
Drrttt... ponselnya kembali bergetar. Lagi-lagi Jordan menelpon untuk kesekian kali.
“Aku harus bagaimana? Akan sangat aneh jika aku tiba-tiba menghindar darinya.”
“Aahh entahlah! Angkat saja dulu.”
“Halo.”
“Ana kau dimana? Apa kau sangat sibuk? Aku terus menghubungimu tapi kau mengabaikannya. Aku sangat marah sekarang.”
“Emh, maaf. Aku memang sangat sibuk tadi. Memangnya ada apa?”
“Tidak ada, aku hanya bingung karna sejak semalam kau tidak mengangkat telepon dariku.”
“Ohh... aku tidak tau kalau kau menghubungiku semalam. Maaf Jordan, Kau sedang apa?” ucap Ana tak enak hati.
“Aku sedang menunggumu sekarang, bukankah sebentar lagi kau sudah pulang?”
“Apa? Kau menungguku!” ucap Ana terkejut.
“Iya, aku sudah di depan kantor sekarang.”
Ana langsung kelimpungan mengetahui Jordan sudah menunggunya di depan kantor. Ia tidak bisa bertemu Jordan di saat keadaannya seperti ini. Jordan pasti akan bertanya ada apa dengan luka memar diwajahnya. Dan Jordan pasti tidak akan percaya jika ia menjawabnya habis terjatuh. Ana mondar-mandir di depan loker. Menggerigiti jemarinya sembari memegang ponselnya di depan dada. Otaknya sedang berpikir menemukan solusi. Dan cling! Seperti ada lampu kuning yang memberinya sebuah ide.
“Halo Ana. Halo... Ana kau masih disana, kan?” Suara Jordan terdengar dari dalam ponsel.
“Ya Jordan, suaramu putus-putus tadi. Kau sudah di depan kantor sekarang?”
“Iya aku sudah menunggumu dari satu jam yang lalu.”
“Emh... aku minta maaf Jordan, sebenarnya aku sudah pulang dari tadi. Aku sedang bersama Neysa sekarang.”
“Kau sudah pulang? Kenapa? Apa kau sedang sakit?” tanya Jordan cemas.
“Tidak, aku sedang ada urusan jadi aku minta izin pulang dulu.”
“Ohh... kalau begitu aku akan menunggu di kostmu. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
“Maaf Jordan, aku tidak bisa. Aku sekarang sedang di rumah Neysa bersama keluarganya. Aku tidak enak jika langsung pergi.”
“Hemh, baiklah. Padahal aku sangat ingin bertemu. Aku merindukanmu Ana.”
“Benarkah? Aku tidak tuh!”
__ADS_1
“Ingin sekali aku memakanmu Ana, kau sangat menyebalkan!”
“Hehehe... aku hanya bercanda. Mana mungkin aku tidak merindukanmu tapi kau tadi bilang ada sesuatu yang ingin kau bicarakan. Apa itu?”
“Aku akan keluar negeri nanti malam.”
“Hah? Luar negeri! Untuk apa?”
“Aku ada pekerjaan disana. Selama satu minggu mungkin aku akan sangat sibuk dan jarang menghubungimu.”
“Satu minggu? Baiklah aku mengerti.”
“Kau tidak sedih aku akan pergi?”
“Tidak, kenapa memangnya?”
“Oh ya sudah.”
Tut...tut... tut. Sambungan terputus, Ana tampak bingung dengan sikap Jordan.
“Kenapa langsung ditutup? Aku belum selesai bicara. Hemh, biarlah! Setidaknya aku bisa bebas dari Jordan selama satu minggu.”
Ana menghela napas lega, ia tidak menyangka keadaan akan berjalan diluar dugaan. Langkah selanjutnya adalah menemui Neysa, jangan sampai Neysa bertemu Jordan di depan sana. Kalau tidak matilah riwayatmu Ana!
“Ney, kau belum pulang?”
Neysa mengalihkan pandangannya menatap Ana yang sedang berdiri di depannya. Masih seperti tadi pagi Ana tetap memakai maskernya rapat-rapat.
“Belum, Ana kau sudah mau pulang? Tunggu aku sebentar lagi,kita pulang sama-sama. Oke?”
Ana mengangguk, ia menggeser kursi yang berada disampingnya dan duduk bersebelahan dengan Neysa.
