Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Bertahan Sampai Akhir


__ADS_3

Dirogohnya tas coklat yang tergeletak di lantai. Ana berhasil menemukan ponselnya. Namun sayang ponsel itu low dan harus di charger. Ana segera memeriksa laci meja kecilnya mencari charger dan segera menancapkanya pada stopkontak. Dalam lima detik Ana segera mengaktifkan ponsel jadulnya. Terdapat dua puluh tiga pesan masuk yang berasal dari Jordan dan Niko. Ana membaca setiap pesan yang masuk dengan teliti. Sepertinya keadaan menjadi semakin berbelit dan tak terkendali. Tak banyak berpikir, Ana segera menghubungi Jordan.


"Halo Ana, kau kemana saja. Aku cemas padamu. Apa kau baik-baik saja?"


"Ya Jordan aku baik-baik saja. Kau masih di luar negri?"


"Iya... sekarang bukan itu yang penting. Apa kau sudah membaca artikel di internet?" tanya Jordan dengan nada mendesak.


"Iya, Neysa memberitahuku barusan. Lalu sekarang harus bagaimana?"


"Jangan lakukan apapun Ana. Pergilah ke rumah Neysa untuk bersembunyi. Aku takut kalau wartawan mengetahui keberadaanmu dan malah membuat keadaan semakin rumit. Kau paham Ana?"


"Baik aku mengerti. Aku akan berhati-hati."


"Baiklah... Jaga dirimu baik-baik Ana. Aku tutup dulu."


Sambungan telepon terputus. Ana menghela napas berat. Pandangannya jatuh pada Neysa yang sedang berbaring di atas kasur sedang menatapnya cemas.


"Ana apa semuanya baik-baik saja? Apa kata Jordan?" tanya Neysa cemas.


Ana melangkah mendekat dan ikut berbaring di sebelah Neysa.


"Ney... sepertinya keadaan semakin buruk dan Jordan memintaku untuk tinggal di rumahmu. Apa kau keberatan?"


Neysa menggeleng."Tidak Ana. Jordan pasti tahu apa yang harus dilakukan. Kau harus menurutinya jika ingin selamat." tegas Neysa.


"Kau benar. Baiklah ayo kita bergegas sekarang untuk pergi ke kostku dahulu. Tolong bantu aku mengemas barang. Banyak yang harus dikemas karna aku tidak tau kapan masalah ini akan reda."


Neysa mengangguk dan mereka pun segera bergegas mengemas barang. Setelah dirasa cukup, Ana dan Neysa segera masuk ke dalam mobil dan melaju tanpa jejak.


****


Jordan Fransisco,


Disela kesibukannya, Jordan tak henti-hentinya memikirkan Ana. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang. Niko menatap Jordan dari jauh, ia tahu saat ini sahabatnya itu sedang stres dan tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Niko melangkah mendekat dan menepuk pundak Jordan pelan.


"Hei jangan terlalu dipikirkan, aku akan berusaha membantumu. Fokus saja dengan pekerjaanmu." tutur Niko.


"Aku tidak bisa Niko, aku khawatir pada Ana." ucap Jordan dengan nada sendu.


"Ana tidak sendirian Jordan, dia punya Neysa yang bisa ia andalkan. Sama seperti aku yang bisa kau andalkan dan akan selalu ada untukmu."

__ADS_1


Jordan menghela napas lega, yang dikatakan Niko ada benarnya. Ana tidak sendirian disana, masih ada Neysa yang akan melindunginya.


"Kau benar Niko, perkataanmu membuatku tenang. Terimakasih." ucap Jordan tersenyum.


Niko tersenyum."Ngomong-ngomong aku sudah mencari tahu tentang Ziko."


Jordan menatap Niko dengan mata besarnya.


"Benarkah? Katakan siapa dia? Apa hubungannya dengan Liona." tanya Jordan antusias.


"Menurut informasi yang kudapat, Ziko dan Liona sudah berteman sejak mereka SMA. Sepertinya Liona melakukan wawancara dengan Ziko untuk menjatuhkan karirmu." jelas Niko.


"Ya aku tahu Liona tidak akan tinggal diam, dan inilah pembalasan darinya."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Jordan.


"Seperti biasa, kita akan menepis berita itu. Jelaskan pada agensi bahwa berita itu hanya fitnah dan biarkan agensi yang akan menyelesaikan secara hukum" jelas Niko.


