
“Aku belum memberitahunya Ana. Aku masih menunggu waktu yang tepat.”
“Kau keberatan Ana?”
Ana menggelengkan kepala.”Tak apa Jordan. Aku tau itu tak mudah untukmu.”
Jordan tertegun. Untuk kesekian kalinya ia bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia meninggalkan Ana dan kembali pada Liona? Atau sebaliknya, ia meninggalkan Liona dan bersama Ana seakan tak pernah terjadi apapun. Pikirannya melayang tak tentu arah. Sampai Ana berteriak dan membuatnya sadar ada seekor kucing yang tiba-tiba melintas.
“Awas Jordan!” teriak Ana.
Jordan terkejut dan menginjak pedal rem hingga kami terpental ke depan. Untung saja sabuk pengaman menjadi penyelamat kami. Jika tidak, mungkin kepala kami sudah terbentur keras. Jantung Jordan berdebar cepat dan ia terlihat syok. Tubuhnya bergetar ketakutan.
“Jordan kau tak apa?” tanya Ana yang juga terkejut.
“Aku hanya kaget Ana. Aku minta maaf karna membuatmu nyaris terluka.”
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan Jordan? Tidak seperti biasanya kau melamun saat menyetir.”
Jordan masih terdiam dan enggan menjawab pertanyaan Ana. Ana merasa bingung dengan sikap Jordan. Ia pun mengambil sebotol air dari tasnya yang sempat ia bawa dan memberikannya pada Jordan.
“Minumlah dulu Jordan. Tenangkan dirimu.”
Tangan Jordan yang masih gemetar meraih botol air itu. Jordan mencoba menenangkan pikirannya. Ana melihat seperti ada sesuatu yang Jordan sembunyikan darinya. Padahal di depan kantor Jordan seperti baik-baik saja. Bahkan kami sempat bercanda dan tertawa, tapi setelah ia menanyakan perihal Liona, Jordan langsung terdiam. Apakah mungkin terjadi sesuatu diantara mereka berdua? dan Jordan tak ingin ia tahu.
Jordan menyalakan kembali mobilnya. Disepanjang jalan kami hanya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Mobil Jordan berhenti di depan kost Ana, tapi Jordan tetap terdiam. Ana pun memutuskan turun dari mobil dan Jordan juga tetap diam membisu. Mobilnya melaju meninggalkan kekecewaan di hati Ana.
“Sebenarnya ada apa denganmu Jordan? Apa yang kau sembunyikan dariku?” gumam Ana. Rasa penasaran menyelimuti perasaan Ana. Ana melangkahkan kakinya dengan berat hati.
Ting, tung! Ponsel Ana berbunyi menandakan pesan singkat masuk. Ana merogoh tasnya mencari ponsel dan membuka pesan singkat dari Jordan.
“Aku akan menjemputmu lagi besok. Maaf atas sikapku hari ini.”tulis Jordan.
“Kenapa kau langsung pergi dan tidak mengatakannya tadi?”
“Dasar laki-laki aneh!”gerutu Ana.
****
Di sebuah restoran, Morgan duduk dengan tenang sambil meminum segelas wine. Sudah dua jam ia berada di restoran. Ia sedang menunggu seseorang yang belum kelihatan batang hidungnya sedari tadi. Morgan tampak kesal dan ingin beranjak pergi. Namun niatnya tak jadi ia lakukan saat melihat seorang wanita berbaju dres casual putih berjalan ke arahnya dengan elegan. Wanita itu tersenyum lembut kepada Morgan. Wanita yang dimaksud adalah Liona. Morgan sengaja mengundangnya karna ingin membahas sesuatu yang penting.
“Hai Kak... apa aku membuatmu menunggu?”
__ADS_1
“Sepertinya kau memang sengaja ingin membuatku menunggu. Tidak,kah kau sadar siapa kau dan siapa aku?”
Morgan tampak tak senang dengan sikap Liona yang membuatnya menunggu terlalu lama. Tapi Liona tak merasa bersalah sama sekali. Ia dengan santainya duduk dan menuangkan wine di gelasnya meminumnya dengan nikmat.
“Wine ini enak. Sayang sekali hampir habis. Bisakah Kakak pesankan lagi?”
Liona tersenyum senang seakan bisa menang menghadapi sikap Morgan yang dingin padanya. Morgan ingin segera pergi dari sini, tapi ia tak mau kehilangan kesempatan bekerja sama dengan Liona. Morgan melambaikan tangannya pada seorang pelayan. Pelayan itupun datang menghampiri Morgan.
