Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 39


__ADS_3

Tristan semakin sering mengajak Melly berkencan. Mereka tidak lagi hanya makan lalu berkumpul bersama anggota gengnya, seperti yang mereka lakukan pada kencan pertama mereka, tapi juga mulai jalan-jalan di mall dan menonton di bioskop layaknya orang berpacaran.


Saat mereka sedang bersiap pulang pada salah satu kencan mereka, tiba-tiba saja Tristan menyuruh Melly menunggu di mobil sementara dia pergi untuk membeli sesuatu. Dia kembali dengan membawa dua kantong kresek yang berisi makanan.


"Buat apa beli makanan lagi?" tanya Melly heran ketika Tristan meletakkan kedua kantong kresek itu di pangkuannya. "Tadi kan kita udah makan."


"Pegang aja dulu," kata Tristan tanpa menjawab pertanyaan Melly. Dia mengarahkan mobil ke jalanan.


Selama beberapa saat Tristan tampak berkonsentrasi menyetir. Lalu tiba-tiba saja dia mulai mengatakan sesuatu yang membuat jantung Melly langsung kebat-kebit.


"Gue pengen jadi lebih dari sekadar temen buat lo."


Melly langsung menoleh pada Tristan, tapi pandangan Tristan tetap tertuju pada jalanan di depan mereka. Sepertinya dia sengaja mengatakannya pada saat dia sedang menyetir, sehingga dia punya alasan untuk tidak menatap Melly.


"A-apa maksud lo?" tanya Melly pura-pura bodoh.


"Gue yakin lo tahu apa maksud gue," kata Tristan, yang memang tidak bisa dibodohi. "Lo pasti tahu perasaan gue ke lo. Selama ini gue nggak pernah berusaha untuk menyembunyikan itu."


Tentu saja Melly tahu, tapi dia tetap ingin mendengar langsung dari Tristan. Jadi, dia memutuskan untuk tetap bertahan dengan sikap pura-pura bodohnya.


"Gue nggak ngerti maksud lo," kilahnya. "Emangnya gimana perasaan lo ke gue?"


Tristan mendengus. "Jangan mancing gue," geramnya.


"Mancing apa?" balas Melly. "Gue emang nggak tahu perasaan lo ke gue. Jadi wajar dong kalo gue nanya."


"Lo kan udah tahu," tandas Tristan.


"Nggak, gue nggak tahu," kata Melly keras kepala.

__ADS_1


"Melly," Tristan memperingatkan.


"Terserah lo sih, kalo lo emang nggak mau bilang," kata Melly dengan nada cuek. "Tapi berarti sampai kapan pun juga gue nggak akan tahu perasaan lo ke gue."


Tristan tampak berusaha setengah mati untuk mempertahankan kesabarannya. "Gue suka sama lo, ampun deh!" serunya keki.


Melly pun tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya dia bisa mendengar pernyataan cinta Tristan langsung dari orangnya, meskipun dengan cara tidak romantis begitu.


"Gue mau lo jadi pacar gue dan lo nggak boleh nolak," kata Tristan. "Tapi karena nggak etis kalo gue ngejadiin lo pacar gue begitu aja, gue akan ngasih lo kesempatan untuk ngejawab."


Melly baru akan membuka mulutnya, tapi Tristan mengangkat tangan ke arahnya, membuat Melly menutup mulutnya kembali.


"Gue nggak mau lo ngejawab lewat kata-kata," ucap Tristan. "Gue udah nyiapin sesuatu. Coba lo buka kantong kresek di pangkuan lo itu."


Melly menurutinya. Begitu dibuka, dia melihat sate ayam di kantong kresek pertama dan sushi di kantong kresek kedua. Dia berpaling kembali pada Tristan dengan tatapan tidak mengerti.


"Kalo lo nerima gue, gue mau lo makan sate ayam itu," jelas Tristan. "Dan kalo lo nolak, lo harus makan sushi itu."


