
Tiga hari kemudian,
Pesawat dengan kode NT-301 mendarat dengan aman di bandara internasional. Seluruh penumpang turun dengan perlahan dan menunggu antrian bag kopernya masing-masing. Seorang wanita berpenampilan modis, tinggi semampai, berambut panjang dan elegan sedang berjalan santai bak model profesional.
Matanya berputar mencari seseorang yang akan menjemputnya namun yang ia cari sepertinya datang terlambat. Ia pun pergi mencari tempat duduk yang telah disediakan oleh pihak bandara. Ia melipatkan kakinya dengan anggun sembari memainkan ponselnya.
Tak lama mobil sport hitam berhenti. Seorang pria yang tak kalah tampan keluar dari mobilnya pria itu tak lain adalah Jordan. Matanya berkeliling mencari seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu selama tiga tahun. Dia adalah Liona, hari ini ia datang karna studinya sudah selesai.Tak jauh dari tempat Jordan berdiri ia melihat Liona yang sedang duduk sembari asyik bermain ponsel. Jordan tersenyum senang dan segera berkari kecil ke arah Liona.
Liona! teriakJordan. Liona pun menoleh ke sumber suara.
Jordan! ucap Liona dan memeluk Jordan dengan erat.
“Kenapa lama sekali?"
“Maaf tadi ada urusan mendesak jadi sedikit terlambat," ucap Jordan sambil mengelus lembut rambut kekasihnya itu.
“Hemh... apakah pekerjaanmu lebih penting dari pada aku?"
“Tentu saja tidak, baiklah aku salah kau boleh me........" Jordan berhenti bicara karna Liona mengecup bibirnya tiba-tiba.
“Aku sangat merindukanmu Jordan," ucap Liona. Jordan tersenyum tipis dan mencium keninkekasihnya itu.
“Aku juga benar-benar merindukanmu."
“Ayo kita ke mobil." Ajak Jordan sambil membawa koper. Liona mengangguk dan merekapun menuju ke mobil.
****
Ana menyibakkan rambutnya yang basah karna keringat yang bercucuran membasahi wajahnya. Ia menyikat lantai toilet karyawan sekuat tenaga. Setelah selesai menyikat, ia membersihkan kaca besar yang berada di depan wastafel.
Ia berhenti sejenak dan meraih ponselnya. Tak ada panggilan ataupun pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Sudah tiga hari Jordan menghilang tanpa kabar, Ana merasa sangat gundah karna tak mendengar kabar apapun dari Jordan.
”Apakah ia benar-benar marah? Apakah aku harus menemuinya nanti?" gumam Ana.
“Oke baiklah! Aku akan menemuinya setelah pulang nanti."
Ia pun melanjutkan pekerjaannya, lalu Morgan datang dari kejauhan dengan cepat Ana kembali masuk ke dalam toilet untuk bersembunyi.
Ia masih belum siap untuk bertemu dengannya tapi entah sampai kapan ia akan terus bersembunyi. Ratusan kali dan ratusan pesan singkat dari Morgan selalu ia abaikan.
Dan selama tiga hari ini juga ia menginap di rumah Neysa untuk menghindari Morgan. Setelah sepuluh menit Ana mencoba keluar dari sarang persembunyiannya. Ana mengendap-endap pelan sambil menengok kanan dan kiri.
Tiba-tiba tangan Ana ditarik paksa sampai Ana menabrak sesuatu yang begitu bidang dan kokoh memeluknya begitu erat. Morgan memeluknya dengan kuat sampai Ana tak bisa bergerak sedikitpun.
“Pak! Lepaskan saya! Nanti akan ada karyawan yang lewat," ucap Ana sambil melepaskan pelukan Morgan yang begitu kuat tapi tak ada hasil.
“Aku akan melepaskanmu tapi jangan menghindar lagi dariku."
“Ya aku tidak akan lari lagi."
Morgan pun melepaskan Ana dan memegang tangan Ana dengan mesra.
“Ana aku minta maaf, bisakah kau tidak lagi menghindariku?"
“Tapi Pak, sepertinya sikap bapak berlebihan sekali. Saya hanyalah karyawan rendahan dan tidak sebanding dengan posisi bapak yang sekarang!"
“Aku menyukaimu Ana! Aku tidak peduli apapun posisimu! Maukah kau menjadi kekasihku Ana?" ucap Morgan tegas. Mata Ana terbelalak mendengar perkataan Morgan yang terang-terangan.
__ADS_1
“Tapi... tapi saya... saya hanya karyawan rendahan bagaimana bisa saya berada disamping Bapak? Yang ada saya membuat Bapak malu," ucap Ana menunduk.
“Aku akan menanggung semua resiko, aku sungguh-sungguh mengatakannya Ana," ucap Morgan sambil menatap Ana dengan hangat.
“Saya tidak bisa menjawabnya sekarang Pak."
“Aku akan menunggu jawaban darimu jadi pikirkan baik-baik."
Ana hanya mengangguk lalu pergi tanpa sepatah katapun.
****
Di Apartemen Liona,
Liona dan Jordan masuk ke sebuah apartemen yang telah disiapkan oleh Jordan beberapa hari lalu. Apartemen mewah itu berada dipusat kota yang tak jauh dari apatemen Jordan dan tempat kerjanya. Jordan sengaja membelikan apartemen itu agar lebih dekat dan mudah untuk mereka berdua bertemu.
