
"Cuma mie instan. Apanya yang enak?” gerutu Neysa.
“Jangan meremehkan kalau kau belum mencicipinya."
Neysa mencibirkan bibirnya merasa tidak yakin dengan mie instan didepannya yang terlihat biasa saja. Neysa meraih mangkok yang berisi mie itu dan melahapnya perlahan. Perkataan Niko benar adanya, rasa dari kuah mie instan yang ia buat terasa berbeda.
“Apa ini? Kenapa rasanya bisa begini?” tanya Neysa heran.
“Aku melihat-lihat isi kulkasmu tadi, lalu ada sedikit daging dan aku memasaknya sebagai kaldu. Enak, kan?”
“Yah rumayan."
Neysa menghabiskannya dengan cepat dan tak tersisa, ia merasa ketagihan karna mie yang Niko buat terasa begitu enak. Neysa melirik mie instan yang sedang dimakan Niko. Ingin sekali ia memintanya sedikit saja dari Niko tapi Neysa malu ingin mengatakannya. Niko menyadari kalau ia merasa diperhatikan. Ia pun menoleh ke arah Neysa. Baru seperempat porsi ia memakan mie instannya tapi gadis disebelahnya sudah habis tanpa tersisa dan mangkoknya terlihat mengkilat.
“Neysa, apa kau langsung menelannya begitu saja? Kenapa cepat sekali habisnya?” tanya Niko heran.
“Cepat apanya? Kau saja yang lambat."
“Emh aku masih lapar. Boleh aku minta punyamu sedikit?”
“Tidak boleh! Aku juga lapar."
“Dasar pelit!”
“Hahaha... aku hanya bercanda kenapa serius sekali,” ucap Niko terkekeh.
“Ayo kita makan sama-sama,” imbuhnya sambil menyodorkan mangkok miliknya.
Neysa tersenyum senang dan mereka pun makan dalam satu mangkok yang sama.
****
Di hari berikutnya,
Mobil Jordan berhenti tepat di depan kantor Morgan. Pagi-pagi sekali ia mengantar Ana untuk berangkat kerja. Dengan sigap Jordan membukakan pintu untuk kekasihnya itu. Ana turun dari mobil Jordan dengan menundukkan kepalanya karna takut menjadi pusat perhatian. Pintu lift terbuka, Morgan keluar dari lift dan akan pulang karna ia harus bekerja lembur sampai pagi sehingga terpaksa ia tidak bisa pulang. Ia merasakan rasa lelah yang amat sangat dan matanya tak kuasa untuk terpejam. Tapi matanya langsung terbuka lebar saat melihat Ana bersama Jordan didepan perusahaannya sedang berbincang dan bercanda.
“Permisi Saudara Jordan. Bisakah Kau segera pergi? Ini area kekuasanku dan hanya para pegawai yang boleh ada disini,” sindir Morgan ketus.
“Ohh... selamat pagi Pak Morgan? saya hanya sekedar mengantar kekasih saya sampai dengan selamat,” balas Jordan dingin.
“Berani sekali Kau menyebutnya kekasih? Aku akan menamparmu jika kau mengatakannya lagi!”
__ADS_1
“Cukup Pak! Saya mohon jangan ada pertengkaran! Bapak juga tidak berhak berkata sepeti itu pada Jordan!"
Ana menahan tangan Morgan yang mengepal ingin melemparkan pukulan dahsyat pada Jordan tapi ia urungkan karena Ana dengan sigap mencegahnya. Jordan mengetahuinya dan melempar senyuman kecut pada Morgan.
“Asal Kau tau saja Bapak Morgan Narendra yang terhormat. Mulai hari ini Ana adalah milikku! Jadi kau harus menjauh darinya."
“Apa maksudmu? Mana mungkin Ana mau menjadi kekasihmu kalau Kau sudah mempunyai wanita lain."
“Itu benar Pak, apa yang dikatakan Jordan tidak salah,” ucap Ana sambil menundukkan wajahnya.
Seperti ada bola api yang menghantam keras tepat diwajahnya terasa begitu panas di sekujur tubuh. Morgan tak henti-hentinya mengumpat di dalam hati.
“Apa! Tapi bagaimana bisa? Ada apa ini Ana? Jelaskan padaku?"
