Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Rencana Liona


__ADS_3

Didalam kegelapan bioskop Jordan dengan masa bodoh ******* bibir Ana. Ana merasa malu dan menggigit bibir Jordan.


“Awh! Kenapa kau malah menggigitku Ana!”


“Biar saja! Kau tidak lihat kita ada dimana? Dasar mesum!” umpat Ana kesal.


Jordan terkekeh.”Kau malu Ana? Kalau begitu ayo kita pulang dan melanjutkannya di rumah.”


Ana melotot, ada beberapa orang yang sempat melihat kelakuan mereka berdua dan tersenyum geli.


“Tidak! Aku akan pulang sendiri setelah ini,” desahnya kesal.


“Hehehe... aku hanya bercanda. Ayolah jangan marah,” rayu Jordan.


Ana pura-pura tak mendengar. Ia melanjutkan aktivitasnya menonton lagi, tapi Jordan tetap mengoceh meminta maaf agar ia tak marah lagi.


****


Di Apartemen Liona,


Liona menelukupkan kakinya dan menyembunyikan wajahnya sembari menagis tersedu-sedu. Keheningan membuat tangisan Liona yang hanya terisak kecil menjadi menggema di langit-langit kamar. Barang-barang jatuh berserakan menjadi saksi kemarahan Liona sesaat tadi. Siapa yang tidak akan murka jika berada di posisinya saat ini. Ketidakadilan dan penghianatan membuat dirinya seperti dilempar ke tepi jurang tanpa dasar.


Liona beranjak dari tempat tidur. Melayangkan pandangannya di cermin sudut kamar. Ditatapnya lekat-lekat penampilannya yang tak karuan. Air mata masih mengalir begitu saja di sudut matanya. Dadanya terasa begitu sesak, rasa sakit ini harus terbalaskan.


“Lihat saja Ana, aku akan membalasmu lebih sakit dari apa yang kurasakan!”


Seringai jahat terpancar di senyumannya. Seperti akan ada hal buruk yang akan ia buat untuk Ana. Liona meraih ponselnya di atas meja dan melakukan panggilan pada seseorang.


“Halo disini wartawan Ziko,” jawabnya.


“Aku Liona, aku punya berita eklusif tentang Jordan yang akan aku berikan cuma-cuma untukmu. Kita bertemu satu jam lagi restoran xxx.”


“Liona? Benarkah ini Liona? Kita sudah lama tak bertemu bagai....”


Liona langsung menutupnya tanpa menunggu jawaban dari Ziko. Ia langsung melempar ponselnya ke atas kasur. Ziko adalah seorang wartawan sekaligus kerabatnya saat masih sekolah. Mereka dulu cukup dekat namun karna kesibukan masing-masing mereka jarang bertemu atau hanya sekedar berkirim pesan. Liona menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya berkelana tak tentu arah. Kebencian yang nyata membuat Liona ingin menghabisi Ana hidup-hidup apapun caranya. Tapi memberinya hukuman perlahan namun pasti mungkin itu lebih menyenangkan. Lagi-lagi seringai jahat mucul di senyum kecilnya.


“Aku akan membalasmu pelan-pelan Ana. Satu-persatu sampai kau benar-benar hancur!”


Satu jam kemudian, Liona telah sampai di restoran yang ia sebut. Ia berjalan bak model profesional yang membuat orang disekelilingnya terpana memandang ke arahnya. Langkahnya terhenti dan matanya berkeliling menyapu ruangan. Liona melemparkan pandangannya pada seorang pria maskulin yang sedang melambaikan tangan dan tersenyum. Tak salah lagi, pria itu adalah Ziko. Liona melanjutkan langkahnya mendekat. Ziko berdiri dan menggeser kursi untuk Liona.

__ADS_1


“Hai Liona lama tidak bertemu kau semakin cantik saja,” pujinya.


Liona tersenyum.”Terimakasih, aku hampir tak mengenalimu Ziko. Kau sangat berbeda saat terakhir kali kita bertemu.”


Liona duduk dan menyilangkan kakinya dengan anggun. Ziko memandang gadis di depannya itu lekat-lekat. Menatap dari ujung kaki hingga kepala tak henti-hentinya berdecak kagum dalam hati.


“Ziko kau sudah pesan sesuatu?”


Ziko tak menjawab, masih meresapi kecantikan Liona disetiap gerak-geriknya.


“Ziko? Melambaikan tangan agar Ziko tersadar.”


“Hei! Sadarlah! Bisa-bisanya kau melamun disaat seperti ini.”


Liona menarik hidung Ziko dengan gemas karna mengabaikannya. Ziko terkesiap dan langsung sadar dari alam bawahnya.