“Selamat malam Pak. Ada yang anda perlukan?”
“Aku ingin sebotol wine jenis cheval blanc (1947).”
“Baik Pak, akan saya bawakan segera.”
Morgan menatap tajam ke arah Liona yang sedang tersenyum dengan angkuh. Wanita licik ini memang pantas bersama Jordan. Kecantikannya tak sebanding dengan Ana yang berkepribadian baik. “Aku akan membuatmu mengerti apa yang pantas dan tidak Jordan!” gumam Morgan dalam hati.
“Apa yang kau Kakak inginkan dariku?” tanya Liona membuka pembicaraan.
“Aku ingin memberi tahumu sesuatu yang belum kau ketahui.”
“Apa maksudmu Kak?”
Morgan tersenyum kecut.”Kau tahu kalau Jordan sedang selingkuh di belakangmu?”
“Kau bilang ini lelucon? Cih... malang sekali nasibmu Liona.”
“Siapa wanita itu? Katakan padaku!”
Air mata Liona hampir tumpah tak bisa membendung perasaannya yang rapuh. Tubuhnya bergetar, seperti ada batu besar yang menghantam kepadanya bertubi-tubi.
“Aku yakin kau sendiri tau siapa yang kumaksud.”
Morgan melipatkan tangannya. Mata mereka saling bertemu. Tersirat rasa tidak percaya dari mata Liona saat Morgan memperhatikannya.
“Mungkinkah wanita yang kau maksud adalah Ana?”
Morgan mengangguk.”Kau benar. Mereka selalu bersama belakangan ini. Dan aku merasa terganggu!”
Tak terasa air mata Liona jatuh setetes demi setetes. Meski ia sudah mengira hal ini pasti akan terjadi tapi perasaan Liona terguncang mendengarnya. Morgan menyodorkan sebuah sapu tangan biru pada Liona.
“Aku tidak memerlukannya. Terimakasih.”
__ADS_1
Liona menolak perhatian dari Morgan karna ia tak mau di kasihani dan terlihat terpuruk oleh orang seperti Morgan. Ia mengusap air matanya dan menuangkan wine segelas penuh lalu menghabisnya sekali teguk.
“Permisi Pak. Ini pesanan anda.”
Pelayan itu membawa sebotol wine yang dipesan oleh Morgan dan langsung pergi. Liona merasa tertekan dengan apa yang terjadi. Matanya yang sayup menerawang jauh pada bayangan dirinya di gelas kosong yang baru saja ia pegang.
“Kenapa kau memberitahuku soal ini?”
“Karna menurutku kau harus tau soal mereka.”
“Aku rasa bukan itu maksudmu sebenarnya.”
Morgan tersenyum kecil sambil meminum winenya.”Kenapa kau malah mencurigaiku? Bukankah kau seharusnya berterima kasih padaku? Kau tidak mungkin mendengarnya langsung dari Jordan, jadi aku memberitahumu sedikit lebih cepat.”
“Kenapa kalian bisa menyukai wanita rendah seperti Ana! Aku sungguh tidak mengerti.”
“Itu bukan urusanmu Liona. Disisi luar dia memang tak sebanding denganmu. Tapi jika kau melihat dan mengenalnya lebih dalam. Dia jauh diatasmu.”
Liona tersenyum kecut.”Bagaimana bisa kau membandingkanku dengan wanita seperti Ana? Dari segi apapun aku jauh seribu kali lebih baik darinya!
“Benarkah? Jika yang kau katakan itu benar. Lalu kenapa Jordan bisa jatuh cinta pada Ana dan bukan kau?”
“Aku yakin Ana menggodanya. Dan itu hanya sebuah kesalahan.”
“Kasihan sekali kau Liona. Kau seperti menepisnya meski kenyataan sudah ada didepanmu!”
“Hahaha... jangan mengkasihaniku! Aku yakin kau lebih menderita dariku!”
“Kau salah Liona. Cintaku memang bertepuk sebelah tangan, tapi tidak sepertimu yang dikhianati mentah-mentah!
“Aku yakin harga dirimu terluka karna Ana tak sebanding denganmu.”
“Tutup mulutmu! Aku tak terima jika harus dibandingkan dengan wanita kotor yang merebut kekasih orang lain!”
__ADS_1