Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Pembalasan Morgan part 2


__ADS_3

Pria itu melepaskan cekikannya dan melempar tubuh Liona sampai membanting dinding dan membuatnya terkapar. Liona merintih kesakitan merasakan tulang punggungnya yang terbentur dengan keras. Lelaki itu melangkah mendekat dan berjongkok di depan Liona. Sebuah pisau yang dikeluarkan dari saku celana pria itu membuat Liona panik.


"Tidak! Jangan! Kumohon... katakan pada Morgan aku minta maaf."


Tubuh Liona bergetar ketakutan. Namun pria di depannya itu sama sekali tak merasa kasihan padanya. Bibir tipisnya menyeringai dengan sorot mata membunuh.


"Hemh... kau wanita yang cantik. Tapi kenapa Tuan Morgan ingin membunuhmu? Apa kesalahan yang kau buat?" ucap pria itu sembari bermain pisaunya mengukir sesuatu di pipi kanan Liona.


Air mata Liona tak henti-hentinya mengalir membasahi kedua pipinya. Liona memutarkan bola matanya berusaha mencari celah melarikan diri.


Bugh! Liona melemparkan tonjokan tepat mengenai mata kiri pria itu.


"Argh! Wanita sia*l*n!" umpat pria itu kesal.


Liona berlari terbirit-birit menuju pintu keluar. Tangannya bergetar saat akan membuka ganggang pintu. Entah kenapa pintu itu tidak bisa terbuka meski Liona berusaha membukanya dengan kasar.


Pyar! Sebuah gelas melayang dan mengenai kepala Liona. Pria itu tak kehilangan akal saat Liona berusaha kabur darinya dan bergerak cepat pria itu melempar gelas yang berada di atas meja. Kini Liona terjatuh dengan lemas namun kesadarannya masih terkontrol. Plak! Tamparan mendarat di pipi Liona.


"Tolong! Tolong!" jerit Liona.


Pria itu segera membungkam mulut Liona dengan tangannya rapat-rapat.


"Nyalimu besar juga! Aku akan memberimu pelajaran karna berani memukulku!"


Dugh! Pria itu membenturkan kepala Liona ke dinding dengan kasar. Plak plak! Diikuti dengan tamparan beberapa kali. Liona hanya bisa pasrah dan menangis menahan rasa sakit.


Drrrrtttt...! Belum selesai dengan aksinya, ponsel bergetar dari saku celana pria itu. Ia pun menghentikan aksinya dan meraih ponselnya.


"Ayo cepat segera pergi! Sebentar lagi lampu akan menyala. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!" ucap pria dari dalam ponsel.


"Shit! Baiklah aku akan segera pergi."


Sambungan terputus,pria itu kembali menatap Liona yang masih gemetaran dan menangis.


"Kau beruntung malam ini! Sebenarnya aku tidak berniat membunuhmu. Aku hanya diberi perintah untuk membalas perbuatanmu pada gadis yang bernama Ana. Jangan sampai kau melakukan kesalahan untuk yang kedua kali. Ingat itu!" ancam pria itu dengan penuh penekanan.


Liona hanya mengangguk dan pria itu pergi dalam kegelapan.


"Hiks... hiks! Awas kau Ana! Karnamu aku mengalami semua kesialan ini!"


****


Flashback


5 jam sebelumnya, di dalam mobil Neysa.


Neysa mengemudikan mobilnya ditengah hujan deras yang menerpa kota malam ini.

__ADS_1


"Ana kau sudah mengobati lukamu?" tanya Neysa tanpa menoleh.


"Sudah, Pak Morgan yang mengobati lukaku tadi siang. Sekarang sudah lebih baik."


"Pak Morgan? Apa dia tahu hubunganmu dengan Jordan?"


Ana mengangguk."Iya dia tahu. Kenapa memangnya?"


Neysa menghela napas dan membuangnya dengan kasar.


"Dia tau kau sudah berpacaran dengan Jordan tapi dia masih bersikap baik padamu? Wah... aku kagum dengannya. Kalau saja ada pria seperti itu yang mendekatiku aku tidak akan membuang kesempatan itu."


Ucapan Neysa seperti sindiran halus yang ditujukan pada Ana. Namun Ana hanya tersenyum mendengarnya.


"Emh... setelah ini aku akan memasak tumis udang kesukaanmu untuk makan malam. Aku ingin menginap di rumahmu malam ini boleh, kan?" ucap Ana mengalihkan topik pembicaraan.


