Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Cinta Itu Tumbuh


__ADS_3

Jordan diam terpaku mendengar perkataan Ana.Tapi dalam hatinya ia merasa kecewa dan hanya pasrah tak bisa berbuat apapun. Ingin sekali ia berada di dekat Ana karna kepribadiannya yang menyenangkan. Tetapi ia juga sangat mencintai Liona yang selama ini menjadi kekasihnya.


“Jordan ayo kita pulang!" ucap Liona kesal.


“Kau sudah membersihkan bajumu?" tanya Jordan sambil melihat baju Liona yang sudah tak ada noda dan masih sedikit basah.


“Ya... sudah," jawab Liona sambil melirik Ana dengan kesal.


“Selesaikan dulu sarapanmu baru kita pergi."


“Tidak! Aku sudah tak punya selera untuk makan!" ucap Liona kesal.


“Ya, baiklah kalau begitu kita pergi saja."


Jordan pun menuju kasir dan membayar semua makanan. Mereka pun meninggalkan cafe dan menuju mobil. Hanya Ana yang masih belum menyusul mereka. Ana membungkus makanan Liona dengan tisu karna makanan itu masih belum tersentuh. Ia merasa sayang jika makanan ini harus dibuang dan Ana pun memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa. Lalu ia segera berlari menuju mobil Jordan.


Sesampainya di kantor agensi Jordan, mereka langsung masuk ke ruang rapat untuk bertemu dengan Pak Andre Direktur di agensi Jordan bekerja. Di sebuah meja panjang dan kursi yang tersusun rapi mereka duduk menunggu Pak Andre dan Niko yang belum datang. Jordan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Niko bahwa ia sudah menunggu. Liona memainkan ponselnya dengan membuka aplikasi medsosnya sembari menunggu. Dan Ana hanya berdiam diri sambil melihat-lihat ruangan tersebut. Tak lama Andre datang dan disusul dengan Niko dibelakangnya.


“Apa kabar Jordan? Lama tak bertemu," sapa Andre.


“Kabarku baik, dan aku membawa gadis yang aku ceritakan waktu itu," ucap Jordan sambil mengarahkan matanya pada Ana. Andre pun memperhatikan Ana yang terlihat canggung.


“Jadi dia gadis yang menamparmu waktu itu?" tanya Andre sambil tersenyum.


“Ya, benar."


Andre pun mendekat ke Ana dan menjulurkan tangannya.


“Hay Ana aku Andre atasan Jordan. Aku sudah mendengar banyak tentangmu."


“Terimakasih, saya Ana," ucap Ana tersenyum.


“Baiklah, jadi mari kita diskusikan puncak dari masalah ini," ucap Andre memulai pembicaraan.


“Jadi aku ingin tau kenapa rencana awal harus berubah tiba-tiba?" tanya Andre pada Niko.


“Itu karna dalam waktu dekat ini Jordan dan Liona ingin melangsungkan pertunangan. Ia tak ingin ada permasalahan apapun yang merugikan hubungan mereka dimasa depan," jelas Niko.


“Lalu apa rencana kalian untuk mengelabuhi publik agar masalah ini tidak semakin besar dan tidak merugikan semua pihak?"


“Aku akan membuat konten youtube untuk membahas hubungan merekan selama ini hanyalah sebatas orang asing dan dibesar-besarkan oleh para netizen yang membuat mereka berada diposisi yang serba salah."


“Kau yakin mereka akan percaya? Itu akan berpengaruh  buruk untuk karier Jordan?" tanya Andre.

__ADS_1


“Jika karier Jordan jelek otomatis agensi juga akan sepi job."


“Ya tapi itu untuk sementara. Kita tidak akan tau jika tidak mencobanya."


“Aku setuju dengan rencana Niko, mungkin pencitraan ku akan sedikit turun tapi tidak dengan job."


“Akan semakin banyak para wartawan yang penasaran dengan hubungan kami berdua jadi akan banyak pula undangan di acara televisi secara live," jelas Jordan.


“Ya, ya. Kau benar Jordan!" ucap Niko bersemangat.


“Oke baiklah, aku tunggu kabar baik dari kalian."


Ana dan Liona yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia ikut merasa lega karna permasalahan sudah menemukan solusinya.


“Ana kapan kau ada waktu renggang? Kita harus membuat konten secepatnya."


