
Pukul 00.30 Jordan sudah berada di bandara internasional bersama Niko dan para staf lainnya. Meski sudah larut malam namun bandara cukup ramai pengunjung. Setelah melakukan berbagai macam prosedur kini tinggal menunggu keberangkatan pesawat di ruang gate keberangkatan. Jordan duduk di kursi paling depan sembari menatap ke luar jendela. Kini pikirannya tenggelam pada sosok Ana, ia sangat merindukan kekasihnya itu.
Ia merogoh saku jaketnya mencari ponselnya,lalu menghidupkan layar ponsel membuatnya tersenyum. Ia memasang wallpaper ponselnya dengan foto Ana yang ia potret diam-diam saat mereka makan bersama terakhir kali. Pancaran kebahagian tersorot dimatanya yang tampak berbinar-binar. Saat sedang asyik dengan pemikirannya sendiri tiba-tiba ponselnya menerima panggilan dari nomor tak dikenal.
“Siapa yang menelpon ditengah malam begini?”
Jordan tampak ragu untuk mengangkatnya, tapi rasa penasaran mengalahkan keraguannya.
“Halo.”
“Aku Morgan.”
Jordan tersentak dan mamandang ponselnya sekali lagi. Merasa tak percaya Morgan mau menghubunginya untuk pertama kali.
“Untuk apa kau menghubungiku?” tanya Jordan dingin.
“Aku ingin kau meninggalkan Ana.”
Jordan tertawa getir.” Apa hakmu memerintahku seenaknya? Carilah wanita lain agar kau mengerti rasanya jatuh cinta!”
“Kau pria pengecut yang hanya bisa membuat Ana tersakiti. Andai Ana memilihku aku tidak akan bertindak bodoh sepertimu!”
Jordan mengernyitkan dahinya tak paham apa maksud dan tujuan dari perkataan Morgan.
“Jangan bertele-tele, apa maksud dari kata-katamu itu!” ucap Jordan gusar.
“Apa kau sudah bertemu Ana hari ini? Kau tau bagaimana keadaannya saat ini?”
Jordan terdiam, mencoba menelaah perkataan Morgan yang masih membuatnya tak mengerti.
__ADS_1
“Katakan dengan jelas dan jangan membuatku menebak-nebak!” ucap Jordan geram.
“Wah wah... kau sungguh tidak tau? Wajah Ana babak belur karna Liona menghajarnya habis-habisan kemarin malam dan itu semua karna kau bren**sek!”
“Apa?! Tidak! Kau pasti berbohong!”
“Terserah jika kau mau percaya atau tidak. Aku hanya ingin mengatakan sudahi hubunganmu dengan Ana! Kau sama sekali tidak bisa menjaganya! Kau hanya bisa menyakiti hatinya. Aku akan mengambil setiap celah yang ada untuk merebut Ana darimu! Ingat itu!” ancam Morgan.
Sambungan terputus, Jordan menggeretakkan giginya karna geram menahan emosi.
“Jordan ada apa?” tanya Niko yang tiba-tiba muncul.
“Niko bisakah kita membatalkan acara ini? Aku sedang ada masalah dengan Ana. Aku harus pergi sekarang!”
“Tidak Jordan, kau harus profesional sekarang. Ceritakan padaku biar aku bantu menyelesaikan masalahmu.”
“Aku mendapatkan telepon dari Morgan barusan,” ucap Jordan membuka pembicaraan.
“Morgan? Apa yang dia katakan padamu? Apa dia mengancammu?”
Jordan menggeleng.”Bukan, dia memberitahuku kalau Liona bertindak kasar pada Ana kemarin malam.”
“Kenapa dia bisa tau? Lalu bagaimana keadaan Ana sekarang?”
“Entahlah, Ana sama sekali tidak cerita padaku. Mungkin ia berusaha menutupinya dariku.”
Jordan menundukkan kepala menatap segelas kopi yang ia pegang dengan nanar. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Seharusnya malam itu ia tidak meninggalkan Ana begitu saja. Ia tidak tau perlakuan apa yang dilakukan Liona pada Ana dan bagaimana kondisinya. Disaat seperti ini masih saja ia tidak bisa berada di samping Ana setelah mengetahui apa yang terjadi. Jordan merasa menjadi pria yang tak berguna dan itu membuatnya memaki dirinya sendiri. Tanpa terasa air mata mulai menetes di pelupuk matanya. Membayangkan rasa takut yang Ana alami karna dirinya.
