
“Kau yakin aku pria baik?" tanya Jordan.
“Emh... aku jago bela diri jika kau macam-macam denganku."
“Hahaha... kau pintar juga menjawabnya Ana. Sudahlah Jordan, besok saja kau antar Ana pulang, lagi pula dia tidak keberatan," ucap Niko.
“Ya baiklah kalau kau tidak keberatan."
“Ayo kuantar kau ke kamar utama."
“Kamar utama? Itukan kamarmu Jordan, lalu kau akan tidur dimana?" tanya Niko.
“Aku akan tidur di kamar tamu."
“Tidak! Aku saja yang akan tidur di kamar tamu, kenapa kau harus mengalah?" tolak Ana.
“Ini kemauanku dan kau hanya perlu menurutinya!" tegas Jordan.
Ana pasrah dan menuruti apa yang Jordan perintah. Sementara Niko semakin yakin kalau sepertinya, Jordan mempunyai perasaan khusus pada Ana.
Hanya saja Jordan belum menyadarinya. Jordan mengantarkan Ana ke kamar utama yang begitu besar dan mewah. Ana terpukau melihat isi kamar itu yang dilengkapi furniture mahal dan berkelas.
“Disebelahmu itu adalah kamar mandi, barangkali kau ingin membersihkan diri," ucap Jordan.
“Kuncilah pintunya setelah ini," perintah Jordan. Ana menggangguk dan tersenyum kepada Jordan.
“Terimakasih Jordan."
Jordan membalas senyuman Ana dan pergi.
Kini Ana sendirian di kamarnya. Dengan sigap Ana naik ke tempat tidurnya meloncat-loncat kegirangan.
Ana tak pernah membayangkan berada dikamar sebagus ini. Kasur yang begitu empuk dan lembut. Ana sungguh menyukainya sampai tak berhenti berguling-guling di atas kasur.
Tepat dibawah kamar Ana, Jordan tersenyum geli mendengar tingkah Ana yang begitu sederhana dan menyenangkan.
Ting ... tung! Ponsel Jordan mendapat pesan singkat dari Liona.
"Aku akan kembali beberapa hari lagi, tunggu aku." tulis Liona dengan emoji kiss.
Jika Liona akan kembali, bagaimana ia harus menjelaskannya pada Liona.
Apakah Liona akan mengerti keadaannya? Atau malah meninggalkannya?
Pikirannya berkecamuk dengan semua permasalah yang belum terselesaikan.
“Aku harus mencari alasan agar Liona dapat mengerti," gumam Jordan.
*****
Pukul 06.00 Ana keluar dari kamarnya dan turun menuju meja makan. Roti dan susu menjadi menu sarapan pagi. Jordan dan Niko sudah duduk menunggu kedatangan Ana.
__ADS_1
“Kemarilah Ana, sarapan sudah siap," ajak Niko.
Ana duduk disebelah Jordan dan mengambil sepotong roti beserta selai. Ana memakannya perlahan dan menikmatinya.
Jordan menuangkan segelas susu pada Ana dan Ana tersenyum manis berterima kasih. Jordan memandangi Ana tanpa berkedip. Niko melemparkan secuil roti pada Jordan dan Ana tertawa melihat tingkah jail Niko.
“Jangan melihatnya terus. Kau sudah punya Liona," ejek Niko.
Jordan melemparkan sebotol selai pada Niko dan lemparannya meleset.
“ Liona? Siapa dia?"
“Liona adalah kekasih Jordan, dan sekarang dia sedang di luar negeri melanjutkan studinya," jawab Niko.
Ana tertegun dan merasa sedikit kecewa dengan apa yang ia dengar.
Ana ingin menepis perasaan itu jauh-jauh karna sampai kapanpun mereka berdua tidak bisa bersama dengan perbedaan status mereka masing-masing.
“Sudahlah Niko, kau terlalu banyak bicara."
“Aku akan menunggumu di mobil, jika kau sudah menyelesaikan sarapanmu," ucap Jordan dingin.
Ana segera menyelesaikan sarapannya dan bergegas menuju mobil. Mobil Jordan melaju dengan kesit di perjalanan.
Dalam waktu dua jam. Ana telah sampai di tempat kerjanya. Tak jauh dari mobil Jordan ada sepasang mata yang mengawasi mereka.
Ceklik,ceklik,ceklik! Kamera memotret dari jarak jauh.
****
Seperti biasa, Morgan sampai di kantornya pada pukul 09.00.