Senyum bermain di bibir Tristan ketika dari sudut matanya melihat Melly mengambil setusuk sate ayam dan mulai memakannya. Sambil mengunyah, Melly pun ikut tersenyum. Resmi sudah dirinya menjadi pacar Tristan. Sate yang dia makan rasanya menjadi lebih enak berkali-kali lipat karena hatinya sedang bahagia.


Tristan menghentikan mobil di depan rumah Rani. Akhirnya, dia berpaling ke arah Melly. Tatapannya turun dari wajah Melly ke kantong kresek yang ada di pangkuannya, dan dia langsung tercengang.


"Melly," kata Tristan. "Aku nggak nyuruh kamu buat habisin satenya lho."


Dua puluh tusuk sate yang tadi dibeli oleh Tristan memang sudah lenyap ke perut Melly. Tapi Melly tidak sempat merasa malu karena perhatiannya teralih pada kata-kata Tristan. Ini pertama kalinya Tristan menggunakan "aku-kamu" ketika berbicara dengannya. Sepertinya Melly juga harus mulai membiasakan diri untuk mengikutinya.


"Maaf, aku nggak sadar udah makan semuanya. Habis satenya enak sih." kata Melly canggung, karena terbiasa menggunakan "lo-gue" ketika mereka berbicara.


Tristan tertawa. "Inilah kenapa aku suka sama kamu," katanya.

__ADS_1


"Karena aku rakus?" tebak Melly bingung.


Tawa Tristan berlanjut. "Bukan," katanya. "Tapi karena tingkah kamu itu lucu dan selalu bisa bikin aku tertawa. Aku jadi nggak bosen-bosen kalo lagi bareng kamu."


Untungnya Tristan menganggap tingkah Melly lucu, bukan memalukan. Melly pun menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Saat itu juga dia menyadari keberadaan sushi yang masih utuh. Dia mengambil satu sushi dan mengulurkannya pada Tristan.


"Kamu harus makan ini kalo emang kamu serius ingin menjadikanku pacarmu," kata Melly. "Nggak ada pilihan untuk menolak."


Tristan tersenyum. Segera dia melahap sushi itu langsung dari tangan Melly. Lalu Melly mengambil satu sushi lagi dan memasukkannya ke dalam mulut Tristan meskipun dia belum menelan yang sebelumnya, membuat pipinya menggembung. Tristan berusaha menelannya sementara Melly menertawakannya.


"Ya Tuhan... gue bahagia banget!" girang Melly dalam hati.


Rasanya Melly tidak ingin keluar dari mobil dan berpisah dengan Tristan. Melly sadar dirinya sudah bersikap norak, tapi dia tidak peduli.


Ketika akhirnya Melly sudah berada di dalam rumah Rani, dirinya tidak tahan untuk tidak memeluk Rani dan memberitahunya bahwa dia sudah resmi berpacaran dengan Tristan. Billy juga menjadi korban kebahagiaannya. Dia bahkan sampai harus lari-lari mengitari rumah karena Melly mengejarnya untuk memeluknya. Mereka berdua memberi ucapan selamat kepada Melly, meskipun dengan cara masing-masing.


"Cie, yang baru jadian, mukanya berseri-seri begitu," ledek Rani. "Nggak sadar kalo temennya udah ditinggalin jomblo sendirian."


Melly cengengesan. "Makanya cepet cari pacar dong."


"Bilang sana sama Kak Ghevin biar cepet-cepet nembak gue," kata Rani.


"Eh, Mell, jangan lupa traktir gue ya," timbrung Billy, yang baru beberapa menit sebelumnya berhasil dipeluk Melly dengan kekuatan super.


"Beres!" kata Melly berbaik hati. "Ntar kalian berdua gue traktir es krim deh."


"Yah… !!! Masa cuma es krim sih?" protes Rani dan Billy bebarengan.


Meskipun harus menghadapi todongan traktiran dari kakak-beradik mengerikan itu, Melly masih bisa tetap tersenyum. Rasanya tidak ada yang bisa merusak kebahagiaannya saat ini.

__ADS_1


🍙Bersambung🍙


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.


__ADS_2