Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 48


__ADS_3

Mendekati taman di dekat SMA Galaxy, Melly bisa melihat mobil Ghevin dan Tristan, juga beberapa mobil lain terparkir di depannya. Miko menghentikan motor diantara mobil-mobil itu. Tanpa menunggunya lagi, Melly langsung berlari menembus taman.


Taman itu sangat luas, banyaknya pepohonan menghalangi pandangan Melly. Ditambah lagi, suasana yang remang menyulitkannya mencari Ghevin dan anggota gengnya.... juga Tristan.


Tapi akhirnya Melly menemukan mereka di bagian tengah taman. Anggota geng Ghevin ada lebih dari sepuluh, mereka memberi semangat pada Ghevin yang sedang memukuli Tristan. Tristan meringkuk di tanah, dan sama sekali tidak bisa melawan.


Melly pun langsung menjerit dan segera menghampiri mereka, lalu dia mendorong tubuh Ghevin menjauh dari Tristan. Terdengar seruan kaget Ghevin dan anggota gengnya, tapi Melly tidak memedulikan mereka. Yang terpenting baginya saat ini adalah Tristan. Melly lantas berjongkok di sebelahnya. Air matanya secara otomatis mengalir ketika melihat keadaan Tristan yang sudah babak belur.


Melly tidak pernah melihat Tristan dalam keadaan tidak berdaya seperti ini. Tristan biasanya kuat dan selalu percaya diri pada kemampuannya. Separah apa Ghevin melukainya, sampai-sampai Tristan bahkan tidak mampu untuk berdiri?


"Tristan," isak Melly, sambil mengusap darah yang mengalir di bibirnya. "Kamu nggak apa-apa?"


Tristan menepiskan tangan Melly dengan sisa-sisa tenaganya. "Aku nggak butuh bantuan kamu," katanya dengan suara serak.


"Jangan sok kuat begitu," tukas Melly, masih sambil terisak.


Sekujur tubuh Tristan penuh luka. Melly berusaha memeriksanya, tapi Ghevin menariknya berdiri.


"Kenapa lo bisa ada di sini?" tuntutnya.


Melly berusaha melepaskan diri dari Ghevin, tapi dia memeganginya erat-erat. Bukannya menjawab pertanyaan Ghevin, Melly malah terus terisak-isak sambil memandangi Tristan.


"Gue yang bawa dia ke sini." Terdengar suara Miko, yang muncul tiba-tiba di dekat mereka. Dia melirik Tristan, lalu berpaling pada Melly dengan iba.

__ADS_1


"Lo harus pulang," perintah Ghevin pada Melly. Dia mulai menariknya menjauh dari Tristan.


"Nggak!" seru Melly. Dia kembali berontak. "Gue nggak mau pulang. Gue mau sama Tristan."


Perlawanan Melly membuat Ghevin murka. Dia menyeret Melly tanpa ampun. Tubuh Melly sampai terasa sakit karena mencoba bertahan.


"Nggak mau!" jerit Melly histeris. Dia mengulurkan tangannya pada Tristan. "Tristan! Tristan!"


Miko jadi tidak tega melihatnya. "Ghev, jangan begitu," pintanya pada Ghevin.


"Diem lo!" bentak Ghevin. "Lo nggak seharusnya bawa Melly ke sini."


Melly tahu dia tidak akan bisa melawan Ghevin. Tenaganya terlalu kuat. Jadi dia memandangi Miko, berusaha memohon pada Miko lewat tatapannya, agar Miko mau menolong Tristan.


Miko berhasil menangkap permohonan Melly. Dia mengangguk paham dan tersenyum untuk menenangkannya. Melly pun yakin Tristan akan baik-baik saja. Miko memang membenci Tristan, tapi demi Melly, dia pasti akan menolongnya.


"Berhenti nangis, Melly!" desis Ghevin. "Dia emang pantas dihajar."


"Kenapa dia pantas dihajar?" balas Melly. "Apa karena dia macarin gue? Dia kan udah mengakhiri hubungannya dengan gue."


"Dia nggak seharusnya mendekati lo sejak awal," sergah Ghevin. "Lo itu adik gue, itu berarti lo terlarang buat dia."


"Apa lo nggak denger yang waktu itu Rani bilang ke lo?" tuntut Melly. "Tristan nggak tahu kalo gue ini adiknya lo sampai dia dateng ke rumah kita. Jadi dia macarin gue bukan untuk ngebalas lo. Lagian, dulu lo juga nggak tahu kalo Amanda itu adiknya Tristan waktu lo macarin Amanda."

__ADS_1


"Jangan bawa-bawa Amanda dalam hal ini," Ghevin memperingatkan.


"Kenapa? Karena lo tahu lo salah?" tebak Melly. "Lo campakin Amanda begitu aja waktu lo tahu dia adiknya Tristan. Wajar kalo Tristan ngebenci lo karena itu."


"Oh, jadi lo di pihak Tristan sekarang?"


"Gue nggak di pihak siapa-siapa," kata Melly. "Gue cuma pengen lo tahu nggak seharusnya lo ngehajar dia karena gue."


Ghevin tidak mengatakan apa-apa lagi sampai dia menghentikan mobilnya di depan rumah mereka. Ghevin tidak langsung turun dari mobil, begitu juga dengan Melly.


"Gue nggak nyesel udah ngehajar pengecut itu," kata Ghevin.


Melly mendengus. "Pengecut?" ulangnya. "Atas dasar apa lo ngatain dia pengecut? Bukannya pengecut itu yang make HP adiknya buat mancing musuh bebuyutannya ke taman, supaya dia bisa mengeroyoknya bersama anggota gengnya?"


"Nggak usah nyindir gue, Mell," balas Ghevin. "Asal lo tahu aja, urusan gue sama Tristan belum selesai. Gue akan membuatnya lebih babak belur lagi dari malem ini."


Kemarahan Melly menggelegak mendengar ucapan Ghevin. Bukan hanya tidak menyesal, Ghevin bahkan ingin mengulanginya lagi.


"Lo tahu," kata Melly, dengan air mata yang mengalir deras. "Kalo boleh milih, gue nggak pengen dilahirkan sebagai adik lo. Gara-gara itu, gue jadi nggak bisa bersama dengan cowok yang gue cintai. Gue benci sama lo. Gue benci punya kakak kayak lo. Lo itu pengecut, tahu nggak?! Pengecut…!!!"


Melly sempat melihat wajah Ghevin yang terperangah sebelum dia turun dari mobil dan membanting pintu. Kemudian dia berlari hingga kamar. Dan di sana, dia melanjutkan tangisnya sambil meringkuk di ranjang.


Ada setitik penyesalan yang Melly rasakan atas kata-kata kasarnya pada Ghevin, tapi kemarahannya segera menghapusnya. Melly berharap Ghevin menyadari kesalahannya setelah dia mencaci makinya.

__ADS_1


🍢Bersambung🍢


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.


__ADS_2