Saat keluar dari mobil, Morgan mendengar suara Ana yang tak jauh dari kantornya.
Morgan memicingkan matanya dengan tajam melihat Jordan dan Ana bersama dalam satu mobil. Morgan tersulut Api cemburu melihat mereka berdua dan pergi.
Didalam ruangannya, Morgan berdiam diri dengan pandangan yang kosong. Sinta masuk ke ruangan memberikan beberapa dokumen yang harus segera di ACC(Disetujui).
“Pak, saya sudah membuat laporan yang akan kita kirim di perusahaan Golden Industri. Mohon Bapak tanda tangani segera," jelas Sinta.”
Tapi Morgan tetap diam tak merespon, sambil memandangi sebuah liontin milik Ana.
Sinta melambai-lambaikan tangan pada Morgan untuk membangunkan lamunan Morgan. Morgan langsung tersadar dan bingung seketika.
“Ohh emh, ada apa Sinta?"tanya Morgan gelagapan.
“Berkas ini Pak, harus ditanda tangani sekarang."
“ Ya baiklah."
Morgan menandatanganinya dan Sinta kembali ke ruangannya. Sinta merasa sikap Morgan sedikit berubah akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Mungkinkah karna pegawai CS itu?" gumam Sinta.
Morgan tetap masih berdiam diri di ruangannya sejak tadi pagi. Pikirannya kacau sekarang.
"Haruskah ia menemui Ana sekarang untuk meminta maaf? Atau membiarkannya begitu saja? gumamnya.
Aargh! Entahlah!" ucap Morgan tersulut emosi.
Morgan keluar dari ruangannya dengan emosi yang mendidih karna rasa cemburu.
“Sinta, bisakah kau membantuku mencari Ana di bagian kebersihan?" perintah Morgan.
“Tentu Pak, sepertinya dia sedang di kantin karyawan karna sekarang jam istirahat," tebak Sinta.
“Baiklah terima kasih Sinta," ucap Morgan dan pergi.
Disebuah kantin karyawan Morgan mencari keberadaan Ana. Di jam seperti ini karyawan mengantri untuk pembagian makan siang.
Disudut ruangan seorang gadis dengan rambut uniknya sedang menyantap makanannya dengan lahap. Morgan tersenyum lembut melihat Ana dari kejauhan.
Para karyawan menatap Morgan dengan antusias dan kagum. Morgan begitu tampan jika dilihat dengan jarak yang beitu dekat.
Karyawan wanita menjerit histeris di dalam hati saat ketua CEO itu berjalan dengan gagah bagai pangeran kesatria berkuda putih.
Ana asik menikmati menu makan siangnya yang spesial. Tiba-tiba aksi makannya terhenti saat pria di depannya berdiri dengan tangan masuk di saku celana.
Morgan menghampiri Ana dan para karyawan bertanya-tanya mengapa seorang CEO perusahaan besar mencari karyawan bawahan seperti Ana.
“Pak Morgan? Kenapa anda kesini?" tanya Ana.
Morgan duduk berhadapan dengan Ana dan semakin membuat para karyawan merasa iri.
“Kenapa? Apakah aku tidak boleh bertemu denganmu?" goda Morgan.
Ana merasa canggung dan ingin melarikan diri karna semua karyawan memandang mereka sekarang.
“Bukan begitu Pak, tapi akan terlihat aneh jika bapak bersikap seperti ini."
“Aneh? Benarkah? Lalu harus bagaimana agar tidak terlihat aneh? Haruskah kita berbincang diruanganku saja?"
“Tidak Pak bukan begitu, hanya saja saya tidak enak dengan karyawan lainnya," ucap Ana pelan.
“Terus?" ucap Morgan cuek.
“Saya mohon bapak segera pergi," rengek Ana.
“Kau mengusirku dari perusahaanku sendiri?" tanya Morgan kesal.
“Bukan,bukan begitu Pak,hanya saja saya tidak ingin menjadi pusat perhatian," bisik Ana.
“Ohh... baiklah, tapi aku ingin meminta sesuatu darimu."
__ADS_1
“Hah? Sesuatu seperti apa pak? Saya hanya seorang bawahan, tidak mungkin saya sanggup memberikan sesuatu yang mahal untuk Bapak."
“Aku tidak meminta itu.Aku ingin kau temui aku nanti sepulang kerja di depan kantor dan menungguku sampai aku menyelesaikan pekerjaanku," ucap Morgan tersenyum dan pergi tanpa meminta persetujuan Ana.