
Melly terkejut ketika berbalik dan mendapati Ghevin masih berdiri di teras. Dia pikir Ghevin sudah masuk ke dalam rumah.
"Apa lo ada masalah sama Miko?" tanya Ghevin curiga.
Melly buru-buru menggeleng. "Gue nggak ada masalah apa-apa kok sama dia," jawabnya. "Kenapa lo nanya begitu?"
"Soalnya muka kalian berdua kelihatan sedih," kata Ghevin.
Ternyata kesedihan itu tidak hanya terlihat di wajah Miko, tetapi juga di wajah Melly. Melly berusaha untuk tidak menatap Ghevin, tapi Ghevin malah semakin mendekatinya.
"Dengerin gue," katanya. "Kalian nggak usah putus cuma karena Tristan. Lanjutin aja hubungan pura-pura kalian kalo kalian mau. Atau kalo kalian mau bikin hubungan kalian jadi sungguhan juga nggak apa-apa. Gue sih oke-oke aja."
Melly menggeleng. "Lebih baik begini," gumamnya.
"Gue sebenarnya nggak mau ikut campur soal beginian," kata Ghevin.
Memang terlihat jelas dia tersiksa
membicarakan hal ini dengan Melly sama tersiksanya seperti Melly sedang mengeluhkan PMS-nya pada Ghevin.
"Tapi gue tahu Miko suka sama lo dan gue pikir lo juga punya perasaan yang sama kayak dia," lanjut Ghevin. "Makanya, tanpa ragu dulu gue nyuruh kalian pacaran, karena gue pikir kalian bakalan senang."
__ADS_1
Berhubung Ghevin mengatakan hal itu, Melly pun memutuskan untuk jujur padanya. Lebih baik dia tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Miko.
"Gue tahu Kak Miko emang suka sama gue," aku Melly. "Dia udah ngungkapin perasaannya secara langsung sama gue. Tapi... gue nggak bisa ngebales perasaannya."
Ghevin pun terpana. "Gue nggak ngerti," tanggapnya. "Kalo ngelihat sikap lo selama ini, gue pikir..."
"Ya," potong Melly. "Kalo ngelihat sikap gue ke Kak Miko, lo pasti akan berpikir gue suka sama dia. Sejujurnya, selama ini gue masih belum bisa memastikan perasaan gue, nyampe kemarin pagi, waktu gue lagi ngobrol sama Rani. Akhirnya gue tahu, kalo gue suka sama dia cuma sebagai teman."
"Lo bener-bener bikin orang salah paham," komentar Ghevin. "Bahkan Miko yakin perasaannya akan berbalas."
"Karena itu gue ngerasa bersalah sama dia," kata Melly. "Gue sedih karena harus nyakitin hatinya."
"Lo kenal kok sama cowok itu, Ghev, batin Melly. "Tapi lo nggak akan seneng kalo tahu siapa dia."
"Apa ada cowok yang lo suka?" tanya Ghevin tiba-tiba, sambil menatap wajah Melly lekat-lekat.
Melly langsung mundur. "N-nggak ada kok," dustanya.
"Karena kalo misalnya nyampe ada," kata Ghevin, tanpa mendengar kata-kata Melly, "lo harus memastikan dia bakalan hormat sama gue."
"Jadi syarat dari lo cuma itu?" tanya Melly. "Nggak peduli dia suka sama gue atau nggak?"
__ADS_1
"Ah, ya," kata Ghevin, seakan baru teringat. "Udah pasti dia juga harus suka sama lo. Yang terpenting, dia harus bisa bikin gue merelakan lo sama dia. Karena kalo nggak, jangan harap dia bisa ngambil lo dari gue."
Sikap overprotektif Ghevin pada Melly memang terkadang bisa lebih parah daripada Papanya. Tapi Melly tahu itu karena Ghevin sayang padanya.
"Soal Miko, lo nggak usah khawatir," kata Ghevin. "Gue bakal pastiin dia segera pulih dari patah hatinya. Jadi...," Ghevin mencubit kedua pipi Melly keras-keras, "...jangan pasang tampang sedih begini terus dong."
"Aduhhh... sakit!" omel Melly.
Ghevin hanya tertawa dan berjalan masuk ke rumah, sementara Melly tetap di teras sambil merutukinya. Diusap-usap kedua pipinya yang terasa perih, sepertinya semua
rasa sakit di hatinya sudah berpindah ke pipinya. Pasti sekarang pipinya terlihat sangat merah.
Di luar masalah pipinya, Melly senang karena Ghevin berjanji akan membantu Miko mengatasi patah hatinya. Tidak ada yang bisa melakukannya lebih baik daripada Ghevin, karena Miko selalu mendengarkan perkataannya. Miko begitu menghormati Ghevin dan dia pasti tidak akan mengecewakannya dengan selalu bersedih karena Melly.
Meskipun menyedihkan, setidaknya masalah Melly dengan Miko sudah beres. Kini yang tersisa tinggal masalahnya dengan Tristan, dan Melly tidak tahu bagaimana masalah itu
akan berakhir.
🍍Bersambung🍍
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.
__ADS_1