Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Mencium Pipi Lembutnya


__ADS_3

Ana tersenyum senang karna liontin peninggalan orang tuanya itu berada di tangannya sekarang. Morgan juga tak kalah senang melihat ekspresi Ana yang begitu bahagia karna liontinnya itu.


“Terimakasih Pak! Saya sudah mencarinya kemana-mana, tapi tidak menemukannya."


“Tidak masalah Ana. Sepertinya kau sangat menyayangi liontimu itu."


“Ya benar, hanya liontin ini kenangan yang tersisa dari orang tua saya."


“Benarkah? Kalau begitu didalam liontin itu foto kau dan ibumu?"


“Iya Pak benar. Foto ini diambil ketika saya berusia empat tahun."


“Kau sama cantiknya dengan ibumu Ana."


Ana tersenyum lembut, sembari memandangi liontinnya.


“Ana, aku masih ingin mengajakmu ke suatu tempat."


“Kemana Pak?" tanya Ana.


“Kau akan tau setelah ini."


Setelah menyelesaikan makan malam mereka pergi meninggalkan restoran.


Sekitar tiga puluh menit, mereka sampai disebuah danau. Tak ada penghuni yang melintas di danau ini karna sudah terlalu larut.


“Pak dimana kita? Kenapa sepi sekali."


“Kita berada di danau Pitvice. Danau ini memiliki keunikan sendiri dan sangat menakjubkan."


“Keunikan seperti apa Pak?"


"Danau ini memiliki enam belas danau yang tersususn dalam kaskade. Danau ini saling berhubungan dan dipisahkan oleh bendungan alam travertin yang tumbuh satu sentimeter pertahun."


"Yang lebih kerennya lagi, danau ini memiliki organisme yang bisa merubah warna danau mulai dari biru, hijau, hingga abu-abu tergantung sudut matahari."


“Sungguh menakjubkan! Baru pertama kali saya mengetahui danau seunik ini," ucap Ana


kagum.


“ Ya... udaranya juga sangat sejuk. Suasana yang menenangkan pikiran."


Ana mengusap-usap tubuhnya karna cuaca masih sangat dingin. Morgan melepaskan jas kerjanya dan menanggalkannya pada Ana.


“Terima kasih Pak."


“Sepertinya sudah malam Ana, mari kuantar kau pulang."


Ana masuk kedalam mobil dan mobil Morgan pergi meninggalkan danau.


“Ana, sudah berapa lama kau mengenal Jordan?"


“Emh... belum lama Pak, mungkin saat saya akan interview di kantor Bapak."


“Kau harus berhati-hati padanya Ana."

__ADS_1


“Kenapa begitu Pak? Yang saya tau dia orang yang baik dan sangat perhatian."


“Mungkin menurutmu begitu, tapi aku hanya khawatir saja padamu."


Ana semakin dibuat bingung dengan perkataan Morgan.


"Ada apa sebenarnya masalah yang terjadi diantara mereka? Kenapa mereka berdua saling membenci?" gumam Ana dalam hati.


“Ana dimana kamu tinggal?"


“Oh, Bapak tidak perlu mengantar saya. Turunkan saja saya di halte bus yang tak jauh dari kantor," tolak Ana.


“Kenapa? Tentu saja aku harus mengantarmu dengan selamat. Apalagi sudah larut begini, tidak mungkin aku membiarkanmu sendirian dengan transpotasi umum."


“Tapi Pak, tempat tinggal saya rumayan jauh dari sini. Saya merasa tidak enak harus merepotkan Bapak."


“Ana, aku ingin kau menganggapku seperti teman, jadi jangan terlalu sungkan hanya karna aku atasanmu."


“Ya Pak maaf, saya tinggal di sebuah kost kecil sekitar dua puluh kilometer dari sini."


“Baiklah aku mengerti."


Tiga puluh menit perjalanan yang ditempuh. Mobil Morgan sampai di depan kost Ana.


Tak hanya mobil Morgan yang terparkir disana. Mobil Jordan sudah sedari tadi menunggu kehadiran mereka.


Morgan dan Ana turun dari mobil. Ana terkejut dengan kehadiran Jordan yang tak terduga. Jordan bersandar santai di depan mobilnya dengan tangan terlipat di dada.


“Jordan, sedang apa disini?"


“Kasihan sekali kau Jordan, kau menunggu kami berdua dengan begitu lama. Apa maksud dan tujuanmu?" tanya Morgan sinis.


