
Tristan menurunkan Melly di depan rumah Rani dan langsung pergi. Rani tidak lagi bingung melihat Melly muncul tiba-tiba di rumahnya, tapi dia tahu ada yang tidak beres begitu melihat wajahnya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Rani.
"Kak Tristan nyamperin Kak Miko dan bilang sama dia kalo gue mau mengakhiri hubungan gue sama dia," cerita Melly.
"Wah, kacau!" tanggap Rani. "Terus, apa mereka berantem?"
Melly menggeleng. "Kak Miko kayaknya terlalu sedih buat berantem," katanya. Terbayang kembali kepedihan di wajah Miko ketika dia pergi meninggalkannya tadi.
"Apa lo nggak ngasih penjelasan sama Kak Miko?" tanya Rani.
"Gue udah nyuruh dia dateng langsung ke rumah gue," kata Melly. Melly pun teringat untuk segera pulang, karena Miko pasti langsung datang ke rumahnya sesuai pesan.
"Ran, lo bisa anter gue pulang?"
"Bisa kok," sahut Rani. "Bentar, gue keluarin motor gue dulu."
Benar saja, Miko memang sudah menunggu ketika Melly tiba di rumahnya. Dia sedang duduk di atas motor sambil setengah melamun. Rani sempat bertegur sapa dengannya sebelum pulang. Rani tahu Ghevin sedang tidak ada di rumah, jadi tidak ada alasan untuknya berlama-lama di rumah Melly.
"Masuk yuk, Kak," ajak Melly, sambil membuka pintu gerbang rumah.
Miko lantas mengikuti Melly masuk dan Melly mempersilakannya duduk di teras. Sejenak mereka duduk dalam diam. Melly sibuk memikirkan cara untuk memulai penjelasannya.
"Kak Tristan bilang mau ngebebasin Melly dari hukuman," kata Melly akhirnya. "Tapi syaratnya, Melly harus akhiri hubungan ini. Itu artinya kita putus."
"Dia bener-bener bakal ngebebasin lo?" tanya Miko.
"Dia bilang sih begitu," jawab Melly. "Tapi nggak tahu juga. Semoga aja dia serius sama kata-katanya."
"Baguslah kalo dia serius," gumam Miko.
Melly menoleh pada Miko. "Jadi Melly pengen Kak Miko tahu," katanya, "Melly melakukan ini bukan karena kejadian di kedai bakso itu. Sumpah, sama sekali nggak ada hubungannya dengan kejadian itu."
Miko mengangguk sambil tersenyum kecil. "Gue percaya sama lo," katanya.
Melly mendesah lega. "Melly bener-bener khawatir Kak Miko akan salah paham," lanjutnya. "Timing antara kejadian di kedai bakso itu sama permintaan Kak Tristan emang pas banget."
"Tapi, Mell," kata Miko tiba-tiba, "ada satu hal yang mau gue tanyain sama lo. Tapi gue mau lo jawab dengan jujur."
__ADS_1
"Wah, apa yang mau dia tanyain?"
"Kalo saat itu gue minta lo buat jadi pacar gue, apa lo mau nerima gue?"
"Oh. My. God. Kenapa dia nanyain itu? Justru itu pertanyaan yang paling gue hindari."
Melly mulai gelagapan. "A-apa pertanyaan itu h-harus dijawab?"
"Ya," tegas Miko. "Gue mau denger jawaban lo."
Melly sudah tahu jawaban atas pertanyaan itu, tapi dia kesulitan menemukan cara yang tepat untuk menyampaikannya.
"Melly..." Kata-katanya mengambang begitu saja di udara.
Miko mengerti dengan sendirinya. "Kayaknya lo bakal nolak gue, ya? tebaknya.
Melly menatapnya dengan tidak enak. "Sebenernya Melly juga suka sama Kak Miko." Melly mengakui. "Tapi… "
"Cuma sebatas teman?" sambung Miko.
Melly mengangguk pelan. "Iya," sahutnya. "Cuma sebatas teman."
"Ya ampun... kok gue jadi pengen nangis, ya? Gue emang cewek jahat. Gue nggak pantes disukai cowok sebaik dia."