"Udang? Wiihh... aku suka sekali udang. Oke-oke kebetulan aku punya beberapa stok udang di kulkas," ucap Neysa senang.


Neysa tidak sadar kalau Ana mencoba mengecohkan pembicaraan mereka dan itu berhasil dilakukan Ana.


****


Morgan Narendra


"Bagaimana dengan tugasmu? Apa kau melakukannya dengan baik?" tanya Morgan pada dua orang pria di depannya.


Morgan tersenyum puas dengan hasil kerja anak buahnya. Ia sangat marah saat mendengar Liona berani menyakiti wanita yang ia cintai.


"Jangan pernah sekali lagi kau menyentuh wanitaku! Aku akan terus melindunginya sampai kapanpun," ucap Morgan di dalam hati.


"Ini bayaran kalian. Aku tambah dua kali lipat didalamnya dan segera pergi dari sini."


Morgan melemparkan dua amplop tebal kepada dua pria itu. Dengan wajah sumringah kedua pria itu memeriksa isi amplop berwarna coklat dan tersenyum lebar.


"Terimakasih Tuan. Saya permisi."


Kedua pria itu melangkah pergi dengan perasaannya senang. Morgan meraih ponselnya melakukan panggilan pada seseorang.


Tuuuuuutttt....bunyi sambungan telepon.


"Halo... selamat malam Tuan."


"Reza aku ingin memberimu tugas penting."


"Baik Tuan, apa yang harus saya lakukan?"


"Aku ingin kau mengawasi seorang wanita bernama Liona. Setelah ini aku akan mengirimkan email tentang identitasnya. Perhatikan setiap gerak-geriknya dan laporkan padaku sedetail mungkin."

__ADS_1


"Baik saya mengerti."


****


Keesokan paginya.


Ziko sudah memarkirkan mobilnya di basemant sebuah apartemen. Hari ini ia sudah membuat janji dengan Liona untuk bertemu di apartemennya pagi ini. Ziko melangkahkan kakinya menuju apartemen Liona yang berada di lantai tiga.


Ting... tong... ting... tong!


Cklek! Pintu itu langsung terbuka tanpa menunggu lama. Ziko tersenyum saat Liona membuka pintu namun senyumnya tenggelam saat melihat wajah Liona yang lebam dimana- dimana.


"Liona ada apa denganmu?!"


Liona tidak menjawab dan hanya terisak pelan sembari menundukkan kepalanya.


"Ayo katakan padaku Liona. Siapa yang melakukan ini padamu? Aku akan membuat tuntutan padanya."


Ziko sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Diperhatikannya dengan seksama sisa-sisa tindakan kekerasan yang masih membekas di beberapa bagian anggota tubuh. Liona tampak lemah dan pucat. Ziko dengan sigap memapah Liona ke ruang tamu dan mendudukkannya perlahan.


"Liona tenangkan dirimu dan tatap aku."


Liona mencoba menenangkan pikirannya dan mengatur napas.


"Tadi malam seseorang yang tidak kukenal tiba-tiba masuk ke apartemenku."


"Siapa dia? Apa kau mengingat wajahnya?"


Liona menggeleng pelan. Ia mencoba mengingat wajah pria itu tapi dikeadaan gelap tidak memungkinkannya melihat dengan jelas. Ditambah lagi pria itu memakai penutup mulut yang menutupi setengah wajahnya.


"Aku tidak mengenalnya tapi dia adalah orang suruhan Morgan."


Ziko mengernyit."Morgan? Siapa dia?"


"Dia adalah kakak kandung Jordan. Dia juga menyukai Ana. Dia balas dendam karna aku juga bertindak kasar pada Ana beberapa hari lalu."


"Kau apakan Ana? Sampai Morgan murka seperti ini?"


Liona kembali terdiam. Kini Ziko mengerti meski tak mendapat jawaban dari Liona. Itu terlihat dari sorot matanya.


"Seharusnya kau memberitahuku dulu, bagaimana jika Morgan benar-benar membunuhmu? Apa kau tidak takut mati?"


"Maaf, aku masih ingin hidup. Aku hanya emosi saat melihat mereka bahagia di bawah penderitaanku."


"Hemh...baiklah aku mengerti. Lalu apa rencanamu sekarang?"


"Aku akan tetap menggunakan rencana awal."

__ADS_1


__ADS_2