
Ancaman dari Tristan sedikit membuat Melly keder, sebab dia tahu kalau Tristan selalu serius dengan kata-katanya. Buktinya, dia benar-benar mengawasinya setelah dia mengatakan akan melakukannya. Seperti kejadiaan waktu itu, saat Tristan memergoki Miko sedang menjemput Melly sepulang sekolah dengan mata kepalanya sendiri.
Tapi bagaimana dia akan membuat Melly menyesal? Apa dia akan terus menggunakan Melly sebagai tamengnya setiap kali dia berhadapan dengan Miko? Semua itu hanya Tristan yang tahu.
Rani membukakan pintu gerbang setelah Melly memencet bel. Lalu dia mengundang Melly untuk masuk ke dalam rumahnya. Raut wajah Rani tampak sedikit kebingungan dengan kedatangan Melly. Sepertinya, Melly harus menjelaskan padanya apa yang sudah terjadi.
"Kak Tristan manfaatin gue buat ngancem kak Miko," kata Melly begitu mereka sudah ada di ruang tamu. "Gue terpaksa ke sini karena dia ngotot pengen nganter gue pulang ke rumah."
"Emangnya dia tahu di mana rumah kak Ghevin?" tanya Rani.
Melly mengangkat bahu. "Gue tetap harus berjaga-jaga," katanya. "Kan bisa gawat kalo ternyata dia tahu dan dia nganter gue ke sana. Sia-sia aja kebohongan gue selama ini sama kak Miko."
Adik Rani yang bernama Billy tiba-tiba menuruni tangga. Dia hanya setahun lebih muda dari Rani dan Melly, tapi wajahnya imut-imut seperti bayi. Dia selalu marah setiap kali disebut imut, tapi Rani dan Melly sangat suka mengganggunya.
Billy menyapa Melly sekilas dan segera bergegas ke dapur. Terdengar suara kompor dinyalakan. Billy dan Rani memang biasa memasak sendiri karena kedua orangtua mereka selalu bekerja sampai malam, sehingga di rumah mereka sering tidak ada makanan.
"Eh, Mell," kata Rani tiba-tiba. Matanya berbinar-binar seakan baru mendapatkan ide bagus. "Lo mau pulang sekarang?"
__ADS_1
"Kenapa? Lo mau ngusir gue?" tanya Melly keki.
"Bukaaan," jawab Rani. "Kalo lo mau pulang, biar gue yang nganter. Kasihan kalo lo pulang sendirian."
Melly tahu apa tujuan Rani yang sebenarnya. "Lo mau ke rumah gue supaya bisa ngelihat si Ghevin, kan?" tebaknya.
Rani nyengir. "Tahu aja lo."
Melly menggetok pelan kepalanya. "Jelas tahu lah! Pake acara bilang kasihan sama gue, lagi," gerutu Melly.
"Gue emang kasihan sama lo kok," kata Rani tidak meyakinkan. "Tapi, kak Ghevin lagi ada di rumah kan sekarang?"
"Semoga dia lagi ada di rumah," harap Rani. "Ayo, Mell, gue anter lo pulang sekarang."
"Ogah ah. Gue mau istirahat dulu," protes Melly.
Seakan tak memedulikannya. Rani tetap menyeret Melly dari sofa. "Kalo mau istirahat, di rumah lo aja," katanya.
__ADS_1
"Sial. Ini sih sama aja lo ngusir gue," dengus Melly.
"Sorry, Mell." kata Rani sambil nyengir kuda.
Kepada Billy, Rani berseru, "Billy, gue nganter Melly pulang dulu ya!"
"Lama, nggak?" Billy balas berseru dari dapur.
"Tergantung ada kak Ghevin atau nggak," sahut Rani.
Rani mengajak Melly ke luar rumah dan menyerahkan sebuah helm padanya, sementara dia sibuk mengeluarkan Yamaha Mio pink dari carport.
Setelah Melly naik ke motor, Rani segera mengemudikan motornya menuju rumah Melly. Sepanjang perjalanan Rani terus saja berceloteh, terutama mengenai soal Ghevin. Melly hanya menanggapinya sesekali.
Betapa senangnya Rani saat melihat mobil Ghevin terparkir di depan rumah. Dia menghentikan motor di dekat mobil Ghevin. Melly segera membuka pintu gerbang dan mengajaknya masuk.
🌽Bersambung🌽
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.