Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 51


__ADS_3

Rani tidak langsung pulang setelah mengantar Melly. Dia menuntut Melly untuk menceritakan apa yang dikatakannya pada Tristan. Ketika Melly bilang bahwa dirinya minta maaf pada Tristan atas apa yang dilakukan Ghevin, Rani mengemukakan ketidaksetujuannya. Dia juga tidak setuju jika Melly minta maaf pada Amanda. Menurutnya, bukan Melly yang harus minta maaf. Tapi Melly tidak menyesalinya. Dia justru merasa lega karena sudah minta maaf pada Tristan dan Amanda.


Setelah puas mendengar cerita Melly, Rani mulai membicarakan Amanda. Dia memuji kecantikan Amanda, tapi tetap tidak menyukainya. Sepertinya dia merasa terancam karena Amanda masih mengharapkan Ghevin. Dia takut Ghevin tahu dan memutuskan untuk kembali pada Amanda.


Mendadak Ghevin pulang di tengah-tengah pembicaraan mereka. Dia sama sekali tidak menatap Melly, bahkan tidak juga menyapa Rani. Dia ngeloyor begitu saja ke pintu gerbang seakan-akan Melly dan Rani tidak ada.


"Kak Ghevin," panggil Rani tiba-tiba. Ghevin langsung berhenti di ambang pintu gerbang, sementara Melly menatap Rani dengan kaget.


"Ngapain dia manggil si Ghevin?"


"Nyampe kapan sih lo mau diem-dieman terus sama Melly?" tanya Rani.


Ghevin tidak menyahut, tapi dia tetap diam di tempat. Dia mendengarkan Rani tanpa menghadap ke arahnya.


"Melly kan adik lo," kata Rani. "Meskipun bertengkar, kalian harus segera baikan. Salah satu dari kalian harus ada yang mengalah. Jangan ada gengsi-gengsian."

__ADS_1


Kalaupun ada yang harus mengalah, orang itu seharusnya bukan Melly. Melly kan masih marah pada Ghevin.


"Melly bahkan udah mewakili lo minta maaf pada Kak Tristan dan Amanda," kata Rani memberitahu Ghevin. "Padahal itu bukan kesalahannya."


Sebenarnya Melly berharap Rani tidak mengungkit soal itu. Karena Melly tahu Ghevin pasti tidak akan suka mendengarnya.


"Kalo lo emang salah, lo harus berani mengakui," kata Rani. "Mengaku salah bukan berarti kalah kok."


Setelah mendengar kata-kata bijak dari Rani itu, Ghevin pun melanjutkan langkahnya ke dalam rumah. Rani tiba-tiba saja limbung sehingga Melly cepat-cepat menangkapnya.


"Gue barusan nekat banget, ya," cetus Rani. Dia menatap Melly dengan ngeri. "Kalo Kak Ghevin jadi marah sama gue, gimana nih?"


"Nggak lah," kata Melly. "Lagian yang lo bilang tadi kan emang benar."


"Tetep aja gue takut," sergah Rani. "Aduuhhh... gue emang suka nggak mikir panjang lagi kalo ngomong."

__ADS_1


"Emangnya lo kenapa sih? Kok tiba-tiba kepikiran buat ceramah?" tanya Melly. "Gue aja nyampe kaget tadi."


"Soalnya gue ngerasa apa yang dilakukan Kak Ghevin ke Kak Tristan, bikin gue jadi kecewa," jelas Rani. "Kesannya dia jahat banget. Gue nggak mau Kak Ghevin jadi orang kayak gitu."


Melly yakin seandainya Ghevin dan Rani pacaran, Rani pasti akan memberi pengaruh yang baik untuk Ghevin. Melly berusaha menenangkan Rani, tapi sampai dia pulang pun, dia masih saja ketakutan.


Melly jadi penasaran apakah Ghevin akan menuruti Rani dan berinisiatif untuk baikan dengannya. Seperti biasa Melly duduk di seberang Ghevin saat makan malam, tapi tidak ada tanda-tanda Ghevin mau mengajaknya berbicara. Justru Papanya yang tiba-tiba bersuara. Beliau berdeham untuk menarik perhatian Melly dan Ghevin.


"Selama ini Papa diem aja, tapi bukan berarti Papa nggak tahu kalau kalian sedang bertengkar," kata Papanya. "Papa harap, nggak peduli masalah apa pun yang ada di antara kalian, kalian akan segera membereskannya. Mengerti?"


"Mengerti, Pa," sahut Melly dan Ghevin bebarengan.


Melly dan Ghevin sempat beradu pandang selama beberapa detik, kemudian mereka sama-sama membuang muka. Entah kapan keduanya akan membereskan masalah di antara mereka. Hanya waktu yang bisa menjawab.


🍥Bersambung🍥

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.


__ADS_2