“Jordan tenangkan dirimu, aku tau ini berat. Aku akan mencari cara mengetahui bagaimana keadaan Ana saat ini.”
__ADS_1
Niko mengelus pelan pundak Jordan. Berharap bisa memberinya ketenangan dan kekuatan pada sahabatnya itu. Ia tahu Jordan sangat mencintai Ana melebihi apapun, tapi saat ini mereka tidak bisa menyalahkan Liona sepenuhnya karna sebenarnya posisi merekalah yang salah.
“Pemberitahuan kepada penumpang dengan nomor pesawat NT-5421 harap segera memasuki gate 8.” Suara sound menggema memenuhi ruangan pertanda pesawat yang akan ditumpangi Jordan akan segera berangkat.
“Ayo Jordan, kita harus pergi sekarang. Kita bicarakan lagi didalam pesawat.”
Dengan berat hati Jordan beranjak dengan langkah gemulai. Niko memapah Jordan perlahan di setiap langkah. Sebagai seorang manajer ia juga akan mempersiapkan diri jika suatu saat media tahu hubungan Jordan dan Ana. Ditambah lagi ia belum berbicara apapun pada Andre selaku direktur agensinya. Entah kemarahan seperti apa yang terpasang di wajah direkturnya nanti jika mengetahui semua rencana yang sudah dirancang dengan apik malah meleset diluar dugaan.
Di jam yang sama kediaman apartemen Liona tampak sepi. Seseorang sedang mengintai dari kejauhan, dengan langkah yang amat hati-hati seseorang berusaha masuk diam-diam ke dalam apartemen elit itu. Petugas keamanan tertidur dengan pulas di atas kursinya.
Damn! Seluruh lampu apartemen itu tiba-tiba mati. Rencana awal berjalan dengan mulus tanpa kendala. Tak ingin membuang waktu, seseorang itu melanjutkan aksinya. Jika aliran listrik mati, otomastis tidak ada kamera yang menyorot dirinya. Setelah melewati beberapa anak tangga kini ia sampai di depan apartemen Liona. Beberapa alat canggih dan laptop dikeluarkannya dari dalam ransel yang ia bawa. Hanya butuh waktu sepuluh menit password pintu Liona bisa terlacak dari mesin komputernya.
Ceklek! Suara pintu terbuka.
“Kenapa lampunya tiba-tiba padam? Hei siapa saja tolong panggil satpam agar segera diperbaiki!” teriakan penghuni lain yang terdengar dari luar ruangan.
Seseorang itu menyeringai dari balik penutup mulutnya. Kembali ke rencana awal, ia melangkahkan kakinya menyelusuri setiap ruangan. Cahaya redup bulan masuk dari jendela besar yang membuat ruangan itu tak tampak gelap dan membantunya melihat dengan jelas. Setiap ruangan dan pintu dimasukinya untuk mencari keberadaan Liona. Sudah empat ruangan yang ia buka namun semua ruangan itu tidak ada kehidupan Liona. Sampai pada ruangan terakhir yang berada di lantai atas yang diperkirakan itu adalah kamar Liona.
Ceklek! Pintu itu tidak terkunci dengan leluasa ia berhasil masuk. Terlihat Liona sedang tidur di atas kasurnya. Ia mendekat dan jleb! Tangannya mencekik Liona dengan kuat. Liona terperanjat, matanya melotot dan tak bisa bernapas dengan baik.
“Si- siapa kamu?” tanya Liona terbata-bata.
“Aku seseorang yang di utus Morgan untuk membunuhmu!”
Suara serak seorang pria bertubuh kekar membuat Liona gemetaran dan merintih kesakitan dibagian lehernya yang masih tercekik dengan kuat. Liona berusaha memberontak dengan menendang tubuh pria itu dengan kakinya dan mencakar tangannya sekuat tenaga. Namun usahanya sia-sia, tenaganya tak sebanding meski berusaha sekeras apapun.
“Le- lepaskan ak-u. Kata-kan apa yang kau mau,” ucap Liona terbata-bata.
“Aku akan menyiksamu lebih dulu sebelum melepasmu begitu saja. Kau harus merasakan beberapa pukulanku agar aku mendapat bayaran yang besar!”
__ADS_1