Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 9


__ADS_3

Melly mengendap-endap menuju kelas. Matanya bergerak-gerak dengan gelisah ke seluruh penjuru sekolah. Melly takut Tristan tiba-tiba muncul dan melihatnya. Tapi sepertinya Tristan tidak ada.


"Syukurlah aman." hatinya lega.


Melly akhirnya bisa berjalan ke kelas dengan lebih santai. Tapi tiba-tiba dia melihat Robbin sedang bersandar di dinding dekat pintu kelasnya. Dia mendapat perintah dari Tristan untuk menunggunya di sana.


"Apa yang harus gue lakukan sekarang?"


Pelan-pelan, Melly berbalik. Dia berusaha mencari tempat sembunyi. Tapi dalam keadaan panik. Juga ditambah lagi dengan perasaan cemas dan takut dalam dirinya. Itu sudah cukup sempurna untuk membuatnya kebingungan. Lalu dia memutuskan untuk bersembunyi di toilet. Dia beranggapan Robbin tidak akan mungkin masuk ke toilet cewek, jadi itu adalah tempat teraman.


Melly segera mengambil langkah seribu menuju ke toilet terdekat. Di sana ada beberapa siswi yang sedang berdandan sambil cekikikan di depan wastafel. Melly segera bersembunyi di dalam salah satu bilik. Masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Dengan terpaksa Melly harus menunggu di sana selama itu.


Tiba-tiba suara cekikikan yang tadi memenuhi toilet perlahan menghilang, digantikan oleh suara bisik-bisik. Melly heran. "Ada apa di luar?"


"Melly Joanna Alexandra."


Mendadak terdengar suara Tristan memanggil namanya dengan lengkap. "Keluar lo. Gue tahu lo ada di dalem."


Suara Tristan terdengar tepat di balik pintu biliknya berada. Ternyata, Melly tetap tidak aman berada di sini. Robbin pasti melihatnya tadi dan melapor pada Tristan, atau mungkin Tristan sendiri yang melihatnya. Melly sungguh tidak menyangka Tristan tidak segan-segan masuk ke toilet cewek.


"Gila. Apa sebegitu niatnya dia memburu gue?" Melly masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Tristan.


"Keluar sekarang juga, atau gue dobrak pintu ini!" ancam Tristan.


Melly mendesah kalah. Dibukalah pintu bilik tersebut. Seketika tubuh Tristan terlihat menjulang di hadapannya.


Dia menatap Melly sambil menyeringai. "Mau coba-coba sembunyi lo, hah?"


"Nggak kok," dustanya. "Saya cuma pengen pipis." Diedarkan pandangan ke sekeliling toilet, ternyata hanya ada mereka berdua saat ini. "Kemana cewek-cewek tadi?" pikirnya.


"Jadi, diam-diam lo pacaran sama Miko."


Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Melly diam. Memang tidak seharusnya dia membantah.


"Dasar pengkhianat," desis Tristan. "Berani-beraninya lo pacaran sama musuh."

__ADS_1


Melly tetap diam, meskipun mulutnya sudah gatal ingin membalas.


"Telepon dia," perintah Tristan. "Bilang kalo lo mau ngajak dia ketemuan di Kafe Bob Rock jam lima sore ini."


Barulah Melly bersuara. "Untuk apa saya melakukan itu?"


"Nggak usah banyak nanya," kata Tristan tidak sabar. "Lakukan aja perintah gue."


"Nggak mau," gelengnya. "Pasti kak Tristan mau mukulin dia, kan?"


"Gue nggak akan mukulin dia," kata Tristan. "Kapan-kapan gue akan melakukan itu, tapi yang jelas nggak sekarang. Cepat telepon dia!"


"Saya nggak bawa HP," kata Melly beralasan. Tentu dia cuma berbohong. Dia hanya tidak ingin menjebak Miko.


Mendadak Tristan mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menekan beberapa tombol, lalu diam sambil menatapnya. Mulanya Melly tidak mengerti, tapi tak lama kemudian lamat-lamat terdengar suara Baekhyun EXO sedang bernyanyi dari dalam tasnya.


💕


Annyeong naege dagawa🎵


Huimihan kkumsogeseo🎵


Nuni busidorok bannjjagyeosseo🎵


💕


"Aaahhh...itu bunyi ponsel gue! Jadi Tristan nelepon gue? Darimana dia tahu nomor gue?" jerit Melly dalam hati.


"Jelas-jelas lo bawa HP," kata Tristan dengan senyum penuh kemenangan.


Dengan berat hati, Melly mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Telepon dia dan pasang loudspeaker," perintah Tristan.


Melly tidak bisa mengelak lagi. Untung saja tadi dia sudah bertukar nomor ponsel dengan Miko. Akan mencurigakan kalau Melly sampai tidak tahu nomor ponsel pacar sendiri.

__ADS_1


Melly akhirnya melakukan apa yang diperintahkan oleh Tristan. Terdengar


bunyi nada sambung. Jangan diangkat, manteranya dalam hati. Jangan diangkat. Jangan diangkat.


"Halo?" Sial. Diangkat juga rupanya.


"Halo, Kak Miko," sapanya. Tristan mengamatinya selama Melly berbicara.


"Mmm... kak Miko nggak usah jemput Melly."


"Kenapa?" tanya Miko heran.


"Kak Miko temuin Melly di Kafe Bob Rock aja," katanya. "Ada yang mau Melly omongin. Kita ketemu di sana jam lima sore ini."


"Tolak aja! Bilang kak Miko nggak bisa!" kata Melly dalam hati.


"Oke," kata Miko. "Ntar sore gue ke sana."


Melly mengeluh dalam hati. Dia benar-benar merasa tidak enak padanya. Lalu dimatikan telepon dan terdiam seperti prajurit yang kalah di medan perang.


Tiba-tiba Tristan merampas ponsel milik Melly. "Hei!" protesnya. "Kenapa Kak Tristan ngambil HP saya?"


"Gue nggak mau ngambil risiko. Lo bisa aja menghubungi dia lagi," kata Tristan. "Dan ingat pesan gue! Jangan coba-coba berani menghubungi dia pake HP teman lo, karena gue akan tahu."


"Saya nggak akan menghubungi dia," jawabnya lemas. "Nomor ponselnya aja saya nggak hafal."


"Ntar, pulang sekolah lo ikut gue ke Kafe Bob Rock," kata Tristan. "Jangan melarikan diri, atau pacar lo yang akan merasakan akibatnya. Ngerti?"


Melly hanya mengangguk pasrah. Sementara Tristan tersenyum puas, lalu pergi dari toilet. Melly menatap bayangan dirinya di cermin atas wastafel.


"Apa yang udah gue lakukan pada kak Miko?"


🌹Bersambung🌹


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.

__ADS_1


__ADS_2