“Emh... bagaimana kalau besok? Aku akan mencoba mengajukan cuti satu hari."


“Baguslah, kita bertemu lagi besok di tempat yang sama."


Jordan dan Ana mengganggukan kepala pertanda mereka setuju dengan rencana Niko.  Mereka pun keluar ruangan menuju jalan pulang masing-masing.


“Ana kau mau kemana? "tanya Jordan karna Ana berjalan ke arah yang berlawanan.


“Kenapa? Aku akan mengantarmu pulang."


“Tidak perlu! Aku tidak ingin merepotkan, tapi terimaksih atas tawaranmu."


Ana pun berlari kecil menuju taksi yang kebetulan berhenti didepan. Jordan menatap Ana dengan tamat sampai taksi itu berada jauh dari mereka. Liona merasa Jordan mempunyai perasaan lain pada Ana. Ia menepuk pelan Jordan agar tersadar dari lamunannya.


“Ayo Jordan kita pulang! Mau sampai kapan kita disini?" tanya Liona kesal.


“Hah? Ohh... emh... maaf. Aku hanya ada sedikit pikiran tadi," ucap Jordan dan mereka pun masuk kedalam mobil.


Ana turun dari taksi dan membayar ongkos taksi, kemudian mobil sport ferrari biru yang sudah tak asing lagi baginya sudah terpakir di depan kostnya. Morgan keluat dari mobilnya dengan setelan jas yang masih melekat di tubuhnya. Ia tersenyum lembut padaku dan berjalan mendekat.


“Kau dari mana Ana?" tanya Morgan.


“Saya tadi habis dari agensi. Ohh.. emh... maksud saya, habis berjalan-jalan saja," ucap Ana berbohong.


“Lalu kenapa baru jam segini sudah pulang?" tanya Morgan curiga.


“Emh... itu karna sangat membosankan jalan-jalan sendirian jadi hanya sebentar," ucap Ana beralasan.

__ADS_1


“Ohh, kenapa tidak jalan-jalan denganku saja? Aku akan mengajakmu ke tempat yang jauh dan menyenangkan."


“Benarkah?" tanya Ana senang dan bersemangat.


“Tapi inikan jam kerja, kenapa Bapak malah kesini dan mengajak saya jalan?"


Ana melihat jam tangan yang melingkar ditangannya menunjukkan jam  10.00 AM.


“Aku sedang tidak ingin bekerja hari ini, jadi aku kesini karna juga merasa bosan," ucap Morgan.


“Wah! Seorang CEO bisa kapan saja mengambil libur ya Pak? Enak sekali!"


“Hahaha... tentu saja! Memang harus ijin kemana kalau aku ingin libur?"


“Emh... benar juga ya Pak! Bapak, kan bosnya jadi suka-suka saja," ucap Ana tersenyum lebar.


“Kalau begitu ayo kita ke pantai."


“Ke pantai? Wah! Sepertinya menyenangkan tapi saya akan mengambil beberapa baju tunggu  disini sebentar ya Pak!" ucap Ana dan masuk tergesa-gesa ke dalam kostnya.


“Benar juga, aku tidak membawa baju ganti untuk kepantai," ucap Morgan pada dirinya sendiri. Tak lama Ana pun keluar dengan raut wajah kecewa.


“Loh, kenapa dengan wajah jelekmu itu?" canda Morgan.


“Emhh... tidak ada baju satu pun yang bisa dibawa kepantai Pak," ucap Ana lesu.


“Aku juga, ayo kita beli sama-sama ditoko."


“Oh... iya Pak, ayo!" ucap Ana semangat.


Morgan senang melihat Ana yang begitu bahagia hanya karna diajak kepantai. Ia bukan wanita matrealistis yang kebanyakan ia kenal. Ana begitu sederhana dan apa adanya. Itulah yang membuat Morgan menyukai Ana.


Mereka pun sampai di pusat kota dan berhenti didepan toko yang menjual underware dan baju renang wanita maupun pria dalam satu toko.


“Ayo Ana kita masuk," ucap Morgan turun dari mobilnya dan tak lupa membukakan pintu mobil untuk Ana.


“Terimakasih..." ucap Ana dan mereka pun masuk kedalam toko.


Didalam toko Ana mencari-cari baju yang cocok untuknya. Ia melihat baju renang yang begitu seksi dan Ana merasa malu membayangkan jika ia memakainya saat dipantai bersama Morgan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2