Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 22


__ADS_3

Tristan tidak lagi mengungkit soal kejadian di perpustakaan kemarin. Mungkin dia menganggap pembicaraan mereka itu sudah selesai. Tapi itu justru hal bagus untuk Melly, jadi dia tidak perlu susah-susah bersembunyi di kolong meja lagi untuk menutupi rasa malunya.


"Kak Fabian sama Kak O'Niel berantem kenapa?" tanya Melly memulai topik baru.


Tristan berhenti mengunyah. Sepertinya dia tidak menyangka Melly akan bertanya soal itu.


"Fabian dapet contekan pas ulangan, tapi dia nggak ngasih tahu O'Niel," jawab Tristan. "O'Niel nggak senang, jadi dia mengonfrontasi Fabian terus akhirnya mereka berantem."


Melly berdecak. "Kirain kenapa," gumamnya.


"Kenapa lo nanyain mereka?" tanya Tristan.


"Sekarang kan mereka temen-temen gue juga," jawab Melly. "Gue selalu mesenin makanan buat mereka pas istirahat, nyampe-nyampe gue hafal kalo Kak Fabian itu sukanya siomay terus kalo Kak O'Niel sukanya batagor. Mereka berdua nggak pernah ganti menu."


"Gue nggak tahu kalo lo nganggep mereka sebagai teman," kata Tristan.


Melly menoleh ke anggota geng Tristan yang sedang asyik makan. "Beberapa dari mereka lumayan menyenangkan kok," katanya.


"Mereka emang menyenangkan," Tristan menyetujuinya.


Melly kembali fokus pada Tristan. "Udah berapa lama lo temenan sama mereka?" tanyanya.


"Dari kelas sepuluh," jawab Tristan. "Kita semua sama-sama dilatih buat jadi anggota geng sekolah ini."


"Gue kurang begitu ngerti sistemnya," kata Melly. "Jadi lo semua baru boleh jadi anggota geng kalo udah kelas dua belas?"

__ADS_1


"Ada juga yang dari kelas sebelas," kata Tristan. "Contohnya ya gue sama Robbin. Tapi waktu itu posisi gue sama Robbin masih sebagai anggota. Pas kita naik ke kelas dua belas, baru diangkat jadi ketua dan wakil ketua buat gantiin yang sebelumnya. Soalnya mereka udah pada lulus."


Sistem itu sama percis seperti di SMA Ganesha. Ghevin dan Miko juga sudah bergabung sebagai anggota geng sejak mereka kelas sebelas. Mereka juga baru diangkat sebagai ketua dan wakil ketua di kelas dua belas.


"Apa sih yang bikin lo tertarik bergabung dalam geng kayak begini?"


"Karena gue bisa ngelindungi sekolah ini," jawab Tristan, "dan gue juga suka kalo punya kekuasaan."


Melly bisa melihat itu. Dia tidak tahu apakah Tristan memang benar-benar melindungi sekolah ini, tapi yang jelas Tristan memang suka pamer kekuasaan.


"Apa mereka ngeganggu lo lagi?" tanya Tristan tiba-tiba.


Mulanya Melly tidak menangkap siapa yang Tristan maksud, tapi lalu dia tahu. "Maksud lo si Rambut Kribo sama si Kulit Hitam?"


Tristan tercengang, kemudian tertawa, benar-benar tertawa lepas. Baru kali ini Melly melihatnya tertawa seperti itu. Giliran Melly yang dibuat tercengang olehnya.


"Soalnya gue nggak tahu nama mereka," kata Melly. "Jadi gue manggil mereka dengan sebutan itu aja."


"Lo belom jawab pertanyaan gue," ulang Tristan.


"Oh... mereka nggak pernah gangguin gue lagi kok," jawab Melly. Mungkin mereka takut kali sama lo."


"Ya jelas lah...," kata Tristan menyombongkan diri.


Melly mendengus. "Apa hobi lo emang bikin orang takut?"

__ADS_1


"Yup," sahut Tristan. "Itu menguntungkan buat gue, karena dengan begitu mereka jadi hormat sama gue."


Tristan memang gila hormat, tapi sayangnya dia memakai cara yang salah untuk membuat orang hormat padanya.


Melihat mood Tristan yang sedang bagus, Melly berpikir mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya pada Tristan kapan hukumannya akan berakhir. Tristan mungkin akan berbaik hati padanya.


"Mmm... Kak Tristan," mulai Melly. "Sebenernya nyampe kapan lo mau ngejadiin gue sebagai pesuruh?"


Tristan tidak langsung menjawab. "Belum tahu," katanya akhirnya. "Kenapa? Lo udah nggak betah bareng gue terus?"


"Bukan soal nggak betah," kata Melly. "Tapi kan gue nggak mungkin terus-terusan begini. Bisa suram dong masa-masa SMA gue."


"Kalo gue udah lulus, ntar kan lo juga bakal bebas."


"Tetep aja, itu kan masih lama," tukas Melly.


"Kalo lo mau bebas dari hukuman, tentu aja akan ada konsekuensinya," kata Tristan.


"Konsekuensi apa?" tanya Melly takut-takut.


"Itu yang masih gue pikirin," jawab Tristan. "Ntar gue kasih tahu secepetnya kalo gue udah dapet jawabannya."


Melly curiga Tristan tidak akan benar-benar membebaskannya. Mungkin dia tidak akan menjadikan Melly sebagai pesuruhnya lagi, tapi sebagai gantinya, pasti ada sesuatu tidak menyenangkan yang sedang direncanakan olehnya.


🍆Bersambung🍆

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.


__ADS_2