"Maaf ya," gumam Melly. "Melly bener-bener berharap bisa ngebales perasaan Kak Miko."
Miko kembali mengangkat kepala. "Nggak apa-apa, Mell," katanya menenangkan Melly. "Lo kan nggak bisa maksain perasaan lo."
"Please... Kak Miko jangan sedih karena Melly ya," pintanya.
"Mungkin gue akan sedih selama beberapa hari," kata Miko setengah bercanda. "Tapi setelah itu gue akan baik-baik aja. Lo nggak usah khawatir."
Suara mesin mobil yang mendekat membuat mereka serentak menoleh ke luar pintu gerbang. Terlihat Ghevin sedang memarkir mobil.
"Kebetulan," cetus Miko. "Kita jadi bisa sekalian ngasih tahu dia."
"Ngasih tahu apa?" tanya Melly.
"Soal kita harus mengakhiri hubungan pura-pura kita," jawab Miko.
__ADS_1
"Oh."
Melly pikir Miko akan memberitahu Ghevin soal dia yang telah menolaknya. Melly tidak mau Ghevin tahu soal itu. Meskipun Melly tahu Ghevin pasti memihaknya, siapa tahu dia akan marah karena Melly telah menyakiti hati temannya.
Ghevin melangkah masuk dan mengedikkan kepala pada Miko. "Ngapain lo di sini?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Gue lagi ngomongin sesuatu sama Melly," jawab Miko. "Dan kayaknya lo juga harus tahu."
"Kalo ini soal cinta-cintaan, gue nggak kepengen tahu," kata Ghevin sambil bersiap-siap melangkah pergi.
Miko segera menahan langkah Ghevin. "Bukan, ini bukan soal itu," katanya. "Ini ada hubungannya sama Tristan."
Nama Tristan cukup untuk membuat Ghevin waspada bagai elang yang siap menerkam mangsa. Dia menarik tangan Melly secara tiba-tiba dan memeriksanya dari atas ke bawah.
"Apa Tristan nyakitin lo?" tanyanya pada Melly. "Bilang sama gue. Karena kalo dia berani nyentuh lo sedikit aja, gue bersumpah akan menguliti dia hidup-hidup.
Melly langsung membayangkan Tristan yang dikuliti dan jadi ngeri sendiri. Si Ghevin ini memang kadang-kadang mengingatkannya pada psikopat.
"Nggak kok," geleng Melly. Tristan memang menjadikan Melly sebagai pesuruhnya, tapi dia tidak pernah menyakiti Melly secara fisik. "Dia malah janji nggak akan ganggu gue lagi."
"Kenapa dia bisa janji begitu?" tanya Ghevin heran.
Melly bertukar pandang dengan Miko. Melly memberi isyarat dengan matanya bahwa Melly ingin Miko yang menyampaikannya pada Ghevin.
"Tristan nyuruh Melly untuk mengakhiri hubungannya dengan gue," jawab Miko, mewakili Melly.
Ghevin pun langsung murka. "Apa haknya nyuruh-nyuruh Melly kayak begitu?!" raungnya marah.
"Tapi itu kesempatan yang bagus buat Melly," sahut Miko. "Jadi, kita turutin permintaannya buat mengakhiri hubungan pura-pura kita."
"Kalo begitu kalian berdua bodoh!" bentak Ghevin. "Seharusnya kalian nggak membiarkan Tristan menguasai keadaan. Dia akan merasa menang karena telah berhasil membuat kalian nurut sama dia."
"Nggak apa-apa kalo dia merasa menang," kata Miko. "Yang penting dia tepati janjinya sama Melly untuk nggak menganggunya lagi."
Butuh waktu sampai akhirnya Ghevin bisa mengerti alasan mereka menuruti Tristan. Setelah kemarahan Ghevin reda, barulah Miko pamit pulang pada Melly. Melly mengantar Miko keluar pintu gerbang. Setelah memberi Melly satu senyuman terakhir, dia segera melaju pergi dengan motornya.
🍌Bersambung🍌
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.
__ADS_1