
Melly mengambil cap cai dan mencobanya. Amanda terus memandanginya seakan ingin melihat reaksi dari Melly.
"Gimana?" tanya Amanda. "Enak, nggak?"
Melly mengangguk. "Iya," katanya. "Ini enak banget."
Amanda tampak puas mendengar jawaban Melly. Meskipun kebanyakan orang akan menjawab seperti dirinya jika ditanyakan hal yang sama oleh orang yang sudah capek-capek memasak untuk mereka, tapi Melly benar-benar bicara jujur. Cap cai yang dimasak Amanda memang enak. Dia pun mencoba makanan yang lain dan semua memang tak bercela.
"Lo bener-bener pinter masak, ya!" puji Melly pada Amanda.
"Oh ya?" tanggap Amanda. "Terima kasih."
"Sekali-sekali lo harus ngajarin gue masak," pinta Melly. "Soalnya gue bener-bener nggak bisa masak."
"Boleh," kata Amanda. "Makanya lo sering-sering maen ke sini. Ntar gue ajarin masak deh."
Melly malu-malu. "Gue sih mau-mau aja sering maen ke sini," katanya, "asal Kak Tristan ngajak gue."
"Dia pasti akan ngajak lo lagi," kata Amanda yakin. Lalu dia merendahkan suaranya seakan-akan sedang memberitahukan rahasia penting. "Lo tahu nggak, lo itu satu-satunya cewek yang pernah diajak Tristan maen ke rumah. Bukan cuma itu, lo juga satu-satunya cewek yang pernah dia kenalin ke gue. Kayaknya lo cewek yang spesial buat dia."
Melly terpana. "Gue bener-bener... satu-satunya? Dia nggak pernah ngenalin cewek mana pun ke lo sebelumnya?"
"Nggak pernah," jawab Amanda. "Makanya gue tahu, cewek yang mau Tristan kenalin ke gue ini pasti cewak yang bener-bener dia cintai."
Bahkan Amanda pun tahu kalau Tristan mencintai Melly. Kini Melly hanya tinggal mendengar pengakuan langsung dari Tristan.
Lalu apa yang akan terjadi setelah itu? Apa akhirnya Melly bisa bahagia dengan pacar pertamanya?
__ADS_1
"Lo juga cinta sama Tristan kan, Mell?" tanya Amanda tiba-tiba.
Melly langsung menutupi salah tingkahnya dengan memasukkan nasi banyak-banyak ke mulutnya. Pipinya menggembung dan dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab.
Amanda tertawa melihat tingkahnya. "Tristan bener," katanya. "Lo emang lucu."
Ternyata tanpa harus mengeluarkan bakat lawaknya, Tristan sudah menganggap Melly lucu. Melly pun berusaha menelan gumpalan nasi yang ada di mulut dengan susah payah.
"Lo nggak usah nyembunyiin perasaan lo, Mell," kata Amanda. "Gue tahu kok. Gue bisa ngelihat dari cara lo memandangnya."
Setelah mulutnya kosong, Melly mulai meneguk air dengan cepat, sampai-sampai menetes ke dagu. Dia usap dagunya dan berharap Amanda sudah melupakan pertanyaannya, tapi ternyata dia belum menyerah.
"Gimana?" kejarnya. "Gue bener, nggak? Lo emang cinta sama Tristan, kan?" Nadanya berkomplot dan dia bahkan sampai mengedipkan mata untuk menggoda Melly.
Melly tidak bisa berbohong padanya. Lagi pula, untuk apa dia menyembunyikan perasaannya dari Amanda? Toh dia sudah tahu dan sepertinya dia tidak keberatan.
"Mmm... emang bener sih," gumam Melly, lalu dia mulai cengengesan sendiri.
Amanda bertepuk tangan gembira. "Waaahhh!" serunya. "Kalian berdua pasti akan jadi pasangan yang menggemaskan."
"Lo setuju kan kalo gue sama Kak Tristan?" tanya Melly memastikan. Memang Tristan belum meminta Melly jadi pacarnya, tapi tidak ada salahnya jika Melly meminta persetujuan dari adiknya terlebih dahulu.
"Pasti," sahut Amanda cepat. "Lo cewek yang tepat buat Tristan. Rasanya nggak ada cewek yang lebih baik lagi daripada lo."
Pujiannya terdengar agak berlebihan, tapi Melly senang karena Amanda begitu mendukung hubungannya dengan Tristan.
Melly jadi mulai penasaran dengan kehidupan cinta Amanda. "Lo sendiri gimana? Udah punya pacar?" selidiknya.
__ADS_1
Raut wajah Amanda perlahan berubah sedih. Melly jadi menyesal karena telah seenaknya bertanya seperti itu. Apa dia sedih begitu karena Ghevin, atau adakah cowok lain?
"Gue nggak punya pacar," jawab Amanda. "Seenggaknya, udah nggak lagi."
"Emang apa yang terjadi?" tanya Melly. Lalu, sadar kalau dia sudah semakin keterlaluan, dia buru-buru menambahkan, "Tapi itu juga kalo lo nggak keberatan untuk cerita."
"Santai aja," kata Amanda. "Lagian ini bukan rahasia kok. Banyak orang yang tahu gue masih patah hati sama mantan pacar gue yang terakhir. Sama kayak Tristan, dia juga ketua geng di sekolahnya."
Sepertinya memang Ghevin, kecuali kalau Amanda memiliki mantan pacar lain yang juga seorang ketua geng. Sebenarnya Melly ingin menanyakan nama mantan pacarnya untuk memastikan, tapi dia tidak ingin membuat Amanda curiga.
"Gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia," cerita Amanda. "Dia orangnya asyik terus dia juga ngerti apa yang gue mau. Gue ngerasa cocok sama dia. Tapi ternyata dia musuh terbesar Tristan. Begitu dia tahu kalo gue adiknya Tristan, dia langsung mencampakkan gue begitu aja."
Tanpa perlu menanyakan namanya lagi, Melly yakin mantan pacar yang dimaksud Amanda adalah Ghevin. Kalau bukan Ghevin, siapa lagi musuh terbesar Tristan?
"Gue berusaha menghubungi dia setelah itu," lanjut Amanda. "Tapi dia nggak pernah ngangkat telepon gue atau ngebales Whatsapp gue. Kalo gue nemuin dia, dia pura-pura nggak kenal gue. Dia bahkan sengaja mesra-mesraan sama cewek lain di depan gue."
Melly menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Sungguh dia tidak mengerti kenapa Ghevin bisa sekejam itu pada cewek sebaik Amanda.
"Hubungan gue sama dia cuma bertahan satu bulan," kata Amanda. "Tapi itu satu bulan terbaik dalam hidup gue."
"Apa lo masih mencintainya sampai sekarang?" tanya Melly ingin tahu.
Amanda mendesah. "Ya," katanya. Dia menatap Melly sambil tersenyum sedih. "Gue bodoh banget, kan?"
"Katanya, orang yang lagi jatuh cinta kan emang bodoh." ujar Melly.
Amanda mengeluarkan tawa seperti orang tersedak. Melihat matanya yang berkaca-kaca, sepertinya dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis.
__ADS_1
🍖Bersambung🍗
Jangan lupa Like, Komen, Rate, dan Vote. Biar Author makin SEMANGAT 💖💕Thx.