
Robbin datang ke kelas Melly pada jam istirahat untuk menyampaikan bahwa Tristan sedang menunggunya di kantin. Melly mengeluh dalam hati. Padahal dirinya sudah sengaja tidak ke kantin untuk menghindari Tristan.
Rani memandangnya penuh rasa iba. Dia memberi Melly semangat dengan menepuk bahunya. Melly tersenyum lemah padanya dan dengan malas-malasan mengikuti Robbin ke kantin.
Tristan duduk di meja paling besar di kantin, dengan seluruh anggota gengnya. Bangku yang berada di hadapannya kosong, maka Robbin menyuruhnya untuk duduk di sana. Melly menunggu Tristan bicara. Tapi Tristan malah menunjuk ke arah meja. Melly pun menatap meja, kemudian kembali menatapnya. Dia tidak mengerti maksudnya.
"Lo lihat meja ini kosong, kan?" kata Tristan. "Gue mau lo beliin makanan buat gue dan semua anggota geng gue."
Mata Melly membesar. "Semua?" seru Melly terkejut.
"Ya, semua," tegas Tristan. Dia mengeluarkan dompetnya dan melemparkan beberapa lembar uang ke hadapan Melly. "Lo tenang aja. Gue nggak nyuruh lo buat traktir kita semua kok."
Yang jadi masalah untuk Melly itu sebenarnya bukan sekadar uang. Anggota geng Tristan berjumlah enam belas orang, termasuk dirinya sendiri. Jadi dia harus bolak-balik mengantarkan makanan pada mereka.
Melly baru akan membuka mulut untuk menyampaikan keberatan, tapi dirinya teringat pada Miko. Tristan pasti akan kembali mengancam untuk memukuli Miko kalau dia sampai menolak. Jadi, Melly mengambil uang Tristan dan menanyakan apa yang harus dibeli.
"Gue mau nasi goreng," kata Tristan. "Kalo temen-temen gue, lo tanyain aja mereka satu per satu apa yang mereka mau. Ingat, jangan nyampe ada pesenan yang salah."
Dengan berat hati Melly berdiri dan menghampiri teman-teman Tristan, dimulai dari yang terdekat. Dia mencatat pesanan mereka di ponsel. Beberapa dari mereka sengaja mengerjai dirinya dengan menggonta-ganti pesanan mereka.
Melly tahu dia melakukan ini untuk Miko, tapi ini sudah keterlaluan. Apa hak Tristan hingga dia menjadikannya sebagai pesuruh gengnya. Mungkin menurutnya ini hukuman yang pantas untuk Melly, karena dia dianggap telah mengkhianati sekolah dan berarti dia juga mengkhianati gengnya. Tapi Melly mengira hanya akan berurusan dengan Tristan, dan bukan dijadikan bulan-bulanan oleh anggota gengnya.
__ADS_1
Butuh waktu lama bagi Melly untuk memenuhi meja yang kosong itu dengan makanan. Namun setelah selesai, Tristan tidak mengizinkannya pergi. Melly diharuskan untuk tetap duduk di hadapannya.
"Kenapa lo nggak makan?" tanyanya.
"Gue nggak laper," jawab Melly.
"Yakin? Ntar diem-diem lo nyomot makanan di piring gue, lagi."
Tristan masih saja mengingat perbuatan Melly yang memalukan itu, padahal Melly setengah mati ingin melupakannya. Melly menanti dengan tidak sabar sampai bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Tanpa pamit, dia langsung berlari menuju kelasnya. Kelas X-5.
"Gue benci banget sama kak Tristan!" serunya pada Rani begitu dia sudah duduk di sebelahnya.
"Dia ngejadiin gue sebagai pesuruh gengnya," jawab Melly kesal. "Tadi dia nyuruh gue pesenin makanan buat dia sama temen-temennya. Keterlaluan banget, kan?"
"Lo tolak aja lagi, Mell," saran Rani. "Atau lo bilang sama kak Miko. Lebih ekstrem lagi, lo bilang aja sama kak Ghevin. Dia pasti langsung bawa tank buat ngegiles kak Tristan kalo dia tahu adiknya dijadiin pesuruh begitu."
Melly menggeleng. "Mereka nggak bisa berbuat apa-apa," kata Melly. "Gue sama kak Miko itu dijadiin kak Tristan sebagai ancaman untuk satu sama lain. Sama kayak gue yang nurutin kemauan kak Tristan buat nglindungi kak Miko, kak miko juga ngelakuin hal yang sama. Kalo dia nyampe ngelabrak kak Tristan yang gangguin gue, kak Tristan pasti bakal makin ngerjain gue. Sedangkan Ghevin, dia jelas nggak mungkin ngelabrak kak Tristan karena itu bisa ngebongkar statusnya sebagai kakak gue. Nasib gue bakal lebih parah kalo itu nyampe terjadi."
"Berarti sekarang lo nggak bisa ngelakuin apa-apa selain terus nurutin kemauan kak Tristan?" tanya Rani.
"Begitulah," balas Melly.
__ADS_1
Rani menepuk-nepuk kepala Melly. "Yang sabar ya, Mell," katanya. "Mungkin kak Tristan lagi ngejadiin lo contoh ke anak-anak yang lain supaya nggak ada yang berani ngelakuin hal yang sama kayak lo."
"Emang sebelumnya nggak ada ya, anak sekolah ini yang pacaran sama anak SMA Ganesha?"
"Setahu gue sih nggak ada," jawab Rani. "Kalopun ada, mereka pasti ngelakuinnya secara diam-diam."
Melly mendesah. "Padahal gue sama kak Miko kan cuma pura-pura doang, nggak pacaran beneran," gumam Melly.
"Makanya, kenapa nggak sekalian pacaran beneran aja, sih?" goda Rani. "Toh anak sekolah ini juga udah pada tahu tentang hubungan lo berdua. Bukannya lo juga suka sama kak Miko?"
Melly jadi salah tingkah. "Nggak! Siapa bilang gue suka sama dia?" elaknya.
"Udah, ngaku aja lo, Mell," Rani terus menggodanya.
Untung saja guru matematika mereka sudah memasuki kelas sehingga Melly tidak perlu mendengar godaan Rani lagi. Entah bagaimana Rani bisa menyimpulkan perasaan Melly pada Miko. Melly memang sering membicarakan soal Miko, tapi Melly tidak pernah bilang dia menyukainya.
Atau, sungguhkah perasaan sukanya pada Miko memang lebih dari sekadar teman?
🍀Bersambung🍀
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin.SEMANGAT 💖💕Thx.
__ADS_1