
“Hilang? Hilang dimana? Mungkin saja kau lupa membawanya.”
“Entahlah, sepulang nanti aku akan mencarinya.”
Ditengah pembicaraan, seorang pelayan datang dengan membawa makanan dan minuman pesanan mereka. Ana langsung menyantap makanan itu dengan lahap. Jordan paling senang saat melihat Ana sedang makan. Meski sudah sering makan bersama tapi ia tak bosan menyaksikan Ana yang selalu senang saat sedang makan.
“Kau pasti sangat lapar Ana. Apa pekerjaanmu berat hari ini?”
Ana menggelengkan kepala dan mencoba bicara dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.
“Tidak, ini karna tadi siang aku tidak sempat makan, jadi sekarang aku kelaparan.”
Jordan tersenyum.“Lalu Ana, bagaimana dengan bos besarmu itu? Apa dia masih mendekatimu?”
“Bos besar? Maksudmu Morgan Kakakmu?”
Jordan menaikkan alisnya. Ia terkejut bagaimana Ana bisa tau kalau Morgan adalah Kakaknya. Ana menghentikan aktivitas makannya, ia baru sadar kalau ia keceplosan mengatakannya.
“Astaga! Kenapa kau selalu bodoh disaat yang tidak tepat Ana!” ucap Ana didalam hati.
Ana memukul pelan kepalanya karna merasa kesal dengan dirinya sendiri.
“Apa kau merasa pusing Ana? Kenapa memukul kepalamu seperti itu?” tanya Jordan heran.
“Ohh... emh, ya aku sedang sedikit pusing hehehe,” ucap Ana gugup.
“Tapi bagaimana kau tahu kalau Morgan adalah Kakakku? Para wartawan saja tidak bisa menemukan informasi tentang keluargaku,” tanya Jordan curiga.
“I-itu... kau sendiri yang bilang! Kalau tidak salah kau mengatakannya saat kita ada di apartemen bersama Niko,” jawab Ana gugup.
“Benarkah? Aku tidak ingat pernah mengatakannya.”
Ana terdiam tak tau harus mengatakan apa. Ana tak pandai berbohong dan sepertinya Jordan tau dengan melihat ekspresinya yang sangat gugup saat ini.
“Apakah Morgan mengatakan sesuatu padamu?”
“Tidak kok!” ucap Ana sambil tersenyum kaku.
“Aku tau kau berbohong Ana. Katakan saja Ana, apa yang Morgan bicarakan tentangku.”
Ana menghela napas dan meletakkan sendoknya. Didalam kepalanya ia merangkai kata-kata agar Jordan tidak emosi saat mendengarnya.
“Morgan yang bilang padaku beberapa hari lalu kalau kau adalah adiknya.”
“Lalu apalagi yang dia katakan? Dia pasti berkata buruk tentangku.”
“Yah... sedikit, tapi aku tidak terlalu menanggapinya karna aku tau kalian tidak akur dan pasti saling menjatuhkan satu sama lain.”
“Katakan lebih spesifik Ana, aku ingin tau.”
Ana menggelengkan kepala.”Aku tidak mau membahasnya. Itu tidak penting! Bagaimana kalau kita bicara tentang Liona saja? Itu lebih penting sekarang,” ucap Ana sambil mengunyah makanannya.
Ana berusaha menghindari pertanyaan Jordan dan segera mengganti topik pembicaraan.
__ADS_1
“Liona? Emh... dia sudah tau tentang hubungan kita.”
Ana terkejut, tiba-tiba tenggorakannya terasa sulit untuk menelan makanannya. Disaat inilah jawaban yang ia tunggu-tunggu.
“Lalu apa yang dikatakan Liona? Bagaimana reaksinya? Dia pasti marah besar!”
“Ya, dia sangat marah. Itu wajar dan aku memahaminya,” ucap Jordan lesu.
Selera makan Ana langsung hilang mendengar perkataan Jordan. Seharusnya saat ini ia merasa lega karna Liona sudah mengetahuinya, tapi rasa bersalahnya semakin dalam ia rasakan. Ia akan menerima perlakuan apapun dari Liona meski perbuatannya tak cukup hanya dengan cacian atau hinaan. Ana menatap Jordan yang tampak lesu dan merasa bersalah sepertinya.
“Apa kau menyesal Jordan sudah meninggalkan Liona?”
“Tidak Ana, aku hanya merasa menjadi pria bre**sek yang tak pantas mencintai siapapun.”
Ana meraih tangan Jordan dan menggenggamnya dengan begitu hangat. Ia tersenyum untuk menghibur Jordan agar tidak merasa sendirian saat ini.
“Aku juga merasakan hal yang sama denganmu Jordan. Jadi jangan berkata seperti itu. Aku yakin kita bisa menyelesaikan masalah ini sama-sama,” ucap Ana tersenyum lembut.
Kepala Jordan yang tadinya terasa ingin meledak, kini terasa sejuk mendengar ucapan Ana yang membuatnya tenang.
