
“Ikutlah bersama Jordan Ana, sepertinya kalian harus berbicara satu sama lain,” bujuk Neysa.
Ana menatap Jordan dengan ekpresi sangat mengharap dan belas kasih. Didalam hatinya ia ingin sekali bersama Jordan. Tapi ia menahan perasaannya agar terkendali.
“Tidak Ney! Aku tidak mau,” ucap Ana dan berbalik ke arah mobil.
Saat akan menutup pintu, Jordan menahan pintu itu dan menarik tangan Ana dengan paksa.
“Lepaskan! Aku sudah bilang aku tidak mau!"
“Jika kau menolak maka aku harus memaksamu!"
Jordan menarik tangan Ana lebih kuat dan membopongnya dengan paksa. Ana menjerit memohon dan memukul keras punggung Jordan agar Jordan menurunkannya tapi Jordan tak menggubrisnya sama sekali. Niko dan Neysa hanya melongo melihat tingkah mereka yang sama-sama keras kepala. Jordan berhasil memasukkan Ana ke dalam mobil dan melaju demgan cepat.
“Apa maumu Jordan! Aku sudah menolakmu tapi kau selalu memaksaku!” ucap Ana kesal.
“Maaf Ana, aku harus berbicara penting padamu sekarang juga!"
“Cepat katakan dan turunkan aku disini!”
Jordan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap Ana dengan teliti dan mendekatkan wajahnya pada Ana. Dilihatnya bibir mungil milik Ana dan mengecupnya dengan ragu, namun tak ada perlawanan dan penolakan dari Ana ia pun ********** dengan lebih berani. Seperti ada aliran listrik mengalir dalam tubuhnya hawa nafsu itu tumbuh, Ana membalas ciuman Jordan dan memeluknya erat.
“Aku mencintaimu Ana, aku sangat mencintaimu,” ucap Jordan sambil memeluk Ana dengan erat.
“Kau yakin dengan apa yang kau katakan Jordan?”
“Ya Ana, aku yakin dengan apa yang kukatakan."
“Lalu bagaimana dengan Liona?”
“Itu yang membuatku bingung sekarang. Aku ingin menjelaskannya kemarin tapi tak kusangka Liona melakukan hal nekat seperti itu."
“Tapi Ana, apapun itu tidak akan mengubah keputusanku tentangmu,” imbuhnya.
“Itu terlalu egois bagi Liona Jordan. Sebenarnya aku juga menyukaimu tapi aku juga tidak bisa melihat keadaan Liona sekarang."
“Benarkah kau menyukaiku Ana? Sejak kapan?” tanya Jordan senang.
Ana tersenyum malu menjawabnya secara terang-terangan. Jantungnya seperti akan meledak sekarang.
“Entahlah, mungkin sebelum Liona datang."
Jordan kembali memeluk Ana dengan begitu hangat. Ia tersenyum lebar dan merasa sangat senang luar biasa. Jantungnya seperti mau meledak karna terlalu senang dan ingin berteriak mengumumkan ke semua orang kalau Ana membalas perasaannya.
__ADS_1
“ Tapi Jordan, aku memang menyukaimu tapi aku tidak ingin menjalin hubungan apapun denganmu."
Seperti ada petir yang menyambar ia terkejut mendengar perkataan Ana dan melepaskan pelukannya.
"Kenapa Ana? Kenapa tidak bisa?”
Tersirat rasa kecewa yang mendalam. Setelah senang dengan apa yang ia dengar kini rasa bahagia itu seperti angin yang hanya melintas begitu saja.
“Kau masih bertanya Jordan? Bukankah kau seharusnya lebih tau."
“Karna Liona?”
“Ya benar, aku tidak mau menjadi pihak ketiga diantara kalian. Jadi perasaan diantara kita harus kita buang jauh-jauh."
“Tidak Ana, aku akan mempertahankanmu apapun yang terjadi!"
“Pembicaraan kita sudah selesai, aku akan duluan menuju kantormu agensimu,” ucap Ana dan turun dari mobil.
“Tunggu Ana! Aku belum selesai bicara,” ucap Jordan dan ikut turun dari mobil.
Tapi Ana terus berjalan dan kebetulan ada taksi datang dan melambaikan tangannya agar taksi itu berhenti. Ana masuk kedalam mobil taksi, sedangkan Jordan mencoba menghentikan Ana dan menggedor-gedor kaca taksi serta membuka pintu mobil paksa namun usahanya sia-sia.
