
Keesekon paginya,
Ana berangkat kerja seperti biasa dengan mengendarai transportasi umum yaitu bus.
Ana menunggu bus di halte dengan duduk sembari mendengarkan musik dengan radio kecil yang selalu ia bawa kemana-mana.
Earphone melekat ditelinganya dan memanggut-manggutkan kepalanya menikmati alunan musik.
Tak lama bus datang dan Ana berdiri, bersiap menaiki bus menuju kantor.
Ana berdesak-desakan dengan penumpang lain, hingga nyaris terdorong keluar.
Ana perlahan menaiki tangga bus dengan hati-hati dan masuk mencari tempat duduk yang kosong.
Tapi sayang, semua kursi telah dipenuhi penumpang ke tujuan yang searah.
Ana terpaksa berdiri dengan penumpang lain yang tidak kebagian kursi dan berpegangan pada gantungan tangan handle busway yang menggantung ditengah-tengah kursi.
Ana masih menikmati alunan musiknya di radio, sekitar dua puluh menit kemudian bus berhenti di halte kedua mengangkut penumpang lainnya. Seorang pria paruh baya memandangi Ana dengan tatapan genit.
Ana tak mempedulikannya dan memalingkan wajahnya. Lalu Ana merasa ada sesuatu yang meraba bagian tubuhnya dan meremas-remas pant**tnya dengan penuh nafsu.
Sontak Ana terkejut dan menoleh kebelakang tapi, tak ada apapun. Ana memperhatikan orang disebelahnya tapi tak ada yang mencurigakan.
Ana kembali menatap kedepan tetapi tangan itu kembali meremas-remas pant**tnya. Ana mencengkram tangan itu dengan kuat dan memelintir tangan pelaku sampai merintis kesakitan.
“Dasar baji***an sia**lan!" umpat Ana geram.
“Aargh! Ampun! Lepaskan tanganku!" ucapnya merintis.
“Cih! Dasar Bapak tua bre***sek! Setelah ini aku akan membawamu ke kantor polisi!" ancam Ana.
Semua penumpang melotot pada pelaku itu dan mereka mencibir tindakan pelaku yang tak senonoh.
“Tidak, jangan! Aku minta maaf!" katanya sambil meringis dan menjambak rambut Ana dengan kuat.
Ana selalu memakai Wig pemberian Neysa dan kini wig itu terlepas dari kepalanya.
Rambut Ana terurai lepas dengan bebas. Salah satu penumpang mengenali Ana dan berkata,
“Hei... bukankah kau wanita yang bersama dengan Jordan?" tanya penumpang itu.
Ana segera melepaskan tangan pelaku dan mengambil kembali wignya yang tergeletak.
Dan pada saat itu juga bus berhenti dekat dengan kantor Ana, pelaku berlari terbirit-birit berhasil lolos. Ana ingin mengejarnya tapi dihadang oleh penumpang yang sibuk memotret dirinya.
Dan Ana berusaha menerobos para penumpang itu dengan sekuat tenaga tetapi para penumpang itu tetap berusaha menarik, menjambak, mendorong dengan kasar sampai Ana jatuh tersungkur.
Ana meringis kesakitan mengelus-elus pelan lutut kakinya yang terluka dan berdarah.Tapi para penumpang masih tak mempedulikannya dan terus beraksi.
__ADS_1
Sekali lagi Ana mencoba bangkit dan mencari celah diantara kerumunan. Supir bus juga ikut menenangkan para penumpang yang menggila dan mendekap Ana dengan Aman.
Supir bus itu berhasil membawa Ana keluar dari bus dan membawanya ke pos penjagaan terdekat.
“Apakah kau tidak apa Nona?" tanya supir bus cemas.
“Ya Pak, saya baik-baik saja. Hanya beberapa luka ringan," ucap Ana.
“Sebaiknya obati dulu lukamu itu," ucap salah satu penjaga.
“Saya akan mengobatinya setelah ini, karna saya sangat terlambat untuk bekerja," ucap Ana sembari melihat jam tangan yang melingkar ditangannya.
“Tapi Nona, lukamu terlihat serius dan kau tidak bisa berjalan dengan baik," ucap penjaga khawatir.
“Ya benar, sebaiknya kau mengambil cuti dulu sampai lukamu sembuh," ucap supir bus.
“Saya sungguh baik-baik saja sekarang.
Bisakah bapak mengantar saya ke kantor PT.Mandala internasional yang disebrang jalan?" pinta Ana kepada penjaga.
“Baiklah, kalau kamu memaksa," ucap penjaga dan mengantar Ana sambil membopongnya perlahan.