“Wah! Tempat ini sangat bagus Jordan!" ucap Liona sambil merangkul pinggang Jordan dengan erat.
“Apakah kau suka?" tanya Jordan mengelus lembut kepala Liona.
“Sangaaattt! Terimakasih sayang," ucap Liona sambil memeluk Jordan.
“Liona, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Jordan.
“Ada apa? Kenapa kelihatannya serius sekali," tanya Liona penasaran.
“Duduklah dulu, aku akan meletakkan kopermu dikamar."
Liona pun duduk di kursi ruang tengah sambil menatap pemandangan kota dari kaca besar yang di desain apik di ruangannya. Jordan pun kembali dengan membawa secangkir teh yang sudah ia buat.
“Minunmlah dulu untuk menghilangkan rasa lelahmu dari perjalanan jauh," ucap Jordan.
“Aku mempunyai sebuah masalah dengan seorang gadis," ucap Jordan menjelaskan.
“Gadis? Kenapa dengan gadis itu?"
Jordan pun menarik napasnya dalam-dalam dan merangkai serangkaian kata agar Liona mengerti dan tidak salah paham. Ia menjelaskan kejadian awal ia bertemu dengan Ana sampai masalahnya jadi serunyam ini.
“Apaa?! Kenapa kau baru bilang sekarang?"
“Maafkan aku Liona, aku tidak ingin mengganggu pikiranmu yang sedang fokus belajar."
“Aku mohon kau mengerti."
Liona terdiam beberapa saat seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Itu berarti publik tau kalau kalian pacaran sekarang?"
“Yaa, bisa dibilang begitu."
“Lalu apa posisiku disini? Apakah aku hanya kekasih gelapmu?" ucap Liona tersulut emosi.
“Tidak Liona! Aku mohon kau jangan terpancing emosi. Ini hanya settingan belaka," ucap Jordan sambil memegang erat tangan kekasihnya itu.
“Aku tidak bisa menerima ini Jordan! Kau harus segera menuntaskannya bagaimanapun caranya!"
“Baik, aku akan selesaikan secepatnya tapi aku mohon kau bersabar sedikit," ucap Jordan memohon.
__ADS_1
“Tidak! Aku ingin kau mengadakan jumpa pers secepatnya! Dan selesaikan masalah itu disana," ucap Liona dengan nada tinggi.
“Tapi..."
“Kau pilih aku atau wanita tak jelas itu?"
“Liona apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku memilihmu."
“Kalau kau memilihku berjanjilah kau akan melakukan apa yang kuminta!"
“Ya baiklah. Aku akan melakukannya," ucap Jordan sambil memeluk Liona agar Liona tenang.
“Aku tidak mau kau dekat dengan wanita lain Jordan," ucap Liona terisak.
“Aku mengerti,aku minta maaf Liona."
****
Sepulang kerja,
Ana menunggu Neysa di depan kantor dan tak lama mobil Neysa pun datang.
“Ayo Ana!" ajak Neysa dan Ana pun masuk kedalam mobil.
“Ana aku ingin berbelanja terlebih dahulu karna hari ini gajian," ucap Neysa senang.
“Emh sepertinya aku juga ingin belanja sedikit Ney, karna bajuku sudah jelek semua."
“Wah! Tumben sekali Nona Ana ini ingin berbelanja."
“Ya mungkin aku ingin mengubah penampilanku sedikit," ucap Ana tersenyum tipis.
“Oke! Ayo kita belanja!" ucap Neysa bersemangat.
Mereka pun sampai di sebuah toko mewah dengan barang-barang branded ternama.
“Ney, sepertinya terlihat sangat mahal, aku menunggu di mobil saja."
“Loh, jangan! Ayo ikut denganku sebentar. Setelah ini aku akan mengantarmu ke pusat pembelanjaan yang terkenal murah."
“Tapi aku..."
“Sudahlah ayo! Ajak Neysa paksa dan menarik tangan Ana ke dalam toko."
Didalam toko Neysa langsung menuju ke etalase sepatu,sedangkan Ana ia berjalan pelan sambil melihat-lihat barang yang ada di dalam toko. Ia melihat sebuah gaun yang sangat cantik dan mengambilnya. Dan ia terkejut dengan harga yang di bandrol di baju itu sebesar delapan juta.
“Hakh! Mulut Ana terbuka lebar karna terkejut."
“Mahal sekali!" ucap Ana dan meletakkan kembali gaun itu. Ana pun kembali berjalan melihat-lihat.
“Jordan bisakah kau membantuku mengikat tali dibelakang punggungku?" ucap seorang wanita.
Ana langsung menghentikan jalannya karna ia mendengar nama Jordan. Asal suara itu ada disebelah ruangan. Ia membuka sedikit baju yang tergantung rapi untuk melihat siapa sosok yang dimaksud.
Betapa terkejutnya Ana melihat Jordan bersama seorang gadis yang sedang mengikatkan tali di punggung wanita yang sangat terbuka itu. Jordan meraba pinggang gadis itu dengan mesra. Gadis itu pun membalikkan tubuhnya dan mencium lembut bibir Jordan.
__ADS_1