
Melly kembali menatap ke arah Ghevin. Digelengkan kepalanya tanda tidak setuju ketika melihat rokok yang dihisapnya. Melly pun segera mendekati dan mengambil rokok itu, kemudian membuangnya ke asbak. Ghevin bahkan tidak sempat lagi memprotes. Dia malah menatap Melly dengan heran.
"Ngapain lo ke sini?" tanyanya.
"Lo bilang lo lagi sibuk," katanya, tanpa menjawab pertanyaan Ghevin. "Kenapa lo malah main biliar di sini?"
"Urusan gue udah selesai," jawab Ghevin.
Sebenarnya Melly sudah tahu. Mumi itu buktinya. "Lo bolos sekolah ya tadi? selidiknya.
Ghevin hanya mengangkat bahu. Dia menoleh ke Miko. "Kenapa lo bawa Melly ke sini?"
"Tadi, Tristan lihat gue waktu jemput Melly," lapor Miko.
Ekspresi Ghevin langsung berubah. Otot-otot di wajahnya menjadi kaku. "Tristan?" ulangnya. "Tristan Ivander?"
"Ya," jawab Miko.
Setelah mendengar jawaban dari Miko, Ghevin langsung membanting stik biliar yang sedang di pegangnya. "B*go lo, Mik!" umpatnya. "Kenapa lo bisa sampai lengah begitu?"
"Gue minta maaf," sesal Miko.
Melihat itu, Melly merasa kasihan pada Miko. Seketika hasratnya yang tadi pagi telah hilang kini mendadak bangkit kembali. Kali ini, dia benar-benar ingin memukul kepala Ghevin dengan panci. Namun sayangnya, lagi-lagi tidak ada panci di dekatnya. Melly tak habis pikir dengan sikap Ghevin, bukannya berterimakasih pada Miko, tapi dia malah memakinya. Ghevin kalau sedang marah memang suka seenak udele dewek.
"Kak Miko nggak salah kok," belanya. "Dia nganter jemput gue di tempat biasa. Tapi mungkin kali ini emang lagi sial. Jadi, ada yang ngelihat kita."
__ADS_1
Ghevin mengabaikan Melly. "Terus, Tristan bilang apa?" tanyanya, tetap pada Miko.
"Dia nyangka gue pacar Melly," kata Miko.
"Aduh, kenapa kak Miko nyebut-nyebut itu, sih? Gue kan jadi malu." kata Melly dalam hati.
Ghevin tampak berpikir keras. Dia mulai mondar-mandir dengan kening berkerut. Ketika akhirnya berhenti, dia mengamati Melly dan Miko secara bergantian.
"Oke," katanya. "Itu bagus. Mulai sekarang, lo berdua pacaran aja."
"APA...???" seru Melly dan Miko bersamaan.
Bukan hanya mereka berdua, bahkan teman-teman Ghevin yang lain juga berseru kaget. Mereka memang tidak bisa mendekati Melly, tapi juga tidak ingin Melly punya pacar.
"Jangan teriak-teriak gitu!" seru Ghevin.
"Ghev!" protes Melly dan Miko, lagi-lagi secara bersamaan.
Ghevin tetap tidak peduli. "Melly akan lebih aman kalo Tristan mengira dia pacar lo," katanya pada Miko. "Kalo lo berdua menyangkal, dia bisa curiga. Dia pasti akan mencari tahu tentang Melly dan itu akan membongkar identitasnya sebagai adik gue. Itu akan lebih berbahaya. Lo ngerti, kan?"
Miko mengangguk. Sebuah pemahaman memasuki benaknya. "Lo benar," katanya. "Gue akan ikutin perintah lo, asalkan Melly nggak keberatan."
Keduanya kini menghadap ke arah Melly. Melly menjadi salah tingkah. Wajahnya seketika memerah seperti kepiting rebus. Apalagi teman-teman Ghevin juga ikut memandang dirinya dengan tatapan yang seakan-akan menyuruhnya menolak.
"T-tapi kita nggak perlu sampe jadi pacar beneran, kan?" tanya Melly tergagap.
__ADS_1
"Gue heran. Gimana ide sebodoh itu bisa muncul dibenak dia? Dia kan tahu gue belom pernah pacaran." pikir Melly.
"Terserah," kata Ghevin sambil mengangkat bahu. "Kalo lo berdua cuma mau pura-pura pacaran juga nggak apa-apa."
Melly mendesah lega bersama teman-teman Ghevin. Kalau hanya sekadar pura-pura, mungkin Melly masih bisa menjalaninya. Diliriknya Miko sekilas, tampaknya dia juga setuju.
*****
Keesokan paginya, Miko menurunkan Melly di depan pintu gerbang sekolah. Karena kini mereka sudah resmi pura-pura berpacaran, dia juga yang bertugas mengantar jemput Melly ke sekolah setiap hari. Sikap mereka kini menjadi canggung. Ini semua gara-gara perintah Ghevin.
Ghevin berbohong pada Mama dan Papanya bahwa Melly pacaran dengan Miko. Dia sengaja mengatakan itu supaya Mama-Papanya tidak mengira dirinya enggan mengantar jemputnya ke sekolah lagi. Dengan licik dia mengorbankan Melly supaya tidak kehilangan mobil.
Miko berdeham. "Sepertinya kita harus tukeran nomor ponsel," cetusnya. Dan mereka pun kemudian saling bertukaran nomor ponsel.
"Akhirnya, gue tahu juga nomor ponsel kak Miko. Jadi, gue nggak perlu Ghevin lagi kalo mau menghubungi dia. Harusnya dari dulu aja gue minta nomor ponselnya." kata Melly dalam hati.
"Lo bisa telpon gue kalo Tristan ngeganggu, lo," kata Miko.
Melly pun mengangguk, meski dia tidak yakin akan meneleponnya kalau itu menyangkut soal Tristan.
"Maaf ya, Melly jadi ngerepotin kak Miko," katanya tidak enak hati.
"Nggak apa-apa kok," tanggap Miko. Dia tersenyum untuk meyakinkannya. "Udah, lo masuk sana. Belajar yang rajin, ya!"
Miko lantas menunggu Melly hingga Melly sampai ke pintu gerbang, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan sekolah itu.
__ADS_1
🌸Bersambung🌸
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.