“Hah? Oh... maaf Liona, kau bilang apa tadi?” ucapnya kelimpungan.


“Kau sudah pesan sesuatu?” ucapnya sambil membolak-balik buku menu.


“Belum,kau ingin apa Liona? Aku akan mentraktirmu hari ini,” ucapnya tersenyum penuh arti.


Ziko menepukkan tangannya pada weiters agar mendatangi mereka. Pelayan itu paham dan melangkah pelan mendekat.


“Iya, saya ingin xxxx dan jus xxx. Kau pesan apa Ziko?”


“Ahh... aku pesan itu juga,” asal menjawab.


Pelayan itu mengangguk dan menulisnya di sebuah buku kecil.


“Baik Kak, mohon di tunggu,” ucapnya dan berlalu pergi.


“Ziko bagaimana kabarmu? Apa kau masih menjadi wartawan sampai sekarang?”


Ziko mengangguk.” Iya seperti yang kau lihat, aku masih menekuni pekerjaan ini sampai sekarang.”


“Aku sempat terkejut karna kau menghubungiku setelah sekian lama Liona, pasti ada hal mendesak yang ingin kau bicarakan.”


Ziko langsung to the point pada titik permasalahan. Ia sangat penasaran apa yang ingin dibicarakan tentang Jordan. Ziko mengenal Jordan hanya sebatas patner kerja. Ia pernah beberapa kali melakukan wawancara langsung dengan Jordan karna Jordan adalah aktor terkenal selama ini. Berbeda dengan Liona, mereka sudah saling mengenal sejak menginjak bangku sekolah sma.

__ADS_1


“Aku ingin mengajakmu bekerja sama. Aku yakin ini akan menguntungkan kita berdua.”


Ziko mengernyit,mereka saling bersitatap penuh arti. Ziko seperti paham bahwa Liona sepertinya mempunyai hubungan khusus dengan Jordan yang tidak ia ketahui.


“Baiklah, coba ceritakan. Aku akan mendengarnya dengan baik,” ucap Ziko sambil melipatkan tangannya di atas meja.


Liona meremas tangannya penuh kebencian. Gejolak emosi kembali merasuki seluruh tubuhnya. Rangkaian kalimat ia lontarkan pada Ziko dengan perasaan nanar. Air mata seperti akan tumpah di pelupuk matanya. Dengan sekuat tenaga Liona berusaha berbicara setenang mungkin. Namun Ziko mulai menyadari dibalik suara Liona yang mulai serak menahan tangis di dalam hati. Liona berbicara panjang lebar dimulai dari  ia bertemu Jordan, berpacaran, sampai ke tahap sekarang dengan perasaan yang campur aduk. Ziko menggenggam tangan Liona lembut, berusaha menenangkan gadis di depannya yang mulai menangis sesegukan.


“Tenangkan dirimu Liona, aku akan berusaha membantu sebisaku.”


“Kau benar-benar akan membantuku Ziko? Untuk sekarang aku hanya bisa mengandalkanmu,” ucapnya sendu.


Ziko mengangguk.”Ya, aku akan membantumu. Apa yang harus kulakukan untukmu?”


Liona menghela napas. Ada perasaan lega yang membuat dadanya sedikit longgar.


“Aku ingin kau membuat artikel yang bisa menjatuhkan nama Jordan.”


“Baiklah, tapi aku butuh sedikit informasi tentang hubungan mereka dan identitas dari wanita itu.”


“Aku mengerti, aku akan menyiapkannya besok.”


Langkah awal dari sebuah rencana sedang berjalan mulus tanpa kendala. Liona yakin dimulai dari hari ini pada masanya nanti Jordan akan kembali padanya dan dengan besar hati ia akan memulai  semuanya dari awal bersama Jordan.


****


Morgan Narendra


Morgan sudah memarkirkan mobilnya tepat di depan kost Ana. Sudah dua jam ia mondar-mandir seperti vacuum cleaner. Ia tidak tau apa yang sedang ia lakukan sekarang, ia yakin Ana tidak akan suka dengan kedatangannya. Walau begitu hatinya tetap memaksakan untuk kesini. Tak lama sebuah mobil berjalan ke arahnya. Sepertinya ia tahu siapa pemilik mobil itu. Mobil itu berhenti, tatapan tak senang mengarah pada Morgan. Jordan dan Ana turun dari mobil tanpa ekspresi. Jordan mendekat ke arah Morgan. Menatapnya dengan sorot mata tajam.


“Sedang apa kau kesini?”


Morgan tersenyum kecut, memalingkan wajahnya dan berjalan ke arah Ana yang masih berdiri di depan mobil.


“Ada yang ingin aku sampaikan padamu Ana.”


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2