Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Tatapan Matanya


__ADS_3

Ana mengeluarkan amplop coklat dan menyerahkannya pada Arno dengan kasar.


“Ini uang yang aku kumpulkan selama satu bulan ini dan aku akan mencicilnya mulai sekarang!"


“Hahaha... aku senang akhirnya kau memberiku uang! Karna kalau tidak aku nyaris menjualmu!"


Ana melototkan matanya dan menoleh ke arah kostnya takut jika Morgan mendengarnya.


“Jangan banyak bicara! Cepat pergi!" gertak Ana.


“Oke-oke aku akan pergi tapi ingat! Bulan depan aku akan kesini lagi."


Ana tak menggubris perkataan Arno dan Arno pun melangkah pergi. Lalu Ana masuk kedalam kostnya. Disana Morgan masih duduk dengan mangkok kosong didepannya. Morgan tersenyum ke arah Ana seakan tidak ingin mengungkit dan bertanya tentang Arno.


“Ana mie mu sangat enak. Aku juga menghabiskan punyamu. Sayang jika lembek!"


“Bapak menghabiskan semuanya?" tanya Ana heran.


“Yaa... kau marah karna aku menghabiskan punyamu?"


“Hahaha... Bapak rakus sekali!"


“Aku tidak rakus. Hanya saja mie buatanmu memang sangat enak jadi aku ketagihan."


“Bapak benar-benar belum pernah makan mie instan?" tanya Ana tak percaya.


“Aku sudah bilang Ana, kenapa kau heran begitu?"


“Wah...! Bapak memang terlahir kaya. Mie instan begini saja belum pernah. Apalagi hanya makan nasi dan ikan kering (ikan asin)" haha..." ucap Ana terkekeh.


“Apa itu ikan kering?"


“Bapak cari tau saja sendiri ,"ucap Ana sambil cekikikan.


“Hemh... kau ini buat penasaran saja, tapi lain kali masakkan aku mie ini lagi ya Ana, dan aku juga penasaran dengan ikan kering. Masakkan aku itu juga."


“Tidak mau! Bapak kan punya koki yang sudah profesional dirumah kenapa harus saya!"


“Baiklah, aku akan menahan bonus tahunanmu kalau kau tidak mau!" ancam Morgan.


“Lohh, kenapa harus gaji saya yang dibawa-bawa, Bapak tidak adil!"


“Tentu saja, karna aku bosnya!"


Ana mecibirkan mulutnya dan Morgan tertawa melihat wajah Ana yang lucu karna kesal.


“Ya baiklah," ucap Ana terpaksa.


“Oke, kau sudah janji! Kalau begitu aku pulang dulu sampai bertemu besok."


“Besok saya cuti Pak!"


“Benarkah? Siapa yang mengijinkanmu cuti?" tanya Morgan kecewa karna tak bisa melihat Ana besok.


“Bapak ini lucu sekali. Bukankah seminggu sekali karyawan mendapatkan cuti sehari?"

__ADS_1


“Ohh... aku lupa hehehe..." ucap Morgan malu dan menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


“Ya sudah sampai bertemu besoknya lagi."


Siap! ucap Ana sambil memberikan hormat layaknya militer.


Morgan tertawa senang dan masuk kedalam mobilnya. Sesekali ia menoleh ke arah Ana dan akhirnya pergi. Ana menutup pintunya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur ia menatap langit-langit kamarnya mengingat kembali kemesraan Liona dan Jordan.


"Besok adalah hari dimana keputusan akan dibuat untuk penyelesaian masalah kami dan apakah mungkin kami bisa bertemu lagi? Atau sebaliknya? Tak terasa Ana memejamkan matanya dan tertidur pulas."


****


Pukul 05.00 AM Ana bangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya yang masih remang-remang dan belum sadar sepenuhnya. Ia menguap lagi lebar-lebar dan berdiri menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dan mandi. Setelah selesai ia pun merapikan diri. Tak lama ponsel Ana berdering, Ana mencari ponselnya dan ternyata dibawah tempat tidurnya yang entah kapan terjatuh disana. Ia pun segera menerima panggilan itu.


“Halo...?"


“Ana, aku menunggumu di dekat halte cepatlah kesini!"


“Ya baiklah, aku segera kesana."


