
Obrolan mereka terhenti sejenak ketika Mamanya Melly keluar untuk menyuguhkan minuman dan camilan.
"Kok repot-repot amat sih, Tante," kata Miko sungkan. "Kan Miko di sini cuma sebentar."
"Nggak apa-apa. Silahkan dicicipi." tawar Mamanya Melly, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
"Terima kasih, Tante." kata Miko sopan.
Mereka pun kemudian menikmati apa yang disuguhkan oleh Mamanya Melly.
"Ngomong-ngomong," kata Miko melanjutkan obrolan, "gue denger Ghevin jadi begitu karena soal lo sama Tristan."
Itu tidak mengejutkan. Tentunya Miko tahu alasan di balik perubahan sikap Ghevin. Mungkin Ghevin sendiri yang memberitahunya.
"Jadi, apa itu bener?" tanya Miko. "Lo sama Tristan pacaran?"
"Kita emang sempat pacaran," sahut Melly. "Tapi hubungan kita berakhir begitu cepet nyampe-nyampe Melly nggak yakin apakah itu nyata."
"Hubungan kalian berakhir karena Tristan tahu lo adiknya Ghevin?"
__ADS_1
"Ya," angguk Melly. "Apa yang terjadi sama Amanda terjadi juga sama Melly."
Miko diam sejenak sebelum bertanya, "Apakah kalian berdua... bener-bener saling mencintai?"
Melly tahu Miko bertanya begitu mungkin karena mengira Tristan memaksanya untuk berpacaran dengannya. Sepertinya Melly harus memberi Miko penjelasan.
"Melly mencintai Tristan," tegas Melly. "Dan dulu dia juga mencintai Melly. Tapi kalo sekarang, Melly nggak yakin."
Miko mendesah. "Waktu lo nolak gue, gue tahu gue harus merelakan lo sama cowok lain," katanya. "Tapi gue nggak nyangka cowok itu Tristan. Maksud gue, dia cowok terakhir di muka bumi ini yang bakalan gue relakan jadi pacar lo."
Sama seperti Ghevin, Miko juga pasti tidak setuju Melly berpacaran dengan Tristan. Miko dan Tristan memang tidak punya dendam pribadi, tapi tetap saja mereka saling membenci.
"Tapi buat gue, yang terpenting adalah kebahagiaan lo," lanjut Miko. "Lo udah milih Tristan, jadi gue juga harus bisa nerima itu."
"Lo jangan menyerah, Mell," kata Miko. "Nggak bisa bersama dengan orang yang kita cintai itu rasanya menyakitkan. Gue tahu, karena gue pernah mengalaminya."
Melly jadi tidak enak karena tahu dia orang yang telah membuat Miko mengalami hal itu.
"Tapi Kak Miko nyerah sama Melly," kata Melly mengingatkannya.
__ADS_1
"Itu karena gue tahu lo nggak cinta sama gue," kata Miko. "Sebenernya gue pengen memperjuangkan lo, tapi gue juga nggak bisa maksain lo. Sedangkan lo sama Tristan kan beda, kalian saling mencintai. Meskipun sekarang lo nggak yakin dengan perasaan Tristan, dia juga pasti nggak akan ngelupain lo begitu aja."
"Jadi Melly harus tetep berjuang?" tanya Melly meminta saran.
"Tentu," jawab Miko. "Mungkin akan butuh waktu, karena Ghevin dan Tristan sama-sama keras kepala. Tapi gue yakin pada akhirnya nanti, semua perjuangan lo akan terbayar."
Kata-kata Miko melecut kembali semangat Melly. Melly tidak boleh menyerah. Mungkin sekarang memang banyak kesedihan, tapi dia harus percaya kalau kesedihan itu akan berubah kembali menjadi kebahagiaan.
Sebelum Miko berpamitan, Melly memintanya untuk sering-sering menemuinya. Melly memang tidak bisa membalas perasaan Miko, tapi dia ingin menjadi teman yang baik untuknya.
***
Ghevin pulang ketika Melly sedang berada di kamar mandi. Mereka sempat berpapasan, tapi dia malah pura-pura tidak melihat Melly. Dia sempat menghabiskan waktunya di kamar sebelum akhirnya pergi lagi.
Melly mencari-cari ponsel yang tadi dia letakkan di ranjang. Dia ingin melihat apakah Tristan menghubunginya. Memang menyedihkan, tapi itulah yang sering dilakukannya akhir-akhir ini. Ternyata ponselnya tidak ada. Melly sudah mengacak-acak ranjangnya ketika dia melihat ponselnya ternyata ada di atas meja rias.
"Kenapa HP gue bisa ada di sana? Bukannya tadi gue taruh di ranjang? Jangan-jangan perasaan sedih gue udah bikin gue jadi pikun!"
Melly melihat layar ponselnya, dan menyadari Tristan tidak menghubunginya. Tikaman kekecewaan yang sudah biasa dia rasakan kini mulai muncul lagi. Sampai kapan Tristan akan bersikap begini pada Melly?
__ADS_1
🍠Bersambung🍠
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.