Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 44


__ADS_3

Melly tidak menyangka kebahagiaannya akan berakhir secepat ini. Setelah berada sendirian dalam kamar, Melly berusaha menghubungi Tristan, tapi Tristan tidak mengindahkannya.


Bagaimana Melly bisa memberi penjelasan pada Tristan jika Tristan sama sekali tidak mau berbicara dengannya?


Melly bertekad, di sekolah besok, dia harus membuat Tristan mau mendengarkannya. Sedangkan masalahnya dengan Ghevin, Melly akan menyelesaikannya malam ini juga. Jadi Melly menunggu hingga Ghevin pulang, lalu dia akan masuk ke kamar Ghevin untuk menemui-nya.


"Ghev," panggil Melly. Dia sedang berganti baju, dan hanya melirik Melly sekilas ketika Melly masuk. "Gue mau ngomong sama lo."


"Gue nggak mau denger apa pun kata lo," balas Ghevin. "Cepat keluar."


"Tapi, Ghev…"


"Kata gue keluar," potong Ghevin. "Lo budek ya."


"Ghev, please, sebentar aja," pinta Melly.


Tapi Ghevin benar-benar tidak mau mendengarkannya. Dia mendorong Melly hingga keluar dari kamarnya, lalu membanting pintu keras-keras di depan muka Melly. Melly berusaha membuka pintu lagi, tapi ternyata dia sudah menguncinya.


Dengan sedih Melly kembali ke kamarnya. Jika dengan Ghevin saja sudah sesulit ini, apalagi dengan Tristan? Tapi dia tidak ingin menyerah sebelum mencoba.


*******


Bangku panjang tempat Tristan biasa menunggu Melly berada dalam keadaan kosong ketika Melly tiba di sekolah keesokan hari. Melly menyuruh Rani ke kelas terlebih dahulu, sementara dia berjalan ke kelas Tristan.


Tristan sedang duduk di kursi yang berada di deretan paling belakang. Tanpa mengindahkan tatapan ingin tahu teman-teman sekelasnya, Melly berjalan menghampirinya.


"Bisa kita ngomong sebentar?" tanya Melly penuh harap.


Tristan membuang muka. "Nggak," jawabnya.


"Kasih aku waktu lima menit aja," kata Melly. "Aku nggak akan berhenti mengganggumu sebelum kamu mendengar penjelasanku."

__ADS_1


Tristan mendesah. "Tiga menit," katanya akhirnya.


Melly terpaksa setuju. Lebih baik Tristan memberinya waktu tiga menit daripada tidak sama sekali.


Tristan menoleh pada Robbin yang duduk di sebelahnya. "Suruh anak-anak yang lain untuk keluar dari sini," perintahnya.


Robbin segera melaksanakan perintah. Dalam waktu singkat, yang tersisa di kelas hanya Melly dan Tristan. Dia bersandar di bangku sementara Melly tetap berdiri dengan tidak nyaman.


"Ayo ngomong," kata Tristan mempersilahkan.


Semalaman Melly berusaha menyusun kata-kata yang tepat, tapi sekarang rasanya kata-kata itu buyar semua. Dia bahkan tidak tahu bagaimana harus memulai.


"Kenapa diem aja?" tanya Tristan. "Katanya tadi mau ngomong."


Melly berusaha membersihkan tenggorokannya. "Mmm... aku mau menjelaskan kebohonganku sama kamu," mulai Melly akhirnya.


"Terusin," kata Tristan.


Tristan menatap Melly. "Oh, jadi itu termasuk kebohonganmu juga?"


Melly mengangguk. "Ghevin dan Miko hanya ingin melindungiku," kata Melly.


"Tentu aja mereka ingin melindungimu," tandas Tristan. "Apa kamu tahu apa yang udah dilakukan Ghevin pada Amanda?"


"Aku tahu," gumam Melly.


"Jadi kamu tahu betapa brengseknya kakakmu itu," kata Tristan. "Aku benci Ghevin karena dia telah menyakiti hati Amanda."


"Aku nggak menyalahkanmu karena membenci Ghevin," kata Melly. "Itu hakmu, aku bisa mengerti alasannya."


"Kalo kamu bisa mengerti alasannya, berarti kamu juga bisa mengerti kenapa aku nggak bisa memaafkan kebohonganmu, kan?"

__ADS_1


"Tapi aku terpaksa berbohong," kata Melly membela diri. "Kalo kamu tahu aku adik Ghevin, kamu pasti akan menggunakanku untuk membalasnya. Jadi aku berusaha mati-matian supaya kamu nggak tahu, dengan mengaku-aku rumah Rani sebagai rumahku dan mengenalkan Billy sebagai adikku."


"Dan selamanya kamu nggak akan memberitahukan padaku kenyataannya?" tanya Tristan.


"Aku berencana akan memberitahukannya padamu suatu saat nanti," kata Melly. "Aku cuma nggak mau merusak hubungan kita yang masih baru."


"Soal hubungan kita, Melly," jelas Tristan. "Aku ingin kamu menganggapnya nggak pernah ada."


Hati Melly terasa perih saat mendengarnya. "Tristan..."


"Itu suatu kesalahan," tegas Tristan.


"Jangan bilang itu kesalahan," sergah Melly. "Hubungan kita mungkin bisa berhasil. Kita bisa mencoba dulu."


"Tapi aku nggak ingin mencoba," kata Tristan.


Melly langsung terdiam. Tadinya dia mengira Tristan akan memaafkannya, dan demi cintanya pada Melly, Tristan mau melupakan perselisihannya dengan Ghevin. Dengan begitu, mereka bisa bersama-sama meyakinkan Ghevin agar mau menyetujui


hubungan mereka. Tapi kalau Tristan bahkan tidak ingin mencoba, semua akan sia-sia. Melly toh tidak bisa mengusahakan hubungan mereka sendirian.


"Apa ada lagi yang mau kamu omongin?" tanya Tristan. "Kalo nggak ada, lebih baik kamu keluar. Waktu tiga menitmu hampir habis."


Melly berusaha tetap kuat, meskipun air matanya terasa sudah mendesak ingin keluar.


"Hubungan kita nggak boleh berakhir begini aja. Nggak boleh..."


"Tristan," kata Melly, dengan suara bergetar menahan tangis. "Waktu dulu aku berbohong padamu, aku nggak tahu kalo akhirnya aku akan jatuh cinta sama kamu."


Tristan tidak menanggapi Melly. Perlahan-lahan Melly berjalan meninggalkan kelasnya. Dia berharap Tristan akan memanggilnya dan menyuruhnya kembali, tapi ternyata Tristan tidak melakukan itu.


🍞Bersambung🍞

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.


__ADS_2