
Ana segera pergi dan melanjutkan mencari pakaian renang yang lain. Ia mencari satu persatu pakaian renang yang tergantung rapi. Namun sudah setengah jam ia mencari tak ada yang sesuai untuknya. Kalau pun ada harga yang tertera tak sesuai dengan dompetnya.
“Kenapa baju seperti ini saja mahal sekali?" ucap Ana heran.
“Uangku tidak cukup untuk membelinya," gumam Ana.
Ia pun menghampiri salah satu karyawan toko yang sedang berdiri mengawasi para pelanggan.
“Permisi Kak!"
“Ya Kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas toko.
“Apakah ada beberapa baju renang dengan harga murah?" tanya Ana.
“Ohh... ada Kak. Mari ikuti saya," ajaknya.
Ana pun mengikuti pegawai toko itu, dan si pegawai pun menunjukkan beberapa baju yang sedang promo setengah harga.
“Ini Kak, silahkan dipilih," ucapnya ramah.
“Ya terimakasih," ucap Ana tersenyum.
Anapun melihat-lihat harga disetiap barkot. Lalu sebuah baju renang bewarna hitam ia ambil dan mencobanya diruang ganti. Setelan baju renang yang begitu seksi dengan hanya menutupi dada dan **** * yang terlihat cocok ditubuhnya.
“Hanya baju ini yang sangat murah, tapi terlihat sangat terbuka," ucap Ana ragu.
“Bagaimana ini? Apakah harus kubeli?" tanya Ana bimbang.
“Argh! Sudahlah, beli saja," ucap Ana tak peduli.
Ia pun segera mengganti lagi bajunya dan keluar dari ruang ganti. Dan ternyata Morgan sudah menunggunya didepan kasir dan tersenyum kecil padanya.
“Bapak sudah lama menunggu?" tanya Ana tak enak hati.
“Emh... rumayan. Tapi aku tau kalau perempuan memang begitu, jadi santai saja Ana," ucap Morgan.
“Maaf Pak," ucap Ana menunduk.
“Sudahlah kenapa minta maaf terus, kau sudah menemukan baju yang cocok?" tanya Morgan.
“Ya... sudah Pak. Tunggu sebentar saya bayar dulu," ucap Ana menyerahkan baju itu pada kasir.
“Tunggu, biar aku yang membayarnya," ucap Morgan.
“Tidak Pak jangan!" tolak Ana.
“Tak apa Ana. Anggap saja ini sebagai hadiah," bujuk Morgan.
“Tapi tetap saja saya keberatan jika Bapak membelinya," tolak Ana.
“Baiklah, kalau kau menolak kita tidak usah ke pantai," ancam Morgan.
“Bapak egois!"
__ADS_1
“Biar saja! Aku sangat ingin memberimu hadiah, jadi terima saja."
“Hemh... ya sudahlah," ucap Ana pasrah.
Morgan tersenyum senang karna merasa menang menghadapi sikap Ana yang keras kepala dan selalu menolak pemberiannya. Ia pun menyodorkan kartu kredit pada kasir. Dan mereka pun pergi dan masuk ke dalam mobil.
*****
“Sayang kau kenapa diam terus dari tadi? Sedang sakit?" tanya Liona memperhatikan Jordan yang terlihat kusut.
“Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja," ucap Jordan lesu.
“Memikirkan apa?" tanya Liona penasaran.
“Tentang pekerjan saja."
Liona pun diam dan melanjutkan menonton tv sedangkan Jordan ia memikirkan Ana yang selau ada di benaknya dan tak bisa berhenti memikirkannya. Posisi Liona yang tergantikan dengan Ana membuat perasaan Jordan tak karuan.
“Sayang gimana kalau kita ke pantai? Mumpung kau libur dan cuaca di luar sangat cerah," ajak Liona.
“Kepantai? Emh, sepertinya ide bagus!" ucap Jordan.
“Baiklah ayo kita ke pantai," ucap Jordan semangat.
“Yes! Aku akan siap-siap dulu," ucap Liona senang.
Dengan cepat Liona sudah mengganti pakainnya dengan membawa beberapa makanan ringan yang sudah ia siapkan.
