Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 40


__ADS_3

Melly menebak murid-murid di sekolahnya tidak akan terlalu terkejut mendengar dia berpacaran dengan Tristan. Gosip tentang mereka memang sudah santer beredar beberapa hari ini. Apalagi murid-murid di sekolahnya itu memang sudah sering melihat mereka bersama. Karena itu Melly tidak terlalu khawatir ketika tiba di sekolah keesokan harinya.


Tristan seperti biasa duduk menunggu Melly di bangku panjang yang berada di dekat pintu gerbang sekolah. Namun bedanya, kali ini wajah Tristan dipenuhi senyum ketika menghampiri Melly. Dia menggenggam tangan Melly dan mulai mengajaknya berjalan ke arah kelas Melly.


Ini memang bukan pertama kalinya Tristan memegang tangan Melly, tapi tetap saja rasanya berbeda untuk Melly. Genggamannya terasa begitu melindungi, tidak memaksa seperti sebelumnya. Melly balas menggenggamnya, dalam hati berharap tidak harus melepaskannya lagi.


"Ih, bikin ngiri aja." Tiba-tiba terdengar suara Rani. Melly lupa kalau sedari tadi dia berjalan di belakang mereka. "Gue jalan duluan deh. Males cuma jadi obat nyamuk."


Melly tersenyum sembari memperhatikannya menjauh. Rani pasti tidak terbiasa melihatnya punya pacar. Melly kembali melanjutkan langkah bersama Tristan, tapi kali ini Vionna yang menghadang mereka.


Awalnya Vionna hanya ingin menyapa Tristan. Namun ketika dilihatnya tangan mereka bergandengan, dia malah tidak bisa mengeluarkan suara dan hanya berdiri sambil melongo.


"Kenapa... kenapa lo megang tangannya?" tanya Vionna pada Tristan.


"Emangnya kenapa?" Tristan balik bertanya. "Wajar kan, kalo gue megang tangan pacar gue?"


Wajah Vionna sudah seperti orang yang tersedak bakso saking pucatnya. Dia mengeluarkan pekikan yang merupakan perpaduan antara kaget dan tidak percaya. Sebelum mereka berlalu dari hadapannya, Melly sempat panen sumpah serapah darinya.


Memang inilah salah satu risiko pacaran dengan cowok populer. Melly yakin bukan hanya Vionna yang tidak suka melihat hubungannya dengan Tristan. Melihat banyaknya penggemar Tristan, kalau setiap sumpah serapah yang keluar dari mulut mereka menghasilkan uang, Melly pasti sudah jadi triliuner.

__ADS_1


Tapi Melly mendapat dukungan penuh dari anggota geng Tristan. Mereka tidak henti-hentinya memberi selamat ketika dirinya sedang di kantin. Karena kini Melly adalah pacar ketua mereka, sikap mereka menjadi sangat hormat padanya, jauh berbeda dengan saat dia masih menjadi pesuruh mereka.


"Bos, kita bakal ditraktir nggak nih?" tanya Robbin, diikuti tatapan penuh harap seluruh anggota geng yang lain.


"Pasti dong!" sahut Tristan. "Beli aja apa yang kalian mau di kantin ini, ntar gue yang bayar. Bukan cuma kalian aja, tapi...," Tristan mulai mengeraskan suaranya, agar bisa didengar seluruh kantin, "...semua orang yang ada di kantin ini gue traktir!"


Terdengar tepuk tangan meriah dari orang-orang yang berada di kantin. Beberapa dari mereka bahkan menyerukan nama Tristan dengan penuh pemujaan.


"Kak Tristan emang royal banget," komentar Rani. Lalu, dengan lirikan penuh arti pada Melly, dia menambahkan, "Nggak kayak pacarnya, yang cuma ngebeliin es krim doang."


Melly memukul lengan Rani. "Gue kan udah ngebeliin lo sama Billy pizza juga," protesnya.


"Dasar nggak tahu terima kasih!" umpat Melly. "Besok-besok gue nggak bakal ngebeliin lo apa-apa lagi."


"Biarin!" sahut Rani. "Gue bisa minta sama Kak Tristan."


Melly pun semakin seru memukulinya, membuat Rani sampai harus berdiri untuk menghindari pukulannya. Beberapa menit sebelum jam istirahat berakhir, mereka berdua menyempatkan diri ke toilet.


"Mell," panggil Rani tiba-tiba, ketika mereka berdua sedang mencuci tangan di wastafel. "Sebenernya gue ragu mau nanya ke lo, tapi gue bener-bener penasaran."

__ADS_1


Melly memandang Rani lewat cermin di atas wastafel, menunggunya melanjutkan kata-katanya.


"Nyampe kapan lo mau nyembunyiin hal ini dari Kak Ghevin dan Kak Tristan?" tanya Rani hati-hati. "Bagaimanapun juga, suatu saat Kak Ghevin akan tahu kalo lo pacaran sama Kak Tristan, dan Kak Tristan juga akan tahu kalo lo itu adiknya Kak Ghevin."


Melly mendesah. Selama ini dia sudah berusaha keras untuk tidak memikirkan itu, meskipun hal itu terus bergelayut di benaknya dan membuatnya tidak tenang.


"Gue tahu gue nggak bisa selamanya nyembunyiin hal ini dari Ghevin dan Kak Tristan," kata Melly. "Tapi saat ini gue nggak mau mikirin itu dulu. Gue masih pengen menikmati kebahagiaan gue dengan Kak Tristan."


Rani mengangguk-angguk mengerti.


"Gue sadar apa yang terjadi pada Amanda bisa sewaktu-waktu terjadi sama gue," lanjut Melly. "Dan sejujurnya itu bikin gue takut."


"Lo berharap aja itu nggak akan terjadi," kata Rani. "Mungkin Kak Ghevin dan Kak Tristan mau melupakan masalah di antara mereka kalo itu menyangkut kebahagiaan lo."


Nyaris mustahil Ghevin dan Tristan mau berdamai. Tapi kalau itu menyangkut kebahagiaan Melly, apa mereka akan setega itu?


🍚Bersambung🍚


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.

__ADS_1


__ADS_2