"Niko kau tahu ini bukan fitnah. Jika masalah ini sampai terbongkar lagi. Masalah ini tidak akan ada hentinya dan semakin berbelit."


"Lalu kau ingin mengatakan yang sebenarnya dan menghancurkan kariermu sendiri?" hardik Niko.


Jordan membisu, ia sama sekali tidak bisa membela diri, yang bisa ia lakukan hanya mengikuti arahan Niko yang menurutnya tepat meski bertolak belakang dengan yang ia inginkan.


****


Morgan sedang menatap layar ponselnya sembari duduk di kursi kerja. Senyuman tipis keluar dari bibirnya. Sepertinya sesuatu membuatnya sangat senang hari ini. Bagaimana tidak, sebuah artikel tentang Jordan muncul diluar rencana yang menguntungkan baginya.


Tok tok tok. Sinta melongok kan kepalanya.


"Pak saya boleh masuk?"


"Masuklah Sinta."


Sinta melangkahkan kakinya sembari membawa beberapa tumpukan dokumen dan menyerahkannya pada Morgan.


"Pak ini beberapa dokumen kerjasama yang harus bapak pertimbangkan."


Morgan mengalihkan pandangannya pada dokumen itu.


"Baiklah, sebentar lagi aku akan menyelesaikannya. Oh ya Sinta, tolong cari keberadaan Ana sekarang. Sepertinya pagi ini aku tidak melihat batang hidungnya."

__ADS_1


"Emh... sepertinya Ana tidak akan bekerja beberapa hari kedepan Pak." jawab Sinta.


"Kenapa?"


"Ini karna artikel yang menyangkut Jordan dan Ana."


Morgan melebarkan matanya. Ia merasa begitu bodoh karna tidak memikirkan hal itu. Padahal baru saja ia membaca artikel itu sendiri.


"Hemh... baiklah aku tahu. Terimakasih Sinta kau boleh pergi."


Setelah kepergian Sinta, Morgan meraih ponselnya dan menghubungi orang suruhannya yaitu Reza untuk mendapatkan informasi terbaru.


"Halo Pak Morgan."


"Ya Reza, aku menghubungi untuk tugas kedua. Selidiki tentang artikel yang keluar hari ini tentang Jordan. Dapatkan informasi yang akurat." perintah Morgan.


"Baik, akan saya lakukan segera."


Sambungan telepon terputus. Morgan menyenderkan kepalanya di kursi kerja.


"Aku merindukanmu Ana. Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Ingin sekali bertemu denganmu." gumam Morgan.


****


Di kost Ana,


Mobil Neysa berhenti tepat di depan kost Ana. Ana segera turun dari mobil diikuti dengan Neysa di belakangnya.


Ana membuka pintu dan langsung menuju lemari pakaian. Diraihnya ransel hitam besar itu lalu mengisinya dengan beberapa baju dan barang lainnya. Neysa membantu Ana merapikan barang yang akan dibawa oleh Ana. Setelah dirasa cukup mereka segera masuk ke dalam mobil meninggalkan jejak.


"Neysa menurutmu apa yang akan terjadi padaku setelah ini?" tanya Ana dengan suara bergetar.


Jemarinya terasa dingin dan jantungnya berdegup kencang. Meski ia belum tertangkap basah oleh media, Ana sudah sangat frustasi dengan skandal yang ia jalani saat ini.


"Ana maaf jika aku harus berkata seperti ini disaat kondisimu sedang terdesak. Tapi ini adalah resiko yang harus kau jalani." jawab Neysa tanpa mengalihkan pandangannya.


Ana menghela napas berat. Memandang keramaian jalanan kota pagi ini. Mencoba menelaah perkataan Neysa yang menurutnya benar. Dia memang bersalah sejak awal. Maka tidak pantas baginya untuk mengeluh.


"Kau benar Neysa, ini adalah hukuman untukku. Aku pantas menerimanya."


Neysa meraih tangan Ana dan menggenggamnya dengan lembut.

__ADS_1


"Bersabarlah Ana, aku yakin kau bisa melewatinya. Aku akan membantu sebisaku."


Ana mengangguk dan tersenyum. Berusaha menguatkan mental di dalam dirinya. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah bertahan sampai akhir dan bersama Jordan dalam waktu yang sangat lama.


__ADS_2