“Ana sebenarnya ada apa denganmu? Apa sakitmu sangat parah? tanya Neysa dengan sorot mata menyelidik.
Sudah sedari tadi Neysa memendam rasa penasarannya. Namun sahabatnya itu tetap membungkam mulutnya rapat-rapat. Dengan terpaksa Neysa mengambil langkah terakhir yaitu pemaksaan. Ditariknya masker itu dari wajah Ana, sekali tarikan masker itu terlepas dengan mudah. Kedua pipi yang bewarna hitam kebiruan karna lebam. Bibir yang sedikit terkoyak dan membuatnya membengkak dibagian bawah. Tanpa sadar Neysa membuka mulutnya lebar-lebar karna terkejut.
“Astaga Ana! Kenapa dengan wajahmu? Siapa yang melakukannya!” ucap Neysa dengan nada tinggi.
“Aku akan menceritakannya padamu, tapi kumohon pelankan suaramu.”
Tanpa mereka ketahui, seseorang datang dan mengintip di balik dinding yang tak jauh dari posisi mereka berada. Seseorang itu adalah Morgan, tanpa sengaja saat ia sedang berjalan menuju pintu keluar ia mendengar secuil percakapan mereka. Karna rasa ingin tahu yang tinggi Morgan bersembunyi dan membuka telinganya lebar-lebar.
“Oke baiklah, cepat ceritakan sekarang. Aku penasaran setengah mati!”
__ADS_1
Neysa mencoba menenangkan dirinya sendiri, merasa tak terima dengan keadaan sahabatnya yang babak belur entah siapa ba**ji**an yang tega bertindak kasar padanya.
“Kemarin malam Liona datang ke kostku.”
“Apa? Liona? Jadi dia yang melakukan ini padamu! Aku harus membuat perhitungan padanya!” ucap Neysa menggebu-gebu.
“Jangan keras-keras Ney, dengarkan dulu ceritaku sampai selesai. Liona tidak salah, dia hanya marah karna hubunganku dan Jordan.”
Neysa terdiam, berpikir sejenak. “Benar juga sih, wanita mana yang terima jika pacarnya direbut orang lain. Jika itu aku, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama,” batin Neysa.
Neysa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal ia bingung harus membela siapa? Ana memang salah dalam mengambil sikap tapi ia juga tak tega melihat keadaan sahabatnya yang malang seperti ini. Neysa menatap Ana dengan nanar, ia duduk mengelus lembut pundak sahabatnya lalu memeluknya. Semoga dengan begini bisa membuatnya lebih baik.
“Apa kau bahagia dengan Jordan?” tanya Neysa sambil menepuk-nepuk punggung Ana yang masih dipeluknya dengan erat.
“Aku bahagia, meski pada akhirnya hubunganku dan Jordan tidak seperti pasangan lain tapi aku sangat bahagia hanya berada di dekatnya.”
“Kau secinta itu pada Jordan? Lalu apakah Jordan memperlakukanmu dengan baik?”
Ana mengangguk pelan.”Iya, dia sangat baik padaku. Kami saling mencintai Ney, aku yakin badai ini pasti segera berlalu.”
“Kau yakin akan tetap mempertahankan hubunganmu dengan Jordan? Bagaimana jika dia mencampakkanmu suatu saat nanti?”
Ana melepaskan pelukannya dari Neysa. Bibirnya terasa kelu untuk menjawab. Tak terlintas sedikitpun ekspetasi jika yang dikatakan Neysa benar-benar terjadi. Mungkinkah Jordan akan meninggalkannya suatu saat nanti?
“Ana? Ana!”
Lamunan Ana langsung buyar saat Neysa menggoyang-goyangkan tubuhnya.
“Hah? Apa?” ucap Ana gelagapan.
“Hemh... sudahlah. Ayo kita pulang.”
“Kenapa pulang? Pekerjaanmu belum selesai Neysa.”
“Persetan dengan pekerjaan! Aku ingin pulang sekarang. Ayo Ana!”
Neysa menarik tangan Ana tanpa membereskan tumpukan dokumen yang masih berserakan di atas meja. Saat mereka keluar ruangan, Morgan buru-buru pergi dan mencari tempat sembunyi. Kini rasa penasarannya sudah terjawab. Ia harus bertemu Liona sekarang juga.
__ADS_1