang tindih dibagian tengah dada. Sebanyak 30 kali Jordan melakukan CPR namun Ana masih belum sadar.
Jordan mencoba cara kedua yaitu membuka jalan pernapasan dengan menengadahkan kepala Ana dan menganggkat dagunya. Lalu meniupkan udara ke arah mulut Ana sebanyak tiga kali.
Uhuk! Uhuk! Air keluar dari mulut Ana dan Ana tersadar seketika.
Liona merasa tak terima kalau kekasihnya mecium wanita lain di depannya ia pun pergi meninggalkan Jordan dengan geram.
Namun Jordan tak mengetahui kepergian Liona karna hanya fokus pada Ana yang masih lemas tak berdaya.
“Ana kau tidak apa? Apakah ada yang sakit?"
Ana hanya diam tak menanggapi apa yang dikatakan Jordan karna masih belum sadar sepenuhnya.
Jordan menggendong Ana dan membawanya ke penginapan yang berada tak jauh dari tepi pantai. Morgan hanya bisa mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Didalam hatinya ia merasa menyesal karna tak bisa menolong Ana yang sedang dalam bahaya. Ia mempunyai trauma saat kecil dan pernah tenggelam dan nyaris mati karna terlambat tertolong.
Saat melihat Ana tenggelam, seluruh tubuh Morgan bergetar ketakutan mengingatkannya pada kejadian itu.
“Panggil dokter sekarang!" perintah Jordan pada Morgan.
Morgan segera berlari ke pelayan yang bekerja di penginapan dan segera mendatangi dokter terdekat.
Morgan pun masuk ke kamar yang sudah dipesan dan menunggu kedatangan dokter dengan cemas.
"M-organ" panggil Ana terbata-bata.
Morgan mendekat dan menggenggam tangan Ana erat.
"Ya Ana, ini aku Morgan!"
"D-ingin!"
Morgan segera menutupi tubuh Ana dengan selimut tebal. Jordan merasa kecewa saat Ana memanggil nama Morgan.
Hatinya remuk berkeping-keping dan tak bisa mengatakan apapun. Ia pun duduk di kursi sudut dengan tubuh yang masih basah kuyup.
Jordan kembali menatap ke arah Ana yang masih terkulai lemas dan pucat. Tak lama dokter datang dan segera melihat keadaan Ana.
"Apa yang terjadi?" tanya Dokter.
"Baiklah, aku akan melakukan pemeriksaan."
Dokter mengeluarkan stetoskop dan melakukan pemeriksaan dengan teliti. Serta memeriksa pergerakan pupil mata dengan penlight.
"Dia butuh bed rest selama beberapa hari sampai pulih,"ucap dokter pada dua pria didepannya.
"Saya akan meresepkan beberapa obat dan silahkan ditebus diklinik yang tak jauh dari sini."
"Baik dok, terimakasih!" ucap Morgan.
Dokter itupun menuliskan resep di selembar kertas dan menyerahkannya pada Morgan.
Mereka pun berjabat tangan dan dokter itupun pergi setelah melakukan tugasnya. Morgan kembali mendekat pada Ana dan mengelus kepala Ana dengan lembut.
“Aku minta tolong tetaplah disini, karna aku akan pergi menebus obat," ucap Morgan.
“Ya silahkan."
Morgan pun pergi dan kini hanya suara sunyi mengisi kekosongan antara Ana dan Jordan.
__ADS_1
Ia melangkah perlahan mendekati wanita yang tergulai lemah namun masih dalam keadaan setengah sadar.
“Ana bagaimana keadaanmu?"
“Aku baik-baik saja ucap," Ana pelan dan tersenyum.
“Kau masih merasa kedinginan?"
"Tidak..." ucap Ana sambil menggelangkan kepalanya pelan.
“Kalau begitu kau menginginkan sesuatu? Seperti air atau apapun itu."
“Tidak terimakasih, aku hanya ingin istirahat saja."
“Baiklah, lanjutkan tidurmu," ucap Jordan tersenyum.
Ana mengangguk pelan dan kembali menutup matanya. Ia merasa sangat lemas dan tak bisa bergerak sedikitpun.Kepalanya terasa berputar-putar tak terarah melihat langit-langit kamar yang masih terlihat kabur. Tak lama Morgan datang dengan membawa bungkusan berisi obat dan membukanya satu-persatu.
“Ana minumlah obatnya dulu, lalu kau bisa kembali istirahat."
Morgan pun membantu Ana untuk duduk dan menyerahkan obat serta air putih.
Dalam sekali telan Ana menghabiskan obat tersebut dan meneguknya dengan air. Morgan menunggu Ana tertidur kembali dan terlelap.
"Ayo kita bicara diluar!"
Mereka berduapun pergi berjalan menuju pantai. Langkah Morgan terhenti dan menatap kosong ke arah pantai. Jordan Juga menghentikan langkahnya dan berdiri disamping Morgan.
“Aku ingin kau pergi sekarang."
“Apa? Pergi katamu? Cih! Memangnya siapa kau?" ucap Jordan tersenyum kecut.
“Lalu untuk apa kau disini? Ana tidak ada hubungannya denganmu!"
“Memangnya siapa kau bagi Ana? Kau juga bukan siapa-siapa!" balas Jordan ketus.
“Aku menyukai Ana, dan kami masih dalam pendekatan tentu saja aku masih berhubungan."
“Hei jangan terlau sombong dulu! Aku sudah menyelamatkan wanita yang kau sukai itu tapi kau hanya berdiam diri seperti orang bodoh!" ucap Jordan ketus.
Morgan geram mendengar perkataan pedas dari adiknya itu. Selama ini belum ada yang berani mengatainya bodoh dan itu membuat harga dirinya semakin terluka.
Ia tak bisa menahan emosinya dan melayangkan pukulan keras tepat di wajah Jordan.
Jordan terpental dan terjatuh hingga darah keluar dari mulutnya. Jordan merasa nyeri kesakitan karna pukulan keras yang ia dapat.
__ADS_1