Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 23


__ADS_3

Seminggu setelah kencan pertama. Melly dan Miko kembali berkencan. Untuk kencan mereka yang kedua, Miko mengajak Melly ke kedai bakso yang terkenal. Kedai itu selalu ramai karena rasa baksonya yang enak. Meskipun harus makan di tempat yang panas dan sesak, mereka tidak terlalu keberatan.


Untungnya mereka berhasil mendapatkan meja yang berada di dekat kipas angin, sehingga mereka tidak terlalu kepanasan. Suara bising orang-orang mengobrol terdengar di sekitar mereka, sementara mereka duduk sambil menikmati bakso.


Melly yang dengan sok-nya memasukkan banyak sambal ke baksonya akhirnya mulai kepedasan. Hidungnya berair dan air matanya juga sampai keluar.


"Mell, kok lo nangis?" tanya Miko tiba-tiba. Entah dia meledeknya atau menyangka Melly sungguh-sungguh menangis.


"Gila. Pedes banget," keluh Melly sambil menghapus air matanya.


"Mau gue pesenin minuman lagi?" tawar Miko saat melihat es teh Melly tinggal sedikit.


Melly mengangguk. Miko pun memanggil pelayan. Berbeda dengan Melly yang sedang megap-megap karena lidahnya terbakar sambal, Miko justru tetap terlihat tenang.


"Kak Miko nggak pake sambel, ya?" tuduh Melly. Dia memang tidak memperhatikannya tadi.


"Pake kok," sahut Miko. "Tapi nggak banyak kayak lo. Hati-hati lho, ntar sakit perut."


"Telat ngomongnya," gerutu Melly.

__ADS_1


Miko tertawa. "Lo lucu banget kalo lagi makan," komentarnya. "Dari tadi gue perhatiin, kayaknya lo seru sendiri."


"Baru tahu ya," kata Melly. "Melly kan nggak bisa diganggu kalo lagi makan,"


Selama beberapa saat mereka kembali sibuk berkutat untuk menghabiskan bakso mereka. Namun tiba-tiba saja, Miko mengatakan sesuatu yang membuat Melly nyaris tersedak.


"Rasanya gue pengen begini terus sama lo," gumam Miko.


Melly tidak tahu bagaimana harus menanggapinya, jadi dia minum saja es tehnya untuk menutupi salah tingkah. Tapi sepertinya Miko tidak menyadarinya karena dia terus saja berbicara.


"Gue benar-benar menikmati setiap waktu yang kita lalui bersama," lanjut Miko. "Gue nggak mau ini semua berakhir."


"Mell, kalo boleh jujur, sebenernya gue suka sama lo."


Tanpa aba-aba. Dari mulut Melly, menyemburlah es teh yang sedang diminumnya. Semburannya memang tidak mengenai Miko, tapi tetap saja membuatnya kaget.


"Mell, lo nggak apa-apa?" tanya Miko.


Melly buru-buru mengambil tisu dan mengelap mulut. "Ng-nggak apa-apa kok," sahutnya. "C-cuma kaget aja."

__ADS_1


"Sorry," kata Miko sungkan. "Gue nggak ada maksud apa-apa. Gue cuma mau ngutarain perasaan gue aja."


Melly mengangguk-angguk tidak jelas dan berdiri. "Melly ke toilet dulu ya," gumamnya sambil kabur dari hadapan Miko.


Di toilet, Melly mencuci muka. Dia berharap air bisa menyegarkan otaknya.


Apa yang baru saja terjadi? Apa Miko benar-benar mengutarakan perasaannya pada Melly? Melly tidak pernah tahu kalau Miko menyukainya. Menduganya, mungkin, tapi Melly tidak menyangka itu sungguhan.


Melly berusaha meredakan debaran jantungnya. Jika Melly memang menyukainya, bukankah seharusnya dia senang karena Miko juga memiliki perasaan yang sama padanya? Tapi kenapa Melly justru merasa takut dan ingin mundur?


Melly benar-benar tidak mengerti. Baru pertama kali dirinya mengalami hal ini. Ingin rasanya Melly menelepon Rani untuk meminta saran, tapi dia tidak ingin membuat Miko menunggu terlalu lama.


Melly kembali pada Miko dan melihat sikapnya sudah tidak setenang tadi. Jelas Miko gugup karena kini Melly sudah mengetahui perasaannya. Melly berusaha tersenyum padanya, meskipun sebenarnya dia sama gugupnya dengan Miko.


"Ayo kita habisin baksonya," ajak Melly. Bakso yang dimakan rasanya sudah tidak seenak tadi. Lidahnya juga seakan mati rasa.


Setelah menghabiskan bakso, mereka pun langsung pulang. Melly memutuskan untuk menunggu hingga pagi tiba, agar bisa berbicara pada Rani secara langsung.


🍇Bersambung🍇

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.


__ADS_2