
Melly melihat mobil Ghevin sudah terparkir di carport setelah kencannya dengan Miko berakhir. Melly langsung masuk ke kamarnya dan mendapati dia sedang asyik membaca komik sambil mendengarkan musik di atas ranjang.
Melly lantas duduk di tepi ranjang dan memberi isyarat pada Ghevin agar melepas headphone yang sedang dia pakai. Dia menurutinya dan menatap Melly dengan ekspresi bertanya.
"Kok lo nggak pernah cerita sama gue soal Amanda?" tembak Melly langsung.
Muka Ghevin langsung berubah bete. Dia berusaha memasang headphone kembali, tapi Melly menahan tangannya.
"Jawab pertanyaan gue, Ghev!" paksa Melly.
Ghevin mendengus. "Si Miko itu emang dasar ember bocor," rutuknya.
"Gue yang maksa dia cerita," kata Melly. "Jadi, lo nggak usah nyalahin dia."
"Apa yang terjadi antara gue dan Amanda itu udah jadi cerita basi," kata Ghevin. "Gue nggak mau mengingat-ingatnya lagi."
"Tapi kan gue belum tahu," kata Melly. "Lo itu tega banget sih, nyakitin hati cewek yang benar-benar cinta sama lo."
"Gue nggak peduli dia cinta sama gue atau nggak," kata Ghevin. "Gue cuma nggak mau pacaran sama adik dari musuh gue."
"Makanya, kalo mau pacaran, lihat-lihat dulu dong latar belakang calon pacar lo," saran Melly. "Jangan main langsung nyosor aja."
Muka Ghevin makin terlihat bete mendengar kata-kata Melly. Dia mendorong Melly dengan kakinya hingga membuat Melly hampir jatuh dari ranjang.
"Keluar lo, gangguin gue doang!" usirnya. Dia memasang headphone kembali dan melanjutkan kesibukannya membaca komik.
Melly berdiri dan keluar dari kamar Ghevin, kemudian memasuki kamarnya sendiri. Sambil membersihkan wajah, dia mulai memikirkan Tristan. Tristan memiliki alasan yang tepat untuk membenci Ghevin. Tapi tetap saja Melly tidak bisa membenarkan perlakuan Tristan pada dirinya.
Melly bertanya-tanya, sampai kapan Tristan mau menghukumnya. Dia berharap semoga saja Tristan cepat bosan dan berhenti mengganggunya. Melly merasa bisa gila kalau harus terus-menerus meladeninya.
__ADS_1
*****
Sudah hampir seminggu Tristan menjadikan Melly pesuruhnya. Setiap pagi Melly membawakan tasnya, kemudian pada jam istirahat Melly akan memesankan makanan untuknya. Dan juga seluruh anggota gengnya.
Ada kalanya sikap Tristan menjadi semakin keterlaluan. Seperti yang terjadi saat ini. Cuaca sedang sangat panas dan membuat mood-nya bertambah jelek. Jika sudah begitu, dia akan menjadi super menyebalkan.
"Gerah banget sih," keluhnya sambil mengipas-ngipas dengan tangannya.
Dia melihat ke belakang Melly dan berkata, "Melly, cepet lo ambil kipas itu dari cewek yang duduk di sono!"
Melly menoleh ke belakang. "Cewek yang mana?" tanyanya. Dia bingung karena ada banyak murid cewek yang memenuhi kantin.
"Ya yang lagi megang kipas lah!" sahut Tristan tidak sabar, seolah-olah Melly itu bodoh.
Melly terus mencari dan akhirnya menemukan cewek yang dimaksud. Cewek itu adalah Jennifer murid kelas X-2. Kebetulan Melly kenal dengannya.
"Terserah lo mau dipinjem atau mau diambil," gerutu Tristan. "Pokoknya cepet lo bawa kipas itu ke sini."
Melly menghampiri Jennifer yang duduk tiga meja dari mereka. Dia sedang sibuk mengipas sambil mengobrol dengan teman-temannya.
"Jennifer," panggil Melly begitu dia tiba di mejanya. "Boleh gue pinjem kipas lo?"
Jennifer menoleh dan menatapnya dengan tatapan "enak-aja-lo-mau-minjem-kipas-gue-emang-lo-nggak-lihat-gue-juga-lagi-kepanasan".
Melly pun berusaha menjelaskan padanya bahwa bukan dia yang bermaksud untuk meminjam.
"Kak Tristan yang nyuruh gue ke sini," kata Melly. "Dia mau minjem kipas lo."
Tatapan Jennifer langsung berubah. Dia menoleh pada Tristan, memastikan Melly tidak berbohong, lalu menyerahkan kipasnya pada Melly.
__ADS_1
"Ambil aja," kata Jennifer. "Nggak usah dibalikin juga nggak apa-apa."
"Pasti gue balikin kok," tegas Melly sambil menerima kipas itu. Dia berbalik dan meninggalkan meja Jennifer.
Sungguh enak sekali menjadi Tristan. Hanya dengan bermodal nama dia bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Coba kalau tadi Melly bilang dia yang ingin meminjam, pasti dirinya sudah disiram kuah bakso oleh Jennifer.
Melly memperhatikan kipas yang kini berada di tangannya dengan lebih seksama dan baru menyadari bahwa kipas itu bergambar Boyband favoritnya EXO.
"Kalo tahu begitu, tadi gue terima aja tawaran Jennifer buat ngambil kipasnya. Apa nggak usah gue balikin aja, ya? Gue bilang aja kalo Tristan itu EXO-L, jadi dia kepengen punya kipas itu. Tapi kalo berita itu sampe kesebar, gue pasti bakal dibunuh Tristan."
Melly kembali ke meja Tristan dan mengulurkan kipas itu padanya. Tapi dia tidak menerimanya dan hanya menatap Melly sambil mengangkat alis.
"Lo nggak mau?" tanya Melly.
"Buat apa gue capek-capek ngipas sendiri kalo ada lo," balas Tristan. "Cepet kipasin gue."
Dengan setengah hati, Melly pun mulai mengipasinya. Kasihan EXO, harus mengipasi cowok menyebalkan macam Tristan.
"Ngipasnya pake tenaga dong!" omel Tristan. "Nggak berasa, tahu!"
Ingin sekali Melly menyahuti, "Kalo mau berasa, kipas aja sendiri."
Tapi Melly masih ingin hidup. Jadi, dia menelan kembali kata-kata yang ingin dikeluarkan itu dan mengipasinya dengan lebih kencang.
TRISTAN. Sungguh terlalu…!!!
🍂Bersambung🍂
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.
__ADS_1