
Melly tidak pernah peduli pada hubungan percintaan Ghevin sebelumnya. Melly bahkan tidak pernah mengenal satu pun cewek yang dia pacari atau hanya sekadar dia ajak berkencan. Baginya mereka hanya akan singgah sebentar dalam kehidupan Ghevin sebelum akhirnya akan digantikan dengan yang lain. Tapi kini Melly jadi bertanya-tanya, ada berapa banyak cewek yang telah Ghevin sakiti?
Mungkin Ghevin tidak sadar, atau kalaupun dia sadar, dia tidak akan peduli. Dia memperlakukan cewek-cewek itu seolah merekalah yang terpenting dalam hidupnya, kemudian dia akan mencampakkan mereka seolah mereka tidak punya perasaan. Melly tidak ingin percaya kakaknya sekejam itu, tapi itulah kenyataannya.
Lihat saja, Amanda masih menangisi Ghevin, sementara Ghevin sudah berganti cewek entah untuk yang keberapa kali. Melly tidak tahan lagi. Ingin rasanya dia mengonfrontasi Ghevin dan memintanya untuk berubah.
Tapi jika Melly melakukan itu dengan membawa nama Amanda, Ghevin akan tahu Melly sudah pernah bertemu dengannya. Dia akan menghubungkannya dengan Tristan, bisa-bisa hubungan mereka ketahuan. Melly tidak mau mengambil risiko itu.
Ketika Tristan kembali ke ruang makan, Melly dan Amanda berusaha bersikap biasa. Kesedihan di wajah Amanda, meski masih terlihat, mulai menghilang sedikit demi sedikit.
"Lo kelamaan mandinya," kata Amanda pada Tristan ketika dia duduk di sebelah Melly. "Melly aja udah mau selesai makan."
"Dia udah biasa kok nungguin gue makan," kata Tristan enteng. Dia menyendok nasi dan mulai makan. "Jadi apa yang kalian berdua bicarain?"
"Mau tahu aja," sahut Amanda. "Itu urusan cewek."
Tristan tampak penasaran. Dia menatap Melly dan Amanda secara bergantian, tapi mereka sama-sama tutup mulut dan bertukar senyum penuh rahasia. Untungnya percakapan mereka setelah itu tidak lagi bernuansa sedih. Melly bisa menikmati puding cokelat sambil tertawa. Setelah berjanji pada Amanda untuk datang lagi, Melly diantar pulang oleh Tristan.
Melly ingin mengeluarkan unek-uneknya tentang Ghevin, tapi karena Melly tidak bisa bercerita pada Tristan, dia menunggu sampai Tristan menurunkannya di rumah Rani. Kalau sudah menyangkut Ghevin, Rani akan menjadi pendengar terbaik.
"Apa? Ada apa? Kenapa dengan Kak Ghevin?" Baru mengucapkan nama Ghevin saja, Melly sudah diserbu rentetan pertanyaan oleh Rani.
"Dia bener-bener nggak punya hati," sahut Melly.
"Lo berantem sama Kak Ghevin?" tanya Rani salah sangka.
__ADS_1
"Nggak," geleng Melly. "Tadi Kak Tristan ngajak gue ke rumahnya terus dia ngenalin gue sama adiknya. Adiknya ini cerita sama gue tentang Ghevin, dari situ gue tahu kalo Ghevin ternyata sangat kejam sama dia."
Rani tampak tidak mengerti. "Kenapa adiknya bisa cerita sama lo tentang Kak Ghevin?"
Melly memang sengaja merahasiakan soal Amanda pada Rani, karena dulu Miko memberitahunya diam-diam. Tapi sepertinya sudah saatnya Rani tahu.
"Adiknya itu... mantan pacar Ghevin," kata Melly hati-hati.
"APA??? PACAR GHEVIN ???" Nyaris pecah kaca di rumah itu karena teriakan Rani.
"Aduh, budek amat sih lo," gerutu Melly. "Makanya jangan kebanyakan teriak-teriak. Itu kuping lo aja sampai capek sendiri dengernya. Gue bilang mantan pacar Ghevin, bukan pacarnya."
"Oh," kata Rani. Akhirnya dia mulai tenang. "Kaget gue. Gue kira Kak Ghevin beneran udah punya pacar. Kalo cuma mantan sih nggak apa-apa. Jadi, siapa nama cewek
"Amanda," jawab Melly. "Mereka pacaran selama sebulan."
"Cih, cuma sebulan," tanggap Rani meremehkan.
"Kalo buat Ghevin, sebulan itu termasuk lama," kata Melly.
"Whatever," sahut Rani tidak peduli. "Terus? Kok bisa sih, Kak Ghevin pacaran sama adiknya Kak Tristan?"
"Awalnya Ghevin nggak tahu kalo Amanda itu adik Kak Tristan," jelas Melly. "Dan begitu dia tahu… "
"Amanda langsung ditendang jauh-jauh," sambung Rani.
__ADS_1
Melly mengernyit. "Lo kayaknya nggak bersimpati banget sama Amanda," kata Melly.
"Emang nggak," aku Rani. "Justru gue senang Kak Ghevin mutusin dia. Kalo nggak, gue kan nggak ada kesempatan untuk bisa pacaran sama Kak Ghevin."
"Tapi sampai sekarang Amanda masih suka sama Ghevin," kata Melly.
"Salah sendiri dia nggak bisa move on," sambar Rani. "Jadi lo nggak bisa bilang Kak Ghevin nggak punya hati. Dia kan punya hak untuk memutuskan apakah dia mau melanjutkan hubungannya sama Amanda atau nggak."
Percuma saja. Tidak peduli apa pun yang Melly katakan, Rani akan selalu memihak Ghevin. Tapi Melly masih ingin mengetahui pendapatnya tentang satu hal.
"Gimana kalo itu terjadi sama lo?"
"Nggak akan," sahut Rani yakin. "Gue nggak sebodoh Amanda. Gue akan bikin Kak Ghevin sangat mencintai gue sampai-sampai dia nggak kepikiran untuk ninggalin gue."
Melly ragu Ghevin bisa mencintai seseorang sampai sedalam itu. Benar-benar ajaib kalau itu sampai terjadi.
"Mungkin sekarang hubungan gue sama Kak Ghevin masih begini-begini aja," lanjut Rani. "Tapi gue janji, suatu saat nanti, gue akan melangkah ke tahap lebih lanjut."
Rani terlihat begitu bertekad, sehingga Melly tidak tega menggodanya. Mungkin saja dia memang akan memenuhi janjinya. Tapi Melly takut Rani malah akan menjadi salah satu korban Ghevin.
Kalau Rani bisa mengubah Ghevin, berarti dia memang hebat. Dia akan menjadi cewek pertama yang sungguh-sungguh dicintai Ghevin. Melly berharap, kalau suatu saat Ghevin memutuskan untuk serius pada seorang cewek, dia akan memilih Rani.
🍘Bersambung🍘
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.
__ADS_1