
“Kekasih? Kakak sudah punya pendamping ternyata. Wah! Aku ikut senang."
Liona menaikkan alis bertanya-tanya siapa gerangan yang bisa mendapatkan hati seorang Morgan yang dikenal sebagai CEO berwajah dingin.
“Tapi kenapa kebetulan sekali berada di apartemen yang sama dengan Jordan?"
Morgan hanya tersenyum dan tak menghiraukan Liona yang sangat antusias padanya. Morgan menghampiri Ana dengan tatapan hangat. Dan menggandeng tangan Ana dengan lembut.
“Kau sudah menunggu lama Ana?"
Tapi Ana hanya diam dan tampak bingung dengan sikap Morgan. Tak kalah bingungnya dengan Jordan. Matanya melotot mendengar Morgan dengan santainya bersikap manis di depan Ana.
“Ayo aku antar kau pulang."
Dan Ana pun menurut. Tetapi Jordan tampak kesal dengan sikap Morgan yang begitu perhatian pada Ana. Ia memalingkan wajahnya agar Liona tak melihatnya yang sedang tersulut api cemburu. Lain halnya dengan Liona yang begitu terkejut bahwa kekasih yang ia maksud adalah Ana.
Bagaimana bisa Morgan pria sukses dan dermawan jatuh hati pada gadis yang jauh dari kata standar seperti Ana.
“Kak Morgan, Apakah kekasih yang kau maksud itu adalah wanita ini?" tanya Liona sambil menunjuk Ana. Morgan menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Liona dan Jordan.
“Ya benar."
“Kenapa standar kakak sangat rendah begitu? Mana mungkin keluarga kakak akan merestui wanita seperti dia."
“Liona Cukup!" gertak Jordan.
“Aku tidak memandang status seseorang berdasarkan derajatnya. Asal aku suka dan nyaman berada didekatnya apapun itu aku akan menerimanya."
“Wah! Kakak memang pria idaman. Baiklah kalau begitu hati-hati dijalan," ucap Liona sambil melambaikan tangan.
Morgan dan Ana pun pergi menuju mobil. Morgan membukakan pintu untuk Ana dan Jordan semakin kesal melihat kedekatan mereka.
"Sejak kapan mereka menjadi kekasih? Apakah Ana sama dengan wanita lain yang gila harta dan uang? Mengapa Ana tidak menolak sama sekali perhatian yang Morgan lakukan."
Di dalam hatinya yang paling dalam,
sepertinya Jordan menyadari perasaannya pada Ana.
“Sayang ayo kita masuk."
“Sebaiknya kau kuantar pulang Liona. Aku ingin istirahat jadi jangan ganggu aku dulu!"
“Kenapa? Sikapmu aneh sekali Jordan! Selama kita pacaran kau tidak pernah mengusirku seperti ini."
“Maafkan aku Liona, tapi aku tidak bermaksud mengusirmu! Aku hanya ingin sendiri saja jadi aku mohon kau mengerti."
“Ya baiklah."
Didalam mobil,
__ADS_1
“Pak kenapa bisa tau kalau saya disini?" tanya Ana.
“Aku tadi ada urusan disekitar sini dan kebetulan melihatmu masuk ke apartemen itu," jawab Morgan.
“Lalu apa maksud perkataan Bapak tadi?" tanya Ana penasaran.
“Oh... maafkan sikapku tadi Ana. Aku hanya mencoba agar kau tidak direndahkan oleh Liona."
“Bapak mengenal Liona?"
“Ya, aku tau wanita seperti apa dia jadi aku membuat situasi agar dia tak merendahkanmu."
“Oh begitu."
“Dan bagaimana dengan jawabanmu tentang hal yang beberapa hari lalu aku ajukan?" tanya Morgan.
“Emh... sebenarnya saya tidak ada perasaan apapun pada Bapak untuk saat ini."
“Benarkah? Tidak sedikit pun?"ucap Morgan kecewa.
“Ya maafkan saya Pak," ucap Ana tak enak hati.
“Tak apa Ana. Kau tidak salah dan aku tidak bisa memaksamu.
“Tapi beri aku kesempatan untuk mengambil hatimu."
“Tapi saya selalu bertanya kenapa Bapak mau dengan gadis biasa seperti saya?"
