Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 32


__ADS_3

Billy Joe Adriano (15 Tahun)


Adik dari Rani yang memiliki wajah Baby Face ini berstatus sebagai siswa SMP.



*****


"Mau minum apa, Kak Ghevin?" tanya Rani, seakan-akan tamunya hanya Ghevin. Dia bahkan tidak menawari Melly. "Gue ada beberapa jenis minuman, tapi kalo yang lo mau nggak ada, gue bisa pergi beli."


"Nggak usah repot-repot, Ran," kata Ghevin. "Gue di sini cuma sebentar kok."


"Iya, Ran, nggak usah repot-repot," ulang Melly. Melly memberinya lirikan penuh peringatan agar dia tidak bersikap berlebihan.


Ghevin mengamati rumah Rani. "Rumah lo rapi ya," komentarnya. "Nggak berantakan kayak rumah gue."


"Kan lo sendiri yang bikin berantakan, Ghev," kata Melly.


"Kalo lo tahu gue yang bikin berantakan, harusnya lo rapihin dong! Kan lo cewek." kata Ghevin tidak mau kalah.


Rani melerai pertengkaran mereka. "Biasanya adik gue juga suka bikin berantakan kok," katanya.


"Oh, lo punya adik, Ran?" tanya Ghevin.


Rani mengangguk. "Gue punya satu adik cowok, namanya Billy," sahutnya.


Baru saja dibicarakan, tiba-tiba Billy muncul. Dia baru menuruni tangga dan terkesiap saat melihat Ghevin.


"Kak Ghevin!" seru Billy kaget. Lalu, lebih kaget lagi karena tiba-tiba nama Ghevin tercetus begitu saja, dia langsung menutup mulutnya dengan tangan.


Ghevin menatap Billy dengan heran. "Lo tahu gue?"


Billy menurunkan tangannya. "Jelas gue tahu lo," katanya. "Lo kan ngetop banget. Rani juga sering ngomongin lo."


Rani tiba-tiba tertawa dengan suara sekeras mungkin, mengagetkan semua orang yang ada di ruangan itu. Dia merangkul Billy dan sepertinya diam-diam memberikan cubitan padanya.

__ADS_1


"Si Billy ini ada-ada aja," kata Rani. "Gue emang pernah ngomongin lo sama dia, Ghev. Tapi nggak sering banget kok."


"Apanya yang nggak… " Billy sudah mau protes, tapi Rani mencubitnya lagi untuk membuatnya berhenti bicara.


"Lo kelas berapa?" tanya Ghevin pada Billy.


"Kelas sembilan," jawab Billy.


Ghevin mengangguk-angguk. "Apa lo punya rencana masuk ke SMA Ganesha?" tanyanya lagi. "Karena kalo iya, gue bisa ngasih pesen sama penerus gue nanti supaya merekrut lo jadi anggota geng."


"Ghev!" Melly memukul lengannya. "Jangan ngajarin anak orang jadi nggak bener kayak lo, deh."


Ghevin tampak keki karena Melly bilang begitu. "Siapa bilang gue nggak bener?" sungutnya.


"Si Billy ini nasibnya bakal sama kayak gue," kata Rani. "Dia juga disuruh masuk ke SMA Galaxy sama bokap-nyokap gue."


"Tapi gue nggak mau kok," kata Billy. "Gue lagi berusaha ngebujuk mereka biar ngizinin gue sekolah di tempat lain."


"Emangnya lo mau sekolah di mana?" tanya Rani.


Rani segera mencubitnya lagi, membuat Billy mengaduh-aduh meminta ampun. Billy hanya sebentar mengobrol dengan mereka sebelum akhirnya kembali naik untuk menghindari siksaan Rani.


"Kayaknya gue udah harus balik," kata Ghevin setelah beberapa saat.


Rani tampak kecewa. "Secepat itu?"


"Sorry, Ran. Gue udah hampir telat kencan soalnya" kata Ghevin, membuat wajah Rani semakin sayu. "Rumahnya agak jauh, jadi gue harus berangkat lebih awal."


Melly merasa tidak perlu menghibur Rani sebab dia sudah tahu kebiasaan Ghevin yang berkencan dengan banyak cewek. Asalkan dari banyak cewek itu tidak ada yang dianggap serius oleh Ghevin, maka Rani akan baik-baik saja.


Melly membiarkan Rani yang mengantar Ghevin keluar. Sekembalinya ke ruang tamu, dia tampak kebingungan.


"Kak Ghevin ngucapin selamat bersenang-senang buat kita berdua," kata Rani. "Emangnya lo pake alasan apa sama dia?"


"Gue bilang kita mau jalan-jalan," jawab Melly.

__ADS_1


"Oh, pantes aja," kata Rani. Dia duduk di sofa yang tadinya diduduki Ghevin. Wajahnya sudah kembali cerah. "Gue nggak percaya Kak Ghevin ada di dalem rumah gue. Harusnya tadi gue foto buat kenang-kenangan."


"Mulai deh lebaynya," gerutu Melly. "Lo lupa ya kalo sekarang dia lagi pergi kencan?"


Habis sudah Melly menjadi korban cubitan Rani yang selanjutnya.


"Jangan ingetin gue soal itu," omelnya. "Mending sekarang lo pikirin kencan lo sendiri. Gimana? Udah siap?"


"Gue mulai deg-degan," aku Melly.


Ya, semakin dekat waktu kencan, Melly jadi semakin tegang. Dia tidak merasakan ini ketika kencan dengan Miko dulu. Perutnya terasa mulai melilit dan dia memikirkan segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di kencannya dengan Tristan.


"Kak Tristan beneran bakal dateng nggak, ya?" tanya Melly, "takutnya dia cuma bohongin gue doang, kalo nggak mendadak dia berubah pikiran."


"Lo harus berpikir positif," Rani memberi saran.


"Tapi gue takut semuanya jadi kacau," kata Melly. "Gue takut ntar gue bikin kesalahan, terus Tristan nggak suka lagi sama gue."


"Nah," kata Rani tiba-tiba. "Lo yang bilang sendiri kalo Tristan suka sama lo. Berarti sekarang lo udah yakin kan, sama perasaannya ke lo?"


Melly juga baru sadar dirinya mengatakan itu. "Tadinya gue juga nggak mau terlalu berharap tinggi," katanya. "Tapi ngelihat sikapnya ke gue, rasanya susah buat mengingkarinya."


"Terus kalo tiba-tiba dia ngajak lo jadian gimana?"


"Cepat banget!" protes Melly.


"Yeee... lo nggak sadar, ya? Segala sesuatu yang terjadi sama kalian berdua kan emang berlangsung dengan cepat," jelas Rani.


"Ah... bener juga katanya. Tapi kalo Tristan ngajakin gue jadian, gue akan... gue akan..."


Melly terus berpikir.


"Aaahhh... bisa gila gue mikirinnya! Mending gue fokus sama kencan gue malem ini, nggak usah mikir macem-macem dulu. Peduli amat sama pertanyaan bodoh Rani."


🍒Bersambung🍒

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.


__ADS_2