“Terimakasih Ana, aku yakin aku tidak salah memilihmu,” ucap Jordan tersenyum.
Ana merasa senang bisa membuat Jordan tersenyum kembali. Kisah percintaannya memang sangat rumit dan berbelit-belit, tapi Ana menikmatinya karna ia sangat mencintai pria tampan di depannya itu.
“Ana, setelah ini kau sibuk?”
“Tidak, kenapa?”
“Bagaimana kalau kita nonton di bioskop?”
“Baiklah, habiskan dulu makananmu,” ucap Jordan tersenyum.
“Kau suka film genre apa Ana?”
“Aku suka horor.”
“Horor? Wah, pilihan yang bagus Ana!” ucap Jordan senang.
“Kenapa? Kau juga suka horor Jordan?”
“Tidak juga, aku lebih suka film action.”
“Kalau begitu kita nonton film action saja. Sepertinya menarik.”
“Jangan! Aku sedang ingin nonton horor sekarang.”
Ana merasa heran dengan sikap Jordan yang seperti ada maksud lain dibalik kata-katanya.
“Kenapa begitu Jordan?”
“Karna jika kau sedang takut saat menonton kau pasti akan memelukku dengan erat hehehe...”
Ana melemparkan gulungan tisu pada Jordan yang sedang genit padanya. Tapi Jordan berhasil menangkapnya dengan kesit. Dan mereka pun saling tertawa lepas tanpa beban. Ana sudah menghabiskan makanannya dan mereka pergi menuju bioskop yang tak jauh dari restoran tadi.
__ADS_1
Jordan membeli tiket dan popcorn beserta cola. Mereka pun masuk ke ruang bioskop yang ternyata sudah penuh dengan banyak penonton. Ruangan bioskop yang begitu gelap membuat Jordan berjalan pelan mencari kursi yang nyaman untuk mereka berdua. Setelah mendapatkan kursi, mereka duduk dan memakan popcorn sambil menunggu film itu di mulai.
“Jordan, apa judul film ini?” tanya Ana.
“Annabelle Dolls. Katanya film ini sangat seram dan paling laris,” jawab Jordan sambil meminum cola.
Ana mengangguk.”Tidak heran jika penontonnya sangat banyak.”
Layar kaca bioskop menyala dan film pun dimulai. Ana menonton dengan serius sambil asyik mengunyah popcorn. Dibagian pertengahan film, suasana semakin mencekam. Sebuah boneka berlumuran darah dan tertawa sinis membuat Jordan bergidik ketakutan. Jantungnya berdebar-debar melihat setiap adegan yang menakutkan. Jordan memilih untuk memejamkan matanya. Namun tetap belum bisa menghilangkan rasa takutnya karna suara yang masih terdengar seram. Ana menoleh ke arah Jordan dan terkekeh melihatnya.
“Kau takut Jordan?”
Jordan membuka matanya.”Tidak! Aku hanya mengantuk saja.”
Ana tertawa.”Haha... bilang saja kalau kau takut! Aku bisa lihat dari sikapmu yang seperti anak kecil.”
“Kau salah memprediksi Ana, mana mungkin aku takut hanya dengan sebuah boneka. Aku lebih takut kehilanganmu sayang,” goda Jordan.
“Iih! Aku geli mendengar rayuan murah seperti itu.”
“Rayuan murah katamu? Baiklah aku akan diam saja kalau begitu.”
Jordan memasang wajah cemberut yang membuat Ana takut jika Jordan benar-benar marah.
“Kau marah Jordan? Aku hanya bercanda.”
Jordan tetap terdiam tak menggubris perkataan Ana. Jordan berpura-pura marah agar Ana panik. Ana menggoyang-goyangkan tubuh Jordan agar mendapat respon tapi Jordan tetap diam.
“Jordan aku minta maaf. Tolong jangan marah,” ucap Ana memelas.
“Jordan?” panggil Ana.
Ana menundukkan wajahnya. Jordan sempat melirik Ana yang tampak murung dan menggemaskan.
“Mendekatlah jika ingin meminta maaf.”
Ana langsung menaikkan wajahnya dan menatap Jordan.
“Aku sudah dekat denganmu. Mendekat bagaimana lagi?” tanya Ana heran.
“Tutup matamu.”
“Tidak mau! Kita sedang menonton kenapa harus menutup mata?” tolak Ana.
“Ya sudah kalau tidak mau.”
“Eits... baiklah aku akan menutup mataku.”
Ana tak ingin membuat Jordan marah dan menuruti permintaan Jordan dengan menutup mata. Ia tak mengerti kenapa harus menutup mata agar ia dimaafkan.
“Buka matamu."
Ana membuka matanya dan Jordan sudah sangat dekat dengan wajahnya. Ana terkejut dan ingin menghindar tapi Jordan menarik tubuh Ana dan cup! Jordan mencium bibir Ana dengan mesra.
__ADS_1