Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Kedatangan Yang Mengejutkan


__ADS_3

Jam 03.00 PM Ana membawa sebuah kantong besar yang berisi sampah dan akan ia buang di truk sampah. Setelah selesai Ana kembali menuju kantor untuk membersihkan kantin. Ia berjalan menyusuri koridor yang sepi lalu ia berpapasan dengan pegawai lain dan menabraknya dengan sengaja.


"Awh! Ana tersungkur ke bawah."


Namun wanita itu hanya menatapnya dingin dan melipatkan tangannya dengan angkuh.


“Kau wanita yang bersama Pak Morgan tadi pagi, kan?" tanya wanita itu. Ana hanya terdiam tak menjawab.


“Wanita murahan dan kotor sepertimu sungguh tidak tau malu berada dekat dengan Morgan!"ucapnya dengan nada tinggi.


Namun Ana hanya diam dan menunduk.  Lalu wanita itu ikut berjongkok dan menarik kesar rambut Ana. Ana merintis kesakitan dibuatnya dan wanita itu berbisik pelan ditelinga Ana.


“Pergilah dari hidup Morgan wanita ******! Kau tidak pantas bersamanya!" ucapnya dan melepaskan cengkramannya dengan kasar dan Ana kembali tersungkur.


Wanita itu pun pergi begitu saja. Ana berdiri dengan perlahan dan mengelus kepalanya pelan yang terasa sakit.


Laa...laa...! Dering ponsel Ana berdering. Ana merogoh saku celananya dan meraih ponselnya.


“Halo siapa ini?"


“Hay Ana, aku Niko manager Jordan kau masih mengingatku?"


“Ohh, tentu saja aku mengingatmu ada apa?"


“Begini baru saja Jordan menelponku entah karna urusan apa, aku ingin mengajakmu kesana bersama untuk memeriahkan suasana saja."


“Emh... apakah Jordan tau kalau kau mengajakku?"


“Belum, tapi nanti aku akan membicarakannya pada Jordan. Dia pasti akan setuju aku hanya ingin mengajakmu minum teh bersama dan ingin menayakan bagaimana hubungan kalian selama ini."


“Oke aku akan kesana sepulang kerja."


“Yeay setuju! Kalau begitu sampai ketemu nanti."


“Ohh ya, apartemen Jordan ada di jalan ****** apartemen Pondok Indah no 305 lantai 55," ucap Niko dan menutup sambungan telepon.


Ana memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Hatinya sedikit senang karna ia mempunyai alasan untuk bertemu dengan Jordan.


Perasaan ini tidak bisa ia tahan dan mengalir begitu saja meski ia tahu bahwa ia tak mungkin bersama dengan Jordan dan hanya bertepuk sebelah tangan.


Ia pergi ke ruang karyawan khusus CS dan membuka loker pribadinya. Kotak makan siang dari Morgan belum sempat ia jamak. Ia tidak ada nafsu makan sama sekali tapi sangat disayangkan jika makanan itu harus dibuang. 

__ADS_1


Ana pun membuka kotak makanan itu yang terdapat nasi, sayuran, daging serta beberapa buah yang sudah terpotong rapi. Terlihat enak dan bergizi, namun Ana tidak punya selera untuk makan. Ia kembali menutup makanannya dan memasukkannya di dalam tas. Ia pun melanjutkan pekerjaannya yaitu membersihkan kantin yang tadi sempat tertunda.


Dua jam kemudian Ana selesai membersihkan ruangan kantin yang luas itu. Ia menatap jam yang menunjukkan 05.00 PM yang berarti waktunya untuk pulang. Ana pergi ke gudang dimana alat-alat kebersihan disimpan. Ia mengganti pakaiannya dan mencuci wajahnya di toilet. Ana melihat wajahnya yang kusam dan tanpa polesan.


“Aku ingin berdandan sedikit, tapi bedak pun aku tak punya," gumam Ana.


Ia berpikir sejenak dan teringat Neysa sahabatnya itu yang punya banyak koleksi alat make up yang lengkap. Ana pun merasa senang dan meraih ponselnya memanggil sahabatnya itu.


