
Keesokan paginya,
Ana beraktifitas seperti biasa, setelah membersihkan semua ruangan karyawan, dengan letih Ana duduk dan menyeka keringatnya yang bercucuran. Seseorang berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun. Ana hanya terdiam mengetahui bahwa orang itu adalah Neysa. Ana berdiri dan beranjak pergi. Ia berusaha menutupi perasaannya agar tak tampak lemah di depan Neysa. Ia mengerti kalau Neysa masih marah padanya dan ia mencoba untuk membiarkan semuanya sampai Neysa paham akan keputusannya.
Apapun yang terjadi ia akan tetap bersama Jordan meski dunia ini menertawakannya, ia tak peduli. Baru tiga langkah ia berjalan, tampak Morgan sedang berjalan bersama sekretarisnya Sinta. Langkah Morgan terhenti dan memandang Ana dengan begitu dalam. Seperti ada rasa kecewa dimatanya saat ia melihat ke arah Ana. Morgan semakin mendekat dan kini kami berhadapan.
Mata kami bertemu tapi Ana langsung memalingkan wajahnya. Morgan berlutut di depan Ana. Ana terkejut begitu juga dengan Sinta. Tanpa diduga Morgan mengikatkan tali sepatu Ana yang terlepas. Morgan mengikatnya dengan rapi dan memastikan ikatannya kuat, agar tidak mudah lepas.
“Kenapa kau selalu ceroboh Ana? Kau bisa terjatuh jika membiarkannya,” ucap Morgan sembari berdiri.
“Terimakasih, saya permisi,” ucap Ana dan berlalu pergi.
Hanya sebuah kalimat pendek yang keluar dari mulut Ana, membuat Morgan kecewa lebih dalam. Ia masih tak mengerti mengapa Ana lebih memilih Jordan dibanding dirinya. Ia tak rela wanita yang ia cintai menyukai laki-laki seperti Jordan.
“Pak sebentar lagi rapat dimulai,” ucap Sinta membuyarkan lamunan Morgan.
“Oh... ya Sinta, aku hampir lupa."
Morgan dan Sinta pun kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti. Sesekali Sinta melirik Morgan. Terpancar kesedihan yang begitu dalam. Ia tak tau pasti masalah antara bosnya dan Ana. Sepertinya Ana bukan wanita sembarangan seperti yang ia pikir. Hanya Ana yang bisa membuat atasannya yang begitu berkuasa terlihat lemah seperti sekarang.
***
Di Apartemen Jordan,
Desiran Air yang keluar dari shower, membuat sekujur tubuh Jordan basah. Tangannya mengepal kuat dan memukul keras dinding keramik itu sampai retak. Ingin sekali ia menangis dan berteriak sekeras mungkin agar perasaannya sedikit membaik. Tapi sekuat apapun ia mencobanya, tak ada air mata yang keluar setetespun.
Apa yang ia lakukan bersama Liona kemarin? Kenapa ia bisa bertindak sejauh itu, padahal ia ingin memutuskan hubungannya dengan Liona. Ia tak tau apa yang harus ia perbuat sekarang. Mana mungkin ia meninggalkan Liona begitu saja setelah apa yang ia perbuat padanya. Pikirannya kalut dan tak bisa memikirkan apapun sekarang. Ia mematikan air shower dan membalut tubuhnya dengan handuk. Jordan keluar dari kamar mandi dan meraih ponselnya yang sedang ia charger. Ia mencari nomor Ana di kontak ponselnya dan melakukan panggilan.
“Halo Ana, kau sedang apa?”
“Tentu saja aku sedang bekerja. Ada apa?”
“Aku akan menjemputmu sepulang kerja."
“Baiklah, satu jam lagi aku sudah pulang. Kau bisa menungguku di depan kantor."
__ADS_1
“Siap Nyonya! Laksanakan perintah!”
Ana terkekeh mendengar guyonan Jordan dan langsung menutup sambungan telepon.
“Hemh, kenapa langsung ditutup? Jahat sekali,” ucap Jordan tersenyum kecil.
Jordan pun cepat-cepat mempersiapkan diri, tak mau gadis kecilnya menunggu terlalu lama.