Bertubi-tubi pertanyaan ia tumpahkan pada Ana yang terdiam tak berani menjawab apapun.
“Ana tidak perlu menjelaskannya! Karna kau hanya orang lain bagi kami."
Morgan terdiam dan tak bisa berkata apapun. Meski ia masih merasa bingung dan banyak ribuan pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Ana. Ia berusaha menahan emosinya meski harga dirinya terasa di injak-injak oleh wanita yang ia sukai.
Ana melewatinya begitu saja sedangkan Jordan tersenyum kecut kearahnya seakan ia sudah menang membalasku. Morgan masih belum puas dengan jawaban yang Ia dengar ia pun mengejar Ana yang akan memasuki lift. Pintu lift akan tertutup tapi Morgan bisa menahannya dengan cepat.
“Ana jelaskan lagi padaku apa maksud semua ini!"
Morgan mencekram bahu Ana dengan kuat dan menatapnya dengan tajam seperti akan membunuhnya tanpa ampun.
“Aku tanya sekali lagi! Apa maksud dari semua ini?! tanya Morgan dingin.
“Saya mencintai Jordan! Meski dia sudah memiliki wanita lain saya tidak peduli!” ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa Kau begitu bodoh Ana? Kenapa Kau mau bersama dengan pria breng**k seperti dia? Jelas-jelas Dia mempermainkanmu tapi kau tetap menerimanya? Hah!” ucap Morgan histeris.
“Apapun yang Bapak katakan saya tidak peduli!”
Pintu lift terbuka dan Ana langsung menepiskan tangan Morgan lalu meninggalkannya begitu saja. Morgan menonjok dinding lift dengan penuh amarah. Rasa lelah dan emosi membuat kepalanya seperti akan meledak.
“Aku tidak akan melepasmu begitu saja Ana kau tidak pantas bersamanya!"
Ana berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya yang Ia simpan didalam loker. Dipakainya baju seragam yang biasa Ia pakai setiap hari dan berdiri didepan cermin memandanginya dengan mata sayup.
“Aku merasa malu kalau harus bekerja disini dan bertemu Morgan setiap hari. Dia laki-laki yang baik, tapi aku selalu membuatnya kecewa. Aku tidak pantas bekerja lagi disini."
__ADS_1
Air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya. Karna sikap egoisku, aku kehilangan orang-orang yang baik seperti Morgan dan Neysa. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak ada rasa penyesalan yang membuatku terbelenggu. Aku hanya ingin dicintai dan hidup bahagia bersama pria yang aku cintai. Mempunyai sebuah keluarga kecil adalah mimpi yang ingin kuwujudkan bersama Jordan.
Laa... laa... lala. Dering ponsel Ana berbunyi. Ia merogoh tas kecilnya dan menemukan ponselnya.
“Ya Jordan ada apa?”
“Aku hanya ingin tau apa yang dikatakan Morgan padamu tadi."
“Ohh... Dia hanya penasaran saja kenapa kita bisa pacaran."
“Lalu kau memberitahunya apa?”
“Aku tidak menjawabnya dan langsung pergi,” ucap Ana berbohong.
“Benarkah begitu?”
“Iya, apa ada hal yang ingin kau tanyakan lagi?”
“Emh... sebenarnya ada, tapi sebelum aku mengatakannya aku mohon kau tidak marah."
“Kenapa begitu? Cepat katakan jangan membuatku penasaran!"
“Ini tentang pekerjaanmu Ana."
“Ada apa dengan pekerjaanku Jordan?”
“Apa kau masih merasa nyaman bekerja disana."
“Sebenarnya tidak. Aku merasa tidak enak kalau harus bertemu Morgan setiap hari."
“Lalu apa rencanamu?”
“Aku berniat akan membuat surat pengunduran diri dan menyerahkannya besok."
“Ide bagus Ana. Aku senang mendengarnya."
“Ya sudah kalau begitu, aku akan bekerja dulu."
“Baiklah, aku mencintaimu Ana."yang
“Aku juga mencintaimu Jordan,” ucap Ana dan menutup sambungan ponselnya.
__ADS_1
Ana memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Ia pun membuka pintu dan terkejut dengan kehadiran Morgan yang entah kapan ia berdiri disitu.