“Cih! Aku mempunyai urusan dengan Ana yang tidak perlu kau tahu," ucap Jordan.


“Sebaiknya jika kau sudah selesai bicara, cepatlah pergi dari sini! Karna kami berdua tidak ingin ada orang ketiga diantara kami!" imbuh Jordan.


“Cukup Jordan! Bicaramu itu terlalu kasar!" ucap Ana berusaha melerai.


“Pak saya minta maaf, tapi kami berdua harus membicarakan sesuatu yang penting, bisakah Bapak meninggalkan kami."


“Baiklah kalau itu maumu," ucap Morgan kecewa.


“Saya sangat senang hari ini. Terimakasih untuk semuanya," ucap Ana sembari tersenyum lembut pada Morgan.


Morgan masuk kedalam mobil dan Ana melambaikan tangannya pada Morgan dengan terseyum senang.


Jordan menatap tajam pada Ana sampai Ana tak berani menatapnya dan menundukkan kepalanya.


Jordan mendekati Ana memasangkan kembali jaketnya pada Ana. Ana mendongak menatap Jordan tak paham dengan sikap Jordan.


“Masuklah kedalam mobil! Kita bicara di mobil," ajak Jordan.


Jordan membukakan pintu mobil untuk Ana dan Ana masuk kedalam mobil.


“Emh... kenapa kau bisa tau aku tinggal disini?" tanya Ana.

__ADS_1


“Aku menyuruh orang-orangku untuk mencari tau dan itu sangat mudah."


“Wah... hebat sekali! Bukankah kita baru bertemu beberapa jam yang lalu dan orang-orangmu dengan cepat mengetahuinya?" tanya Ana tak percaya.


“Tentu saja, dengan uang, semua yang kita mau akan terselesaikan."


“Ya... ya... ya. Dasar tukang pamer!" ejek Ana sambil mencibirkan bibirnya.


“Hahaha... aku tidak pamer! Memang begitu kenyataannya," ucap Jordan tertawa.


“Lalu urusan apa lagi yang kau maksud tadi?"


“Nomor ponselmu," ucap Jordan sambil menyodorkan ponselnya pada Ana.


“Ohh, ternyata hanya ini," ucap Ana kecewa.


“Memang apa yang kau harapkan?"


“Hah? Ohh... emh... tidak!" ucap Ana gugup.


Ana mengetikkan nomornya di ponsel Jordan dan melakukan panggilan.


Ponsel Ana berdering dan menambahkan kontak baru. Jordan meraih ponsel Ana dengan paksa.


“Waow! Unik sekali ponselmu! Kenapa di zaman seperti ini ponselmu seperti nenek-nenek tua," ejek Jordan.


Ia masih tersenyum geli menatap ponsel Ana yang lusuh dan sangat ketinggalan jaman.


“Cepat kembalikan!" ucap Ana kesal dan meraih ponselnya.


“Aku masih belum ada cukup uang untuk membeli ponsel baru," ucap Ana sambil mengelus lembut ponsel jadulnya.


“Kalau Cuma ponsel, aku bisa memberikanmu yang baru besok."


“Tidak! Aku tidak mau menerima pemberianmu."


“Kenapa menolaknya begitu cepat? Aku akan memberikanmu ponsel keluaran terbaru dan mahal."


“Aku tetap tidak mau! Walau ponsel ini terlihat sangat jelek, tapi ini hasil kerja kerasku sendiri."


Jordan tersenyum kecil mendengarnya. Melihat Ana yang sangat sederhana dan selalu bersyukur dengan segala kekurangannya, membuat Jordan menyadari bahwa Ana wanita yang begitu kuat dan apa adanya.


“Baiklah, aku tidak memberinya dengan cuma-cuma."


“Apa maksudmu? Lalu aku harus membayarnya dengan apa?" tanya Ana tak paham.


Jordan mengeluarkan ponselnya dan menyandar pada Ana dengan mesra.


Tak sampai disitu, Jordan dengan spontan mencium pipi Ana dan Ceklik! Foto mereka berdua tersimpan di dalam ponsel dengan ekspresi Ana yang lucu karna terkejut. Ana mencubit Jordan dengan sangat kuat sampai Jordan merintih kesakitan.


“Aarg! Sakit Ana!" ucap Jordan merintih kesakitan.


“Rasakan itu!" ucap Ana kesal dan keluar dengan membanting pintu mobil dengan kasar.


Jordan tertawa geli melihat tingkah Ana yang sangat kesal.

__ADS_1


__ADS_2