
Saat tiba waktunya pulang, Melly menunggu di tempat biasa dia dijemput dengan perasaan gelisah luar biasa. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, melihat apakah Tristan atau salah satu anggota gengnya mengawasi dirinya, tapi sejauh ini tidak ada siapa-siapa.
"Ah, paling dia cuma ngegertak gue doang," batin Melly.
Tak lama kemudian akhirnya Miko pun datang dan memberikan helm pada Melly. Melly langsung terburu-buru memakainya. Baru saja dia akan naik ke motor, tiba-tiba sebuah Honda Jazz merah berhenti di dekat mereka. Saat pintu pengemudi terbuka, Melly melihat Tristan melangkah keluar dari mobil itu.
Mendadak tubuhnya terasa kaku. Dia tidak bisa bergerak meski yang diinginkan saat ini adalah melompat ke motor dan berteriak menyuruh Miko segera memacu kecang motornya. Namun, Miko pun tampaknya terkejut dengan kehadiran Tristan. Dia juga tidak menyangka mereka akan ketahuan.
Ini benar-benar gawat! Bukan hanya Tristan mengetahui kebohongan Melly, tapi dia memergokinya sendiri. Ternyata Tristan memang tidak main-main dengan ucapannya.
Tristan memamerkan senyum sinis. "Jadi lo benar-benar nggak kenal Miko?" sindirnya pada Melly.
Melly menelan saliva dengan susah payah. Dia hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Tristan. Pada akhirnya Miko pun bersuara.
"Tristan," katanya dingin.
Melly tidak pernah mendengar Miko berbicara dengan suara sedingin itu. Sama sekali tidak ada senyum di wajahnya. Miko hanya menatap Tristan dengan kebencian yang tampak begitu jelas.
Tristan balik menatap Miko dengan tatapan setajam laser. Atmosfer di sekitar mereka mendadak mencekam. Melly berdiri dengan canggung di antara mereka, sementara mereka tampak sedang berencana untuk saling membunuh.
__ADS_1
Entah berapa lama Tristan dan Miko akan saling memelototi seperti itu. Pandangan Melly berpindah-pindah antara mereka berdua. Melly takut mereka akan saling menyerang, sementara dirinya terjebak di tengah-tengah mereka.
"Melly," kata Miko. Suaranya penuh kewaspadaan. "Cepat naik ke motor."
Melly pun langsung menurutinya. Dia berusaha tidak menatap Tristan ketika duduk di atas motor.
"Bagus!" komentar Tristan sinis. "Cepat lo lindungi pacar lo itu. Gue nggak bisa ngejamin keselamatannya kalo dia ada di dekat gue."
Melly sebenarnya ingin protes dengan ucapan Tristan yang sok tahu itu. Karena dia seenaknya saja mengatakan dirinya pacar Miko. Tapi karena Miko diam saja, akhirnya Melly pun tidak berani untuk membuka mulut.
"Karena ada Melly, untuk kali ini gue ngalah," kata Miko. "Tapi gue akan menghadapi lo lain kali."
Sebelum masuk ke mobil, Tristan menyempatkan diri untuk memberi mereka satu tatapan merendahkan. Miko membiarkan mobil itu menderu pergi terlebih dahulu.
"Tadi pagi, ada teman Tristan yang ngeliat kak Miko nganterin Melly, terus dilaporin ke dia," jelas Melly. "Melly sebenernya pengen ngasih tahu kak Miko supaya ngebatalin jemput Melly. Tapi Melly nggak tahu nomor HP kakak. Terus Ghevin juga matiin HP-nya."
"Nggak apa-apa," kata Miko. Meskipun Melly tidak bisa melihatnya karena duduk di belakang, Melly tahu Miko sedang tersenyum.
"Pegangan erat-erat, Mell. Gue akan bawa lo menemui Ghevin."
__ADS_1
Melly tidak sempat bertanya kenapa Miko ingin membawanya menemui Ghevin karena Miko sudah memacu motornya dengan cepat. Sekitar lima belas menit kemudian, Miko menghentikan motor di depan sebuah tempat bermain biliar.
Melly pun turun dari motor dan mengikuti Miko masuk. Asap rokok yang menyesakkan segera menyambutnya, membuat dirinya
langsung terbatuk-batuk. Melly benci sekali asap rokok. Miko mengarahkannya ke meja biliar paling ujung. Dia melihat Ghevin di sana dengan beberapa anggota gengnya.
Melly mencibir. "Jadi, itu yang dia maksud dengan sibuk? Ternyata sibuk main biliar. Dasar keparat!"
Teman-teman Ghevin langsung memberikan tatapan penuh cinta begitu melihat Melly. Karena sebagian besar dari mereka memang suka padanya. Tapi Melly tidak tertarik pada mereka, Melly bahkan tidak tahu nama mereka. Mereka juga tidak berani mendekatinya karena Melly adik Ghevin. Sedikit saja mereka berusaha merayunya, bisa dipastikan bogem mentah Ghevin melayang ke wajah mereka.
Melly mengedarkan pandangan ke sekeliling, tiba-tiba dia terkejut melihat ada mumi duduk di salah satu bangku, tidak jauh dari meja biliar. Setelah Melly melihat baik-baik, ternyata itu bukan mumi, melainkan sahabat Ghevin yang tubuhnya dililit perban.
Sepertinya dia yang tadi pagi diurus oleh Ghevin. Bisa-bisanya sekarang dia nongkrong di sini, padahal keadaannya sudah babak belur begitu. Parahnya lagi, begitu melihat Melly, dia malah nyengir memperlihatkan gigi ompongnya.
"Moga aja dia nggak benar-benar nginep di rumah gue dan Ghevin nganter dia pulang. Aamiin" doa Melly dalam hati.
🌷Bersambung🌷
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT💖💕Thx.
__ADS_1