“Halo Ney, sedang apa?"


“Aku sedang bersiap untuk pulang."


“Aku membutuhkan pertolonganmu sekarang. Aku tunggu di toilet."


“Baiklah tunggu aku sebentar lagi!"


Ana pun menunggu Neysa di dalam toilet sembari merapikan rambutnya. Tak lama Neysa pun datang.


“Ada apa Ana?"


“Kau membawa alat make up?"


“Emh... bisakah kau merias wajahku sekarang?"


“Apa? Aku tidak salah dengarkan? Tumben sekali kau mau dandan."


“Aku hanya ingin tampil sedikit berbeda saja hehehe..." ucap Ana terkekeh.


“Wah, wah! Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu padaku."


“Hehehe... nanti saja aku akan cerita, sekarang aku sedang buru-buru jadi cepat rias wajahku tapi jangan terlalu tebal."


“Ya, ya, ya baiklah Nona Ana. Sekarang tutup matamu dulu," perintah Neysa.


Ana ppun menutup matanya dan neysa merogoh tasnya mengambil kotak rias kecilnya di dalam tas. Neysa memberikan foundation secara merata pada wajah Ana,kemudain menaburkan bedak tabur, merapikan alis Ana dengan pensil alis, memakaikan maskara pada bulu mata Ana yang lentik, memoleskan liptint pada bibirnya dan sentuhan terakhir yaitu blas on tipis pada pipinya.


“Nah selesai!" ucap Neysa bersemangat.


Anapun membuka matanya dan menatap cermin. Ia sangat suka penampilannya yang sekarang terlihat fresh dan natural.


“Terimakasih Ney, aku akan mentraktirmu besok."

__ADS_1


Anapun pergi dan mencari taksi agar cepat sampai. Ia menunggu di depan kantor dan tak lama taksi pun datang dan Ana pun melambaikan tangannya agar taksi itu berhenti. Dari kejauhan Morgan melihat Ana yang sedang terburu-buru dan bernampilan berbeda hari ini. Tapi ia menyimpan rasa penasarannya itu karna sangat sibuk dengan pekerjaannya. Morgan pun masuk ke dalam mobil untuk bertemu dengan investor lain.


“Pak antarkan saya ke Apartemen Permata Indah," ucap Ana pada supir taksi.


“Baik Nona," ucapnya dan kembali menyetir.


Sekitar dua puluh menit Ana sampai di depan apartemen yang mencakar langit dan begitu mewah dari luar. Ana pun memberikan ongkos taksi dan turun dari mobil. Ia masuk kedalam dan naik lift menuju lantai 55 dimana apartemen Jordan berada. Ana memencet bel dan menunggu tapi tak ada yang merespon Ana kembali memencet bel dan


Ckleekk! Pintu terbuka. Didepannya sekarang ada seorang gadis yang membukakan pintu.


Ana bertanya dalam hati. “Siapa gadis ini? Kenapa bisa ada didalam apartemen Jordan? Apakah dia adalah Liona yang beberapa hari lalu mencium Jordan di toko itu?" gumam Ana.


“Kamu siapa?" tanya Liona.


“Saya teman Jordan," ucapnya tanpa menyebutkan nama.


“Teman?? Setau saya Jordan tidak punya teman perempuan?" tanya Liona curiga.


Namun Ana hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.


“Hemh... baiklah kau boleh masuk," ucap Liona dan Ana pun masuk.


“Siapa sayang?" tanya Jordan.


“Entahlah dia bilang temanmu," jawab Liona.


Jordan melangkah kedepan untuk melihat siapa yang datang untuk bertamu, namun betapa terkejutnya Jordan melihat Ana yang tiba-tiba datang kemari.


“Hai Jordan," sapa Ana.


“Anaa?!" ucap Jordan terkejut.


“Ohh jadi dia wanita bernama Ana itu?" tanya Liona sambil mentap Ana dari atas ke bawah.


“Emh... Liona bisakah kau meninggalkan kami berdua," pinta Jordan.


Liona pun terpaksa pergi meski ingin tau kenapa wanita itu berani kesini sendirian tanpa diundang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2