Jordan membuka lemarinya yang penuh dengan baju-baju bermerk. Ia memilih kemeja linen bewarna putih dan celana fitted kecoklatan. Kini penampilannya terlihat casual dan macho. Tak lupa ia merapikan rambutnya agar terlihat lebih casual namun tetap berkelas. Selesai menata rambut, Jordan membuka laci yang ia tempatkan sebagai jam tangan. Jam tangan analog Rolexs ia lingkarkan di tangannya.
Kini penampilannya terlihat sempurna. Jordan pun mencari kunci mobilnya dan ia dengan cepat menemukannya di atas meja. Ponsel dan dompet tak lupa ia bawa dan memasukkannya ke dalam saku celana. Sepuluh menit kemudian Jordan telah sampai di depan kantor. Jordan tak melihat seorang pun berlalu lalang. Dilihatnya jam tangan yang ia pakai. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum Ana pulang.
Jordan mengambil ponselnya dan bermain game untuk menghabiskan waktu. Tanpa ia sadari Ana sudah berada disampingnya tapi Jordan masih tetap fokus melihat ponselnya.
Pletak! Jitakan kecil dari tangan Ana membuat Jordan terkejut.
“Awh! Sakit! Apakah tanganmu terbuat dari baja Ana? Kuat sekali tenagamu,” ucap Jordan sambil mengelus kepalanya.
“Bukan dari baja, tapi dari tembaga! Aku sudah duduk disampingmu tapi kau tidak ada respon sama sekali!” keluh Ana kesal.
Ana mencibirkan bibirnya dan memasang tampang kesal. Jordan tersenyum kecil melihat tingkah imut kekasihnya yang begitu menggemaskan. Ingin sekali ia melahap gadis manis di depannya itu.
“Cup... cup... cup. Kemarilah gadis kecil. Aku akan memelukmu dengan hangat."
Pletak! Jitakan kembali mendarat di kepala Jordan.
“Argh! Hei ini sakit Ana!”
“Dasar mesum! Kau tidak akan mudah mengambil kesempatan dariku."
Weekk! Ana menjulurkan lidahnya mengejek Jordan yang tampak kesal.
Jordan mencubit pipi Ana sebagai pembalasan. Di cubitnya pipi Ana seperti mencubit roti panggang yang terlihat menggoda. Tak sampai disitu, Ana membalas dengan menarik hidung Jordan yang memang mancung dari sononya. Selama beberapa waktu, akhirnya mereka bisa tertawa lepas. Dari kejauhan, sepasang mata sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan tak senang. Kekesalan Morgan bertambah melihat mereka tertawa senang diatas penderitaannya.
“Tertawalah selagi kalian bisa. Aku akan merebut Ana kembali darimu Jordan!”
__ADS_1
“Sinta, aku butuh bantuanmu."
“Tentu Pak, apa yang bisa saya bantu?”
“Cari informasi tentang wanita bernama Liona secepatnya!”
“Baik Pak, saya mengerti."
Tak lama mobil Jordan pun pergi. Mata Morgan tak bisa lepas dari pandangannya meski mobil itu sudah berada jauh dari tempatnya berdiri. Akan ada sebuah konflik yang akan terjadi setelah ini, karna Morgan tak akan tinggal diam menyaksikan kebahagian mereka.
***
Didalam mobil,
“Ana kau sudah makan?” tanya Jordan.
“Belum, aku kelaparan sekarang,” ucap Ana sambil mengelus perutnya.
“Kau ingin makan apa? Bagaimana kalau kita makan di restoran?”
“Aku tidak mau! Kita delivery saja dan makan di kostku."
“Kenapa? Sekali-kali kita makan enak di restoran."
“Aku tidak suka makan di tempat mewah, apalagi dengan penampilanku yang sekarang. aku sangat malu."
“Hemh... kenapa kau selalu merendahkan diri Ana? Cobalah untuk percaya diri sesekali. Jika kau percaya diri, orang lain tidak akan menganggapmu lemah."
“Ya... kau benar Jordan. Aku harus mengubah sikapku mulai sekarang."
“Oh ya, bagaimana keadaan Liona? Apakah dia sudah keluar dari rumah sakit?”
“Emh, Liona sudah keluar dari rumah sakit. Dia langsung ke apartemenku kemarin,” jawab Jordan gugup.
“Benarkah? Lalu apa yang kalian bahas kemarin? Apa kau sudah memberitahu Liona?”
__ADS_1