Gejolak Masa Muda

Gejolak Masa Muda
Bab 30


__ADS_3

Melly hanya memperhatikan Tristan memakan siomay. Ketika Tristan menyadari pandangan Melly, dia menunjuk ke piringnya. "Mau?" tawarnya.


Melly sampai tercengang. Tristan yang biasanya paling anti jika ada orang yang menyentuh makanan di piringnya, kini malah menawari Melly siomaynya? Apa bumi sudah berubah menjadi jajaran genjang?


"Kenapa?" tanya Tristan begitu melihat Melly hanya diam.


"Gue bener-bener boleh makan siomay lo?" Melly balik bertanya dengan ragu.


Tristan menyodorkan piringnya ke arah Melly. "Ambil aja," katanya.


Melly mengambil satu siomay dengan sendok yang ada di meja. Sebenarnya dia melakukan itu untuk mengecek reaksinya, karena siapa tahu Tristan hanya membohonginya. Tapi Tristan malah menawarinya lagi setelah Melly menelan siomay yang ada di mulutnya.


"Nggak usah," tolak Melly dengan halus. "Rani kan lagi beliin gue makanan."


Mungkin hanya Melly satu-satunya orang yang diizinkan menyentuh makanan di piringnya. Itu berarti dia menyukai Melly, kan? Bahkan Vionna saja sampai heran dengan tindakan Tristan itu. Dia mencegat Melly dan Rani yang sedang berjalan kembali ke kelas.


"Kok bisa sih Tristan ngizinin lo ngambil makanan di piringnya?" tanya Vionna.


Memang wajar dia bertanya begitu karena dia sendiri pernah diamuk Tristan karena menyentuh makanan cowok itu.


Melly mengangkat bahu. "Tanya aja sendiri sama orangnya."

__ADS_1


"Mungkin Kak Tristan begitu karena dia suka sama Melly," kata Rani tiba-tiba.


Mata Vionna langsung membesar karena syok. Melly buru-buru menyeret Rani pergi sebelum dia mengatakan hal yang lainnya. Dia hanya cekikikan sementara Melly mengomelinya.


Melly semakin diyakinkan akan perasaan Tristan padanya ketika melihat Tristan menunggunya di depan kelas pada jam pulang sekolah. Rani membiarkan mereka bicara berdua dan menunggu tidak jauh dari mereka.


"Malem ini gue mau ngajak lo jalan," kata Tristan. "Jadi kalo lo punya rencana lain, batalin aja. Gue jemput lo jam tujuh."


Dan tanpa menunggu jawaban Melly, dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Melly yang terbengong-bengong karena ajakan itu.


Rani langsung menghampirinya. "Kok ngobrolnya cepet banget, Mell?"


Melly tidak bisa menyahut. Bahkan sepertinya dia sudah kehilangan kemampuan untuk bicara.


Melly menatap Rani. "Ran," katanya akhirnya. "Gimana nih? Dia ngajak gue nge-date."


Teriakan Rani yang terdengar kemudian sepertinya bisa meruntuhkan gedung sekolah. Dia begitu heboh sampai-sampai tubuh Melly pun dia guncang-guncangkan.


"Beneran, Mell?" seru Rani.


Melly mengangguk. Dia sangat senang dengan ajakan kencan Tristan, tapi kesulitan untuk mengekspresikannya. Sungguh tidak disangka hubungannya dengan Tristan akan berkembang secepat ini.

__ADS_1


"Dia bakal jemput lo atau ngajak lo ketemuan di suatu tempat?"


"Dia bilang dia bakal jemput gue," sahut Melly, lalu tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Tristan pasti akan menjemputnya di rumah Rani karena setahunya di situlah rumah Melly.


"Gue mesti ke rumah lo sebelum jam tujuh malam ini."


Mata Rani berkilat licik. "Boleh aja," katanya. "Tapi ada syaratnya. Lo harus dateng dianter Kak Ghevin. Lo juga harus bisa nyuruh dia masuk ke rumah gue."


Melly menjitak kepala Rani. "Tega-teganya lo ngasih syarat kayak begitu padahal gue lagi kepepet," omelnya.


"Ya terserah sih," kata Rani enteng. "Kalo nggak mau juga nggak apa-apa, tapi lo nggak boleh minjem rumah gue."


Ingin rasanya Melly menarik lidahnya saat melihat Rani menjulurkan lidah padanya. Dia sengaja menggoda Melly. Dia tahu Melly pasti akan mengusahakannya karena Melly benar-benar membutuhkan rumahnya.


"Kalo Ghevin nggak mau gimana?"


"Itu sih derita lo," kata Rani kejam.


Melly memelototi Rani yang sedang cengar-cengir penuh kemenangan. Untung saja Melly sayang padanya, sehingga dia masih bisa menahan hasrat untuk menyambitnya dengan sepatu.


🍏Bersambung🍏

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.


__ADS_2