“Terimakasih atas bantuannya Pak," ucap Ana kepada supir bus.
“Ya Nona, tidak masalah."
“Ana apa yang terjadi? Kenapa dengan luka-lukamu itu?" tanya Morgan cemas.
“Begini Tuan tadi Nona ini... ucapan penjaga terpotong karna Ana memberi aba-aba padanya untuk tidak memberi tahu."
“Kenapa Pak? Tadi kenapa dengan Nona ini?" tanya Morgan.
“Ohh... emh. Saya kurang tahu Tuan. Bisakah Tuan menggantikan saya membopong Nona ini?" tanya penjaga.
“Aahh... ya tentu! Dengan perlahan Morgan memapah Ana hati-hati."
“Baiklah, saya permisi dulu Nona, Tuan," ucapnya.
“Terimaksih banyak Pak sudah membantu saya."
“Ya Nona sama-sama," ucap penjaga dan berlalu pergi.
“Ayo Ana aku akan mengantarmu ke ruanganku dulu untuk mengobati lukamu itu,"
“Tunggu Pak! Saya tidak mau ke ruangan Bapak! Apa kata karyawan lain nanti?"
“Aku tidak peduli Ana. Keadaanmu lebih penting bagiku."
Morgan membopong Ana tapi Ana tetap tidak mau melangkahkan kakinya. Dengan paksa Morgan menggendong tubuh Ana yang mungil itu.
__ADS_1
“Pak Morgan! Tolong turunkan saya! Saya malu dilihat banyak orang!"
Tapi Morgan tak mengubris teriakan Ana dan melangkah masuk ke dalam kantor.
Semua mata memandangi mereka terkejut dan menjadi sangat heboh. Ana pun menyembunyikan wajahnya tak berani memperlihatkannya.
Neysa juga melongo memperhatikan mereka seakan tak percaya CEO Morgan yang amat tampan itu kini menggendong seorang wanita dengan begitu penuh perhatian.
"Wahh... kau hebat Ana!" gumam Neysa.
Morgan masuk kedalam lift khusus menuju ruangannya. Pintu lift terbuka dan kebetulan Sinta tepat berada didepan lift yang juga tak kalah terkejut melihat mereka.
“Sinta cepat! Kau ambilkan kotak obat dan segera bawa ke ruanganku sekarang juga!" perintah Morgan.
"Baik Pak," ucap Sinta dan segera berlari.
Morgan menggeletakkan Ana di sofa dengan hati-hati dan Ana masih merintis kesakitan.Tak lama Sinta membawakan kotak obat dan memberikannya pada Morgan.
“Pak biarkan saya saja yang mengobatinya."
“Tidak perlu Sinta! Lanjutkan saja pekerjaanmu sekarang."
“Ya Pak saya mengerti," ucap Sinta dan meninggalkan ruangan.
Morgan membuka kotak obatnya dan menyemprotkan antiseptik pada luka Ana. Dengan perlahan Morgan membersihkan darah pada lutut Ana dengan kasa.
Tak hanya itu, beberapa cakaran dari penumpang membekas di pipi Ana. Dengan wajah khawatir Morgan mengoleskan salep pada lukanya.
“Aaw! Perih sekali!" jerit Ana pelan.
“Tahan Ana. Ini tidak akan lama," ucap Morgan sambil mengoleskan salep.
“Kenapa ini bisa terjadi Ana?"
“Saya hanya kurang hati-hati saja tadi di bus Pak," ucap Ana berbohong.
“Kurang hati-hati bagaimana Ana? Apakah kau digaanggu seseorang? Biar aku yang akan menghadapinya."
“Ahh... bukan begitu Pak. Tadi di bus ada dua orang yang sedang beradu mulut sampai mereka melakukan aksi saling memukul dan bertindak kasar, akhirnya saya mencoba menghadang dan malah seperti ini."
“Astaga Ana! Memangnya kau superwoman yang bisa menyelesaikan semua masalah? Kenapa kau sangat nekat?"
Ana hanya terseyum mananggapinya dan merasa tak enak hati harus berbohong.
"Semoga Morgan tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya untuk waktu yang lama, doa Ana di dalam hati."
Morgan selesai mengobati luka Ana pada lututnya. Kini Morgan mengambil selembar plester untuk menutupi bekas cakaran di pipi Ana.Tapi Morgan salah fokus saat melihat bibir Ana yang tipis dan merona alami.
Mata mereka kini saling memandang ragu. Tak tahan dengan situasi yang begitu menegangkan, Morgan perlahan mendekatkan wajahnya pada bibir Ana namun Ana langsung memalingkan wajahnya.
__ADS_1