Anan pun segera kesana dan melihat mobil Jordan sudah terparkir dipinggir jalan. Ia berlari mendekat dan ternyata Jordan bersama Liona disampingnya. Liona melambaikan tangan pada Ana dan tersenyum. Anapun membalas senyuman itu dan segera masuk ke dalam mobil.


“Hay Ana, kau sudah sarapan?" tanya Liona.


“Belum..."


“Baiklah, kita sarapan dulu di tempat biasa Jordan," ucap Liona sambil menoleh ke arah Jordan yang raut wajahnya tak senang sama sekali.


Tanpa menjawab Jordan menjalankan mobilnya. Di sebuah cafe mereka turun dari mobil dan segera masuk untuk memesan makanan.


“Sandwich dan kopi saja."


Tapi Liona sama sekali tak sadar dengan perubahan sikap Jordan sedangkan Ana merasa khawatir dengan Jordan yang terlihat kesal pagi ini.


“Aku ingin salad sayur dan juice orange saja. Ana kau pergilah untuk memesan!" perintah Liona.


“Ya, baiklah," ucap Ana dan pergi menuju kasir.


“Sayang bagaimana kalau nanti malam kita ke bioskop? Aku dengar banyak film baru yang akan tayang hari ini."


“Ya..."


Ana datang membawa pesanan mereka dan meletakkannya dimeja. Tanpa sengaja segelas kopi terjatuh dan membasahi pakaian Liona.


“Argh! Tidak! Kau sengaja Ana!" ucap Liona geram.


“Maafkan aku Liona, aku tidak sengaja! Aduh bagaimana ini? Aku akan membantumu membersihkannya di toilet," ucap Ana sambil mengelap baju Liona dengan tisu namun noda itu tak mau hilang.


“Aku tidak mau! Aku tak mau kau menyentuhku," ucap Liona kesal dan mendorong Ana hingga terjatuh. Semua mata memandangi mereka dan merasa kasihan pada Ana.


“Liona cukup! Ana sudah meminta maaf kenapa kau sampai mendorongnya!" gertak Jordan.


Liona merasa tak terima dan langsung pergi ke toilet. Jordan membantu Ana berdiri dan membereskan kopi yang tertumpah tadi.


“Ana kau tidak apa?" tanya Jordan cemas.

__ADS_1


“Tak apa, sepertinya Liona sangat marah aku minta maaf karna sangat ceroboh."


“Sudahlah, aku juga minta maaf karna sikap Liona yang kasar padamu."


“Habiskan sarapanmu Ana, setelah ini kita menuju kantor agensiku."


“Ohh ya Ana, ada sesuatu yang ingin kutanyakan."


“Tentang apa?"


“Emh apa benar kau sudah menjadi kekasih Morgan?"


“Belum, kenapa bicara seperti itu?"


“Tidak, aku hanya penasaran saja, karna kemarin dia datang menjemputmu dan berkata seperti itu."


“Ohh itu karna dia..."


Ana berhenti bicara karna tak mau menyinggung Liona kekasihnya.


“Karna apa Ana?" tanya Jordan penasaran.


“Emh... tidak! Sebaiknya bahas yang lain saja," ucap Ana mengalihkan pembicaraan.


“Kau menyukai Morgan?" tanya Jordan dengan tatapan tajam.


“Hah? Emh... kenapa bertanya seperti itu? Itu masalah pribadiku jadi aku tidak harus menjawabnya!"


“Jawablah Ana! Aku mohon."


Ana menghentikan aktivitas makannya dan meletakkan roti pesanannya diatas piring. Ia merasa bingung harus menjawab apa, Ana tak berani menganggkat wajahnya karna tatapan Jordan yang begitu tajam seperti akan menusuk musuhnya tanpa ampun jika salah menjawab.


“Ayo Ana jawab!"


“Emh... menurutku Morgan orang yang baik dan sangat perhatian. Dia tidak memandang status saat bergaul dengan seseorang."


“Lalu?" tanya Jordan antusias.


“Aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak suka padanya. Mungkin seiring waktu aku bisa saja jatuh cinta padanya."


Ana menundukkan wajahnya dalam-dalam. Hatinya bergulat setelah mengatakannya pada Jordan. Tidak bisa dipungkiri jika di masa yang akan datang bisa saja ia jatuh cinta pada Morgan.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2