Jordan terpesona melihat penampilan Liona yang begitu manis dan cantik dengan baju panjang selutut, dan tanpa lengan baju, belahan dada yang sedikit terlihat bewarna biru dengan pola bunga yang cerah.
“Kau cantik sekali Lion."
“Tentu saja, aku kekasih seorang aktor terkenal tentu saja harus cantik."
Morgan tersenyum dan mengecup bibir Liona penuh nafsu. Liona membalas ciuman Jordan dan memeluk Jordan erat. Ciuman Jordan turun di leher Liona yang jenjang dan mulus. Liona menikmati setiap sentuhan bibir Jordan dan meremas rambut Jordan pelan.
“Cukup sayang, ayo kita kepantai," ucap Liona pelan.
“Nanti saja, aku masih ingin kamu."
Jordan tetap melakukan aksinya dan terus mencium leher Liona dengan semakin ganas dan meninggalkan bekas gigitannya yang memerah di leher Liona.
“Sayang cukup!" ucap Liona dan melepaskan pelukan Jordan.
“Hemh... ya baiklah ayo kita berangkat."
Liona tersenyum melihat ekspresi kekasihnya itu yang cemberut karna ia menolaknya. Lionapun berlari kecil menyusul Jordan dan menggandeng tangan Jordan mesra.
Kecupan kecil mendarat di pipi Jordan dan Jordan tersenyum ke arah Liona. Mereka pun masuk kedalam mobil dan melaju.
“Sayang aku tadi mengambil cameramu di kamar untuk berfoto nanti saat di pantai."
“Ohh ya... aku hampir lupa untuk membawanya! Untung kau mengingatnya."
__ADS_1
“Sayang sekali kalau tidak membawa kamera, karna pemandangan di pantai sangat indah," ucap Liona bersemangat.
“Sudah lama sekali kita tidak bepergian seperti ini."
“Ya semenjak kau di luar negeri aku selalu sendirian."
“Maaf sayang, kau sudah menunggu sangat lama tapi sebentar lagi kita akan bertunangan dan aku akan menjadi milikmu sepenuhnya," ucap Liona senang.
“Kenapa tidak langsung ke pernikahan saja sayang?"
“Emh... aku ingin berkarier dulu sayang. Aku belum siap menjadi seorang istri apalagi punya anak aku tidak mau!"
Jordan tersenyum kecut mendengar perkataan Liona yang belum benar-benar matang memikirkan masa depan mereka. Padahal usia mereka sudah cukup tua untuk menikah. Tapi Liona hanya memikirkan dirinya sendiri.
Dan selalu Jordan yang selalu mengalah dan setia menunggunya. Ia tak tahu harus berbuat apa pada kekasihnya itu dan hanya bisa pasrah apapun keputusan Liona.
Sekitar tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai di pantai. Jordan turun dari mobil begitu juga dengan Liona dan mengambil barang mereka di bagasi mobil.
“Jordan ayo kita berjemur dulu dan bersantai," ajak Liona.
“Oke... ayo sayang," ucap Jordan dan menggandeng erat tangan Liona.
“Eits tunggu! Aku mau ganti baju dulu di mobil tunggulah disini sebentar."
“Ya baiklah."
Liona pun kembali ke dalam mobil dan Jordan mengamati pantai yang begitu biru dengan ombak yang saling menghantam keras dengan angin semilir yang menenangkan. Dari kejauhan Jordan seperti melihat seseorang yang ia kenal. Ia memfokuskan penglihatannya agar tak salah menduga.
“Bukankah itu Ana dan Morgan?"
“Sedang apa mereka disini?"
Morgan dan Ana sedang saling bercanda dan tertawa lepas. Ana terlihat begitu senang dan sesekali Morgan menyiramkan air pada Ana dan Ana pun membalasnya.
Jordan mengernyitkan dahinya merasa tak senang dengan apa yang ia lihat. Morgan mengecup pipi Ana dan Ana terdiam membatu karna terkejut. Jordan menggertakkan gigi dan mengepal tangannya karna tersulut api cemburu.
__ADS_1