“Ayo Pak kita jalan!” ucap Ana pada sopir taksi.
Taksi Ana melaju meninggalkan Jordan yang masih mengejarnya. Jordan segera berlari ke arah mobilnya dan mengejar taksi yang dinaiki Ana.
“Pak antar saya ke #****##** ! Lebih cepat ya Pak! Saya buru-buru!"
“Ya Nona, saya akan ngebut,” jawabnya.
Tin... tin... tin!
Terdengar suara mobil Jordan mengklakson dengan keras dari belakang. Ana menoleh ke belakang dan benar saja, Jordan berhasil menyusulnya dengan cepat dan terus membunyikan klakson.
“Pak tolong lebih cepat! Jangan sampai mobil dibelakang mengejar kita!” ucap Ana panik.
“Saya mengerti."
Taksi menambah kecepatan diatas 150km/perjam namun Jordan tetap bisa mengikutinya.
“Pak lebih cepat lagi!"
“Tidak bisa Nona! Ini sudah kecepatan maksimal yang saya bisa. Mobil taksi tidak akan bisa menyaingi kecepatan mobil sport seperti dibelakang."
__ADS_1
Mobil Jordan berhasil menyalip taksi Ana dan memotong jalan sehingga taksi itu menekan rem dengan kuat. Jordan keluar dari mobilnya dan melangkah dengan tatapan tajam seperti akan menusuk musuhnya.
“Buka pintunya Ana! Atau kaca ini mobil ini akan kupecahkan!" ucap Jordan dingin.
“Pak, sebaiknya saya turun disini dan ini ongkos taksinya,” ucap Ana sambil menyerahkan uang pada Pak sopir.
“Ya Nona terimakasih. Apa perlu saya menghubungi polisi?” tanya pak sopir cemas.
“Tidak perlu Pak! Dia bukan orang jahat."
Ana pun keluar dari taksi dengan wajah menunduk, ia tak berani menatap tatapan tajam Jordan.
Jordan menarik tangan Ana dan masuk kedalam mobil.
“Ana maukah kau percaya padaku?”
“Tidak! Aku sudah bilang padamu kalau aku tak mau mengganggu hubungan kalian!"
“Kau bukan penganggu Ana, cobalah mengerti!”
“Kau yang harusnya mengerti Jordan! Aku wanita rendah disini! Aku tidak punya banyak kelebihan seperti Liona! Aku tau diri bahwa kalian memang pasangan yang serasi tapi aku malah menyukaimu padahal kau sudah memiliki Liona! Aku sangat rendah diri,” ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
Jordan menghentikan mobilnya dijalan yang sepi. Ditatapnya mata Ana dalam-dalam dan menggenggam tangan Ana yang terasa begitu hangat.
"Sejak aku menyukaimu, aku selalu menepisnya karna aku kira perasaan itu mungkin akan terlupakan dengan kedatangan Liona kembali, tapi ternyata perasaan itu malah semakin kuat semenjak aku merasa cemburu melihatmu bersama Morgan."
"Perasaanku terbukti saat kita dipantai kemarin. Aku benar-benar menyukaimu Ana, tolong mengertilah dan menungguku menuntaskan hubunganku dengan Liona
"Tapi perasaan Liona akan hancur jika ia tahu semua ini! Itu malah membuatku semakin terpuruk," ucap Ana.
"Kau tidak salah Ana, aku yang salah disini. Aku akan menerima hukuman apapun dari Liona dan membuatnya tenang."
"Bisakah kau melakukannya?"
"Akan kupastikan, tapi sampai saat itu tiba aku ingin kau menungguku dan kembali padaku."
"Ya aku akan setia menunggumu."
Ana menenggelamkan wajahnya di dada Jordan yang bidang. Perasaannya tak sepenuhnya senang. Ia bingung apa yang ia lakukan benar atau salah, dia merasa bahagia diatas penderitaan Liona. Itu membuatnya seperti wanita yang keji.
Ia tak berani membayangkan hari esok bersama Jordan. Akankah ia bisa bahagia bersama Jordan? Atau malah sebaliknya! Ia kembali teringat tatapan mata Liona yang terlihat sedih di rumah sakit karna dirinya dan Jordan.
__ADS_1