“Yang ku tahu, sejak sering bertemu denganmu dan sering memperhatikanmu perasaan itu mengalir begitu saja."
“Tapi kalau pun saya menyukai Bapak, apa yang dikatakan Liona tadi ada benarnya. Mana mungkin keluarga besar Bapak akan menerima saya."
“Aku tidak peduli! Apapun rintangannya jika aku bersamamu aku akan memperjuangkannya!"
Ana merasa malu mendengar perkataan Morgan yang begitu manis dan romantis. Ia menghadap ke luar jendela mobil memalingkan perhatiannya. Morgan tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat ekspersi Ana yang malu-malu padanya. Kini mobil Morgan telah sampai di depan kost Ana, Morgan pun turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ana.
“Terimakasih."
“Bapak mau mampir dulu kedalam?"
“Bolehkah?"
“Tentu, akan saya buatkan segelas teh sebagai tanda terimakasih saya sudah mengantar saya pulang."
“Baiklah..." ucap Morgan dan merekapun masuk kedalam kost Ana.
Morgan duduk dibawah dengan melipatkan kakinya yang panjang dan sedikit melonggarkan dasinya. Ana mengambil gelas dan memasukkan dua sendok gula dan teh celup ke dalam gelas. Lalu mengisinya dengan air panas dan dicampur air dingin agar tidak terlalu panas. Kemudian mengaduknya dan menyajikannya pada Morgan.
“Silahkan diminum pak."
__ADS_1
“Ya terimakasih Ana," ucap Morgan dan meminum teh itu untuk meghilangkan rasa hausnya.
“Bapak sudah makan?"
“Belum."
“Saya hanya punya mie instan bapak mau?"
“Mie instan? Itu tidak sehat Ana. Sebaiknya kita ke restoran langgananku saja, disana makanannya enak dan higienis," ucap Morgan. Ana tertawa mendengar ucapan Morgan.
“Bapak tidak pernah makan mie instan?"
“Belum pernah."
“Makan sekali saja tidak akan buat kita sakit."
“Sebentar saya buatkan dan bapak pasti suka."
“Tapi Ana..."
Ana segera berdiri tak menghiraukan penolakan Morgan. Ia mengambil beberapa mie instan dari lemari kecilnya. Kemudian mengambil telur sebagai campuran dan beberapa sayuran. Ana mengiris sayuran dan mengocok telur dan merebusnya diatas panci lalu memasukkan mie instan dan mencampurnya dengan bumbu mie instan. Selagi menunggu Ana menyiapakan mangkok dan menyajikan mie tersebut di dalam mangkok.
“Ini Pak ayo dimakan," ucap Ana.
“Kenapa cepat sekali? Apa sudah benar-benar matang?"
“Sudah Pak coba saja," ucap Ana tersenyum. Morganpun mencicipinya dan benar kata Ana mie ini terasa enak dan kenyal.
“Kau benar Ana! Ini sangat enak," ucap Morgan sambil mengunyah makanannya.
Ana tersenyum melihat Morgan makan begitu lahap dan sangat menikmatinya. Morgan pria yang baik meskipun ia sudah menolak perasaannya tapi ia tetap bersikap baik dan ramah.
“Wah... wah... sepertinya kau bahagia sekali!" ucap Arno si penagih hutang yang selalu mengejar-ngejar Ana dan menghajarnya jika Ana tak memberikan uang.
“Arno! Sedang apa kau disini?"
“Tentu saja menagih hutang orang tuamu sayang. Memang mau apalagi?"
“Siapa dia Ana?" tanya Morgan.
“Emh... bukan siapa-siapa Pak! Saya permisi sebentar," ucap Ana dan segera menarik Arno ke luar.
Morgan merasa curiga pada lelaki bertubuh kekar itu. Penampilannya seperti preman dan sangar seperti bukan orang baik. Ada urusan apa dia dengan Ana. Morgan sangat penasaran dan mengintip dari belakang mereka.
“Dia pacarmu?"
“Bukan urusanmu!" jawab Ana ketus.
“Cih! Sombong sekali kau sayang," ucap Arno sambil mencekam wajah Ana kuat.
__ADS_1
Ana pun menepis tangan Arno yang kekar itu. Morgan seperti tak terima perlakuan Arno pada Ana. Tapi ia